Sedang Membaca
Akademi Jakarta Gelar “STA Memorial Lecture” JAKARTA 
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Akademi Jakarta Gelar “STA Memorial Lecture” JAKARTA 

Whatsapp Image 2021 10 21 At 17.50.06

Untuk mengenang dan menghormati Sutan Takdir Alisjahbana (STA), sastrawan, filosof, dan futurolog Indonesia, Akademi Jakarta akan menggelar STA Memorial Lecture, yang akan disampaikan oleh Prof. Dr. Musdah Mulia, secara virtual, Kamis – 21 Oktober 2021 pukul 15.30 WIB sampai selesai.

Kegiatan ini digelar bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta dan akan disiarkan secara langsung dan streaming, melalui kanal YouTube.com Dewan Kesenian Jakarta.

Pada tahun 1968, ketika Akademi Jakarta dikukuhkan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, STA (1908-1994) merupakan salah seorang anggota Akademi Jakarta, bersama-sama dengan Mochtar Lubis, Soedjatmoko, Asrul Sani, Rusli, Popo Iskandar, Mohammad Said Reksohadiprodjo, D. Djajakusuma, dan Affandi.

Ketua Akademi Jakarta, Seno Gumira Ajidarma menjelaskan, memorial lecture atau kuliah kenangan ini, selain untuk mengenang dan menghormati STA, juga sebagai keberlanjutan tradisi Akademi Jakarta, dengan menghadirkan pembicara yang mempunyai pemikiran segar tentang kebudayaan. Musdah Mulia akan menyampaikan kuliah bertajuk, “Penguatan Literasi Agama, Mewujudkan Indonesia Maju.”

Ia dipilih sebagai pembicara oleh para anggota Akademi Jakarta, dalam suatu rapat pleno, yang biasa diselenggarakan setiap hari Senin petang. Para anggota Akademi Jakarta memandang, Musdah Mulia seorang akademisi di bidangnya yang mempunyai kapasitas dan kompetensi keilmuan yang sesuai dengan spirit dan pemikiran STA, sekaligus memantik penyegaran pemikiran kebudayaan bagi khalayak.

Baca juga:  Foto Masjid Nusantara Tarik Atensi Publik Nijmegen Belanda

Perempuan cendekia yang aktif di Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Women Shura Council – New York, ini adalah profesor riset bidang Lektur Keagamaan Kementerian Agama Republik Indonesia. Selain aktif sebagai dosen pasca sarjana di Universitas Islam Negeri Jakarta dan dosen luar biasa di beberapa perguruan tinggi, bersama Gus Dur dan Djohan Effendi dan sejumlah pemuka agama, mendirikan ICRP (Indonesian Conference on Religions for Peace) sebuah organisasi lintas iman yang aktif mempromosikan perdamaian melalui dialog agama. Sejak 2005 menjadi Ketua Umum ICRP.

Lahir di Bone, Sulawesi Selatan – 2 Maret 1958, Musdah Mulia mengenyam pendidikan dasar di Pesantren As’adiyah, Sulawesi Selatan. Setelah menyelesaikan kesarjanaan di IAIN Alauddin – Makassar, ia melanjutkan studi S2 dan S3 di IAIN Syarief Hidayatullah, Jakarta. Kala itu (1997) ia merupakan perempuan pertama yang meraih gelar doktor dalam bidang pemikiran politik Islam dengan disertasi bertajuk Negara Islam, hasil penelitiannya di Kairo, Mesir. Disertasinya ini diterbitkan menjadi buku oleh penerbit Paramadina (2000) dan penerbit Kata Kita (2010).

Dua tahun setelah meraih gelar doktor, ia dikukuhkan LIPI sebagai perempuan pertama yang menyandang jabatan Profesor Riset bidang Lektur Keagamaan di Kementerian Agama (1999) dengan pidato pengukuhan: Potret Perempuan dalam Lektur Agama (Rekonstruksi Pemikiran Islam Menuju Masyarakat Egaliter dan Demokratis).

Baca juga:  Secara Astronomis, Tidak Tampak Hilal Awal Syawal pada 11 Mei

Musdah Mulia memperkaya ilmunya dalam sejumlah pendidikan non formal, antara lain: Pendidikan Civil Society di Universitas Melbourne, Australia (1998); Pendidikan HAM di Universitas Chulalongkorn, Thailand (2000); Pendidikan Advokasi Penegakan HAM dan Demokrasi di Amerika Serikat (2000); Pendidikan Kepemimpinan di Universitas George Mason, Virginia, Amerika Serikat (2001); Pendidikan Pelatih HAM di Universitas Lund, Swedia (2001); Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Perempuan di Dhaka, Bangladesh (2002). Visiting Professor di EHESS, Perancis (2006); International Leadership Visitor Program, USA, Washington (2007).

Tahun 2015, ia mendirikan Yayasan Mulia Raya, bersama suaminya Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, guru besar Bahasa Arab di UIN Jakarta. Yayasan ini memusatkan aktivitasnya di bidang pendidikan masyarakat, khususnya kalangan milenial, terutama dalam penguatan literasi agama serta literasi kebudayaan dan keindonesiaan.

Ia juga dikenal karena “Gagasan Muslimah Reformis,” untuk mengedukasi perempuan, agar memiliki sikap kritis, integritas, spiritualitas dan kreativitas yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Sebagai aktivis pergerakan kemanusiaan, ia sangat vokal dalam menyuarakan keadilan, demokrasi, pluralisme dan kesetaraan gender.

Pemikiran segar dan kritisnya tercermin dalam berbagai karyanya, antara lain: Muslimah Reformis: Perempuan Pembaru Keagamaan (2005); Perempuan dan Politik (2005); Islam and Violence Against Women (2006); Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender (2007); Islam dan Hak Asasi Manusia (2010); Muslimah Sejati (2011); Membangun Surga di Bumi: Kiat-Kiat Membina Keluarga Ideal dalam Islam (2011); Mengupas Seksualitas (2015), dan Ensiklopedia Muslimah Reformis: PokokPokok Pemikiran untuk Reinterpretasi dan Aksi (2020).

Baca juga:  Islam Berkebudayanan, Doa untuk KH. Maimoen Zubair

Ia menerima sejumlah penghargaan nasional dan internasional, antara lain dari International Women of Courage Award dari Pemerintah Amerika Serikat (2007) atas kegigihannya memperjuangkan demokrasi; Yap Thiam Hien Human Rights Award (2008) atas ketekunannya membela keadilan bagi kaum rentan dan minoritas di Indonesia; Plangi Tribute to Women dari Kantor Berita Antara (2009) karena kegigihannya mengembangkan literasi damai; International Women of the Year 2009 dari Pemerintah Italia atas kiprahnya memperjuangkan hak-hak perempuan dan kelompok minoritas. Ia menerima NABIL Award (2012) karena gigih menyuarakan prinsip kebhinekaan dan kebangsaan. Selain itu, ia juga menerima penghargaan dari Himpunan Indonesia untuk Ilmu-Ilmu Sosial (2013) sebagai ilmuwan yang melahirkan karya-karya berpengaruh dalam bidang ilmu sosial di Indonesia.

The Ambassador of Global Harmony (2014) dari Anand Ashram Foundation karena aktif memperjuangkan pluralisme dan hak kebebasan beragama di Indonesia. Humanity Award (2019) dari International Forum for Peace and Human Rights atas kiprahnya merajut perdamaian melalui upaya-upaya penegakan HAM di Indonesia.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top