Ummu Ziyad Al-Asyja’iyyah, Emak-Emak Pejuang Agama

Nur Hasan

Ummu Ziyad adalah salah seorang Shahabiyah Rasulullah saw, yang berasal dari Bani ash-Shada’i yang tinggal di Yaman. Beliau merupakan satu di antara para perempuan, yang ikut dalam pertempuran Khaibar. Yaitu sebuah pertempuran antara umat Islam yang dipimpin oleh Rasulullah saw, dengan orang-orang Yahudi dari Bani Quraidhoh di daerah Khaibar.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i, bahwasanya suatu ketika Ummu Ziyad akan keluar bersama pasukan Rasulullah saw dalam perang Khaibar, dengan enam wanita lainnya. Ketika Rasulullah saw mengetahui hal itu, beliau mendatangi mereka dengan raut muka yang marah. Kemudian beliau berkata, “Atas izin siapa kalian keluar untuk berperang?”

Mereka menjawab, “Kami keluar dengan membawa obat-obatan untuk mengobati mereka yang terluka, mencabut panah dari tubuh mereka, memberi makan dan minum, serta menyiapkan makan mereka dan ikut berjuang sekuat tenaga kami di jalan Allah Swt.”

Kemudian Rasulullah saw menjawab. “Kalau begitu, berangkatlah !”

Setelah berhasil menaklukan Khaibar, Rasulullah saw kemudian membagikan kurma kepada para pejuang wanita sebagaimana beliau membagikan kepada prajurit laki-laki. Di masa Rasulullah saw, para perempuan tidak hanya berperan dalam bidang dakwah saja, tetapi juga ada yang ikut berperan dalam pertempuran.

Perempuan mempunyai peranan penting dalam kebangkitan Islam, baik di zaman Rasulullah saw maupun di zaman sekarang, walaupun tidak berada di garda paling depan seperti kaum laki-laki. Tetapi mereka mempunyai peran, yang sesuai dengan kapasitas yang mereka punyai, seperti menjadi perawat para prajurit yang terluka dan lain sebagainya.

Keinginan kuat para perempuan yang ingin ikut berjuang bersama Rasulullah saw, tidak dianggap sebelah mata oleh beliau. Sehingga Rasulullah saw pun membolehkan mereka untuk ikut berperang, dan kemudian memberikan penghargaan kepada para perempuan tersebut, setelah berhasil menaklukan Khaibar.

Baca Juga

Seringkali kaum perempuan dianggap sebelah mata, dan menjadi barang rebutan oleh para penyeru kejahatan di muka bumi ini. Padahal jika dilihat kembali dalam sejarah peradaban Islam sejak masa Rasulullah saw, banyak para wanita yang ikut berjuang dalam mendakwahkan Islam dan mempunyai peranan penting di dalamnya.

Bagi kaum perempuan. berjuang di jalan Allah swt tidak harus berada di garda terdepan, tetapi cukup berperan sesuai kapasitas yang dimiliki sebagaimana yang dicontohkan oleh Ummu Ziyad. Dan sudah selayaknya dalam konteks saat ini, perempuan ikut berperan sesuai kapasits yang dimilikinya dalam mendakwahkan Islam yang Rahmatan lil Alamin.

Tentu saja, ketika mereka berkiprah tetap tidak boleh melalaikan tugas utama mereka, yaitu sebagai seorang istri dari suaminya dan seorang ibu dari anak-anaknya. Karena perjuangan dan pengorbanan seorang perempuan baik itu untuk keluarga maupun masyarakat, tidak ada yang sia-sia apapun kontribusinya.

Lihat Komentar (0)

Komentari