Sedang Membaca
Kiai Musthofa Aqil Siroj: Terimalah Aturan Allah dengan Iman
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kiai Musthofa Aqil Siroj: Terimalah Aturan Allah dengan Iman

Img 20210415 101535 802

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Aqil Siroj menegaskan bahwa syariat atau aturan Allah hampir tidak ada yang cocok dengan fisik dan akal. Karena itu, mesti diterima dengan iman.

Salah satunya adalah puasa, syariat Allah yang tidak cocok dengan akal dan fisik. Sebab manusia diberi perut dan tenggorokan, tetapi tidak boleh makan dan minum. Hal ini tentu saja bertentangan dengan akal.

“Syariat Allah itu hampir tidak ada yang cocok dengan fisik dan akal. Oleh karena aturan Allah itu tidak cocok, maka ketika ada aturan Allah hendaknya jangan diterima dengan akal dan fisik, tetapi terimalah dengan iman,” tutur Kiai Musthofa secara virtual dalam Pesantren Ramadhan Majelis Telkomsel Taqwa (MTT), pada Rabu (5/5).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Jika iman sudah menerima, katanya, apa pun bentuk aturan syariat Allah akan diterima dengan sangat gembira dan berusaha untuk merasa cocok. Maka, seperti puasa harus diterima dengan iman, jangan diterima dengan akal.

Kiai Musthofa kemudian berkisah tentang perseteruan antara akal dan iman yang pernah dialami Sayyidina Umar bin Khattab ketika sedang mengikuti Nabi Muhammad yang sedang melakukan thawaf.

Saat sedang thawaf, Nabi Muhammad mencium hajar aswad. Melihat itu, Sayyidina Umar merasa heran dengan perilaku yang mencium batu. Padahal menurut Umar, secara logika, batu hanyalah batu yang tidak memiliki manfaat sama sekali.

Baca juga:  Brand Ekonomi Syariah Perlu Terus Digaungkan

“Kata Sahabat Umar, batu tidak tidak ada manfaatnya. Karena yang bisa membuat panjang umur, membuat kaya, membuat orang sakit hanya Allah, bukan batu. Batu tidak bisa berbuat apa-apa,” kisah Kiai Musthofa.

“Ini artinya, sahabat Umar menerima perilaku Nabi dengan akal. Jelas tidak cocok. Hebatnya adalah membuat seakan-akan di sini ada perkelahian antara akal dan iman,” imbuh Pengasuh Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat ini.

Setelah itu, Sayyidina Umar mendengar shautul iman atau suara keimanan, dan terjadilah dialog di antara keduanya. Suara keimanan itu kemudian memberikan cara untuk beriman kepada Allah.

“Ada suara keimanan, wahai Umar apakah engkau beriman kepada Allah? Umar menjawab, iya. Lantas berkata lagi, bagaimana cara kamu beriman kepada Allah? Sahabat Umar diam, ketika diam itulah, suara keimanan berkata lagi, inilah cara iman,” ujar Kiai Musthofa.

Cara iman yang dimaksud itu termaktub dalam Al-Quran, surat Ali Imran ayat 31. Allah berfirman, qul inkuntum tuhibbunallaha fattabi’uni yahbib kumullah (katakanlah, Muhammad, apabila kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku).

“Syaratnya (beriman kepada Allah) cuma satu yaitu ikuti saya. Tirulah saya, mutlak, cocok atau tidak cocok, ikuti saya. Ini adalah suara keimanan. Setelah itu, Sahabat Umar lantas mendekat kepada hajar aswad,” ucap Kiai Musthofa.

Baca juga:  Afkaaruna Islamic School Selenggarakan Lomba Pidato Bahasa Inggris Berhadiah 85 juta

Menurutnya, Sayyidina Umar hebat karena tidak langsung mencium tetapi terlebih dulu berkata kepada hajar aswad itu bahwa apa yang dilakukannya itu semata-mata karena kecintaan kepada Nabi Muhammad. Sebab, secara akal, batu tidak ada manfaatnya.

“Kalau saja saya tidak langsung melihat sendiri Nabi Muhammad mencium kamu, maka saya tidak mungkin aku mencium kamu. Tetapi berhubung saya melihat sendiri Nabi Muhammad mencium, sementara syarat mutlak iman kepada Allah harus mengikuti Nabi Muhammad, maka saya akan mengikuti Nabi Muhammad mencium kamu,” kata Kiai Musthofa, mengungkap pernyataan Sayyidina Umar kepada hajar aswad.

Sikap yang diambil Sayyidina Umar merupakan pelajaran yang agung. Jika akal dan iman tidak cocok atau berselisih, Kiai Musthofa menegaskan agar mampu memenangkan iman dalam perselisihan itu.

“Kita garis bawahi bahwa Sahabat Umar mencium hajar aswad bukan karena cocok atau sesuai dengan akal, tetapi semata mengikuti Rasulullah. Ini sebagai konsekuensi iman,” pungkas Kiai Musthofa.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top