Sedang Membaca
Kiai Zawawi Imron Ungkap Rasa Iman adalah Sumber Kenikmatan Hidup
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kiai Zawawi Imron Ungkap Rasa Iman adalah Sumber Kenikmatan Hidup

Humor D. Zawawi Imron tentang Jangkrik ABRI

Iman yang dimiliki seorang Muslim bisa menjadi sarana dan sumber lahirnya aneka macam kenikmatan. Nikmat adalah rasa nyaman yang tumbuh dalam hati, sehingga seseorang dapat merasakan hidup itu menjadi nikmat, indah bermanfaat, hidup itu menjadi aman, hidup itu menjadi santun dan kita menjadi senang.

Kiai yang juga budayawan asal Sumenep Madura, KH D Zawawi Imron mengatakan hal itu saat mengisi Pesantren Digital Majelis Telkomsel Taqwa beberapa waktu lalu.

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah swt yakin bahwa yang menciptakan alam semesta itu tidak lain adalah Allah swt. Mereka juga beriman bumi yang dihuni manusia, jika dilihat dari ujung dunia, kalau ada yang namanya ujung dunia itu, bumi akan menjadi titik yang sangat kecil sekali.

“Kemudian saya, bapak modearator, semuanya akan menjadi kecil, yang besar hanyalah Allah swt. Allahuakbar allahuakbar allahuakbar,” kata Kiai Zawawi.

​​​​​​Kiai Zawawi Imron mengingatkan, jika meneliti keadaan alam semesta ini, pasti manusia akan sadar bahwa alam semesta itu ada yang menciptakan, ada yang menjaga detak jantung di malam hari ketika tidur. “Kita tidak perlu meminta tolong kepada sapa-siapa agar jantung kita tetap berdetak dan berdegup, tetapi ada yang menjaganya. Kalau kita sadar, detak jantung ini ada yang mengaturanya, ada yang mendetakkan arloji detak jantung kita ini, pasti kita akan merasa dekat kepada Allah swt,” ungkapnya.

Baca juga:  Kiai Musthofa Aqil Siroj Ungkap Alasan Umat Islam Merasa Bahagia karena Ramadan

Lalu bagaimana tanda atau bukti bahwa seorang Muslim telah sungguh-sungguh beriman? Kata Kiai Zawawi, orang yang beriman kepada Allah, akan tampil dengan selalu akan menyenangkan orang lain. Orang yang baik hatinya, bersih hatinya, hatinya dekat dengan Allah swt sehingga hatinya merasa aman, tenteram dan santun. Tenteramnya hati juga akan berpengaruh kepada akhlak serta tata krama, dan tingkah lakunya.

“Bukan hanya senang sendirian tapi dia akan menjadi orang yang akan menyenangkan orang lain. Sebab kalau orang beriman dan hatinya menjadi sumur kenikmatan, dia pasti akan menghormati orang lain, dan orang yang menghormati orang lain itu tidak akan cemberut kepada orang lain, justru akan bersedekah kepada orang lain dengan senyuman,” ujarnya.

Hal itu, kata Kiai Zawawi sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Senyummu terhadap saudaramu, senyummu terhadap temanmu, kalau guru senyummu terhadap muridmu, kalau suami senyumu terhadap istrimu, istri senyummu terhadap suamimu adalah sedekah,” ujarnya.

Menjadi orang yang beriman, dengan demikian, juga harus disyukuri, sebab karena dengan tersenyum saja sudah disebut sedekah oleh Rasulullah saw. “Karena itu supaya menjadi orang yang nikmat dalam beriman, banyak-banyaklah dalam bersedekah kepada orang yang kita jumpai dengan senyuman yang menenteramkan, senyuman yang indah,” imbuh Kiai Zawawi.

Sebaliknya, ekspresi cemberut adalah sebuah tanda seseorang yang tidak senang kepada orang lain. Hal itu berbeda dengan orang yang beriman lalu dapat menikmati hidup. Golongan orang yang merasakan nikmatnya iman akan selalu merasa bersaudara dengan orang lain.

Baca juga:  Tadarus Seni Ramadan 2020: Merajut Hati Lewat Seni

“Karena merasa bersaudara dengan orang lain ada komunikasi lewat pandangan mata kita, atau tepatnya melalui bibir kita yang mekar laksan bunga, jadi bibir yang mekar laksana bunga itulah senyuman. Senyuman yang di haturkan kepada orang lain dengan hati yang bersih, dengan hati yang ikhlas akan menjadi komunikasi yang indah dengan orang yang memandangnya. Dan tentu saja orang lain yang kita beri sedekah dengan senyuman beliau juga akan tersenyum kepada kita,” beber tokoh yang dikenal dengan sebutan ‘Celurit Emas’.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top