Sedang Membaca
Polemik Ulama dan Khalifah (2): Sa’id bin Jabir dan Gubernur Mekkah era Khalifah Malik bin Marwan
Nur Hasan
Penulis Kolom

Mahasiswa Islamic Studies International University of Africa, Republic Sudan, 2017. Sekarang tinggal di Pati, Jawa Tengah.

Polemik Ulama dan Khalifah (2): Sa’id bin Jabir dan Gubernur Mekkah era Khalifah Malik bin Marwan

Whatsapp Image 2021 02 09 At 21.12.59 (1)

Sa’id bin Jabir adalah orang kalangan Tabi’in yang menguasai banyak ilmu tentang talak, haji, halal-haram dan tafsir. Dia merupakan sosok yang menentang Khalifah Malik bin Marwan, karena berbagai penyelewangan dalam menjalankan pemerintahannya.

Konfrontasi antara Sa’id bin Jabir dengan penguasa adalah saat dirinya berpolemik dengan Khalid bin Abdullah al-Qisry yang merupakan Gubernur Makkah al-Mukarramah. Khalid sendiri aslinya sudah mengetahui keberadaan Jabir di wilayahnya, sehingga dia menangkap dan memenjarakannya.

Buku Kiai Said

Alasan penangkapan terhadap Sa’id bin Jabi tidak lain karena Khalid ingin bebas darinya, sebab dia tahu bahwa Sa’id bin Jabir adalah orang yang pandai bicara, hatinya terjaga, cerdas dan kuat dalam mengemukakan argumentasi sehingga membuat lawan-lawannya tumbang.

Selain itu, Sa’id bin Jabir bukanlah sosok yang takut dengan penguasa, yang sering melakukan kekejaman dalam mempertahankan keyakinannya. Namun Sa’id bin Jabir tidak peduli dengan akibat apapun yang akan diterimanya. Karena takut akan terjadi perdebatan, dan persaingan yang tidak terjamin kemenangannya, dan takut orang orang Mekkah yang taat kepada penguasa terpengaruh Sa’id bin Jabir, maka Ismail bin Wasith al-Bajly menyeret Sa’id bin Jabir kepada al-Hajjaj bin Yusuf.

Dalam pertemuan tersebut, terjadi sebuah perdebatan dan adu pemikiran antara mereka berdua sebagaimana dijelaskan oleh Abdul Aziz al-Badri dalam Al-Islam baina al-Ulama wa al-Hukkam berikut;

Ketika bertemu Sa’id bin Jabir, Al-Hajjaj langsung bertanya, “Siapa namamu?”

“Sa’id bin Jabir.” Jawab Sa’id.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kemudian Al-Hajjaj mengejeknya dengan berkata, “Tetapi sebenarnya kamu adalah Syaqi bin Kasir (orang sengsara anak orang binasa). ”

Mendengar perkataan Al-Hajjaj, Sa’id pun menjawab, “Ibuku lebih tahu tentang namaku daripada kamu.”

Baca juga:  Keajaiban Banten (I): Karamah Maulana Hasanuddin M. Ishom el-Saha

Al-Hajjaj pun langsung menimpali, “Ibumu celaka dan kamu pun celaka.”

Mendengar ucapan tersebut, Said langsung menyaut, “Allah lebih mengetahui daripada kamu.”

Belum puas dengan kata-katanya, Al-Hajjaj kembali berkata, “Kamu pasti hidup di dunia seperti dalam api neraka yang menyala nyala.”

Dengan tenang, Sa’id menimpali perkataan tersebut, “Seandainya saya tahu bahwa hal itu ada di tanganmu, tentu saya sudah menjadikanmu Tuhan.”

Kemudian Al-Hajjaj bertanya perihal Nabi Muhammad Saw, “Apa pendapatmu tentang Muhammad?”

Sa’id pun menjawab, “Nabi pembawa rahmat dan imam petunjuk.”

Dan Al-Hajjaj kembali bertanya, “Apa pendapatmu tentang Ali bin Abi Thalib, apakah dia di surga atau di neraka?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Sa’id menjawab, “Seandainya saya masuk dan mengetahui siapa di dalamnya, tentu saya tahu penghuninya.”

Al-Hajjaj pun belum berhenti untuk bertanya, dan dia kembali bertanya, “Apa pendapatmu tentang khalifah?”

Dengan berani Sa’id menjawab, “Saya bukan wakil mereka.”

Perdebatan tersebut berujuang bahwa Al-Hajjaj meminta Sa’id bin Jabir mau menghormati, dan mengakui pemimpinnya yaitu Khalifah Malik bin Marwan. Namun Sa’id bin Jabir tidak mau melakukan hal tersebut.

Karena dengan ancaman, Al-Hajjaj masih tidak mampu menundukkan Sa’id bin Jabir. Akhirnya dia mencari cara lain, siapa tahu bisa mendapatkan apa yang diinginkan oleh Sa’id bin Jabir. Sa’id bin Jabir kemudian diambilkan emas, permata, yaqut dan benda itu semua kemudian ditaruh didepannya.

Melihat itu semua, Sa’id bin Jabir pun berkata, “Jika kamu mengumpulkan ini semua untuk mengatasi dirimu dari ketakutan di hari kiamat, maka itu baik, tetapi jika tidak, hanya dengan satu goncangan dapat memisahkan ibu susu dari susuannya. Tidak ada baiknya keduniawian, kecuali keduniawan yang diperoleh dengan cara yang baik bersih.” Dan ternyata Al-Hajjaj masih tidak mampu merayu Sa’id bin Jabir dengan harta. Akhirnya cara  yang lainnya kembali digunakan untuk membuat Sa’id mau mengakui kepemimpinan pimpinannya.

Baca juga:  Inkuisisi, Ketika Yahudi dan Muslim terusir dari Andalusia

Al-Hajjaj kembali memanggil Sa’id, namun kini dia sambil membawa tongkat dan seruling. Ketika tongkat dipukulkan dan seruling ditiup, Sa’id menangis. Al-Hajjaj kemudian bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menangis?”

Sa’id bin Jabir kemudian menjawab, “Kesedihan. Karena tiupan seruling itu mengingatkanku pada hari agung ketika sangkala ditiupkan, tongkat itu berasal dari pohon yang dipotong dengan cara yang tidak benar, dan rebana itu berasal dari kambing yang akan dibangkitkan pada hari kiamat.”

Ternyata cara ini pun tidak bisa membuat Sa’id bin Jabir tunduk, justru dia malah sedih dan ingat dengan hari kebangkitan.

Setelah berbagai upaya gagal membuat Sa’id bin Jabir luluh, Al-Hajjaj pun semakin marah. Sambil memandang Sa’id bin Jabir, dia berkata, “Celaka kamu ya Sa’id.”

“Tidak ada kata celaka bagi orang yang selamat dari neraka dan masuk surga.”

Al-Hajjaj yang semakin marah langsung berkata, “Pilihlah wahai Sa’id, cara apa yang terbaik untuk membunuhmu?”

“Pilih sendiri! Demi Allah! Jika kamu membunuhku, maka kamu juga akan dibunuh oleh Allah di akhirat.”

Al-Hajjaj lalu memberi tawaran kepada Sa’id, “Apakah kamu ingin agar aku mengampunimu?”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mendapat tawaran itu, Sa’id malah menjawab, “Ampunan berasal dari Allah, sedangkan kamu tidak berhak apa-apa atasnya.”

Mendengar jawaban Sa’id, Al-Hajjaj semakin marah dan jengkel. Dia sudah tidak kuat menahan puncak amarahnya karena mendapatkan jawaban-jawaban dari Sa’id. Dia kemudian memerintahkan untuk membunuh Sa’id. Sa’id kemudian dibawa keluar dan menjauh dari Al-Hajjaj, namun ketika dibawa keluar dia malah tertawa terbahak-bahak. Pengawal yang membawanya pun melaporkan hal tersebut kepada Al-Hajjaj, hingga akhirnya Al-Hajjaj meminta untuk membawa kembali Sa’id.

Baca juga:  Ibnu Khaldun dan Puing-Puing Alcazar

Setelah Sa’id dibawa kembali, al-Hajjaj langsung bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa?”

Sa’id menjawab, “Saya heran dengan  keberanianmu kepada Allah. Padahal Allah telah berbuat baik kepadamu.”

Mendengar perkataan tersebut, Al-Hajjaj kemudian menyuruh untuk menelentangkan Sa’id sambil berkata, “Bunuhlah!”

Sa’id kemudian berkata, “Saya hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan tulus dan saya bukan termasuk orang orang musyrik.”

“Hadapkanlah dia ke selain kiblat!”

Ketika Sa’id dihadapkan ke arah selain kiblat, dia kemudian membaca surah al-Baqarah ayat 115. Dan Al-Hajjaj yang meilhat hal itu pun langsung berkata, “Sungkurkan wajahnya ke tanah!”

Namun ketika wajah Sa’id disungkurkan ke tanah, Sa’id kembali membaca ayat Al-Qur’an dan kali ini yang dibaca adalah surah Thaaha ayat 55.

Al-Hajjaj pun semakin geram dengan perilaku Sa’id, hingga akhirnya dia berkata, “Sembelihlah dia!”

Mendengar ucapan al-Hajjaj seperti itu, Sa’id kemudian membaca dua kalimat syahadat dan berkata, “Bunuhlah aku hingga Engkau membiarkannya berbuat sewenang wenang kepada siapapun sesudahku.”

Lalu dipotonglah leher Sa’id bin Jabir sedikit demi sedikit, sedangkan lisannya terus berucap dzikir kepada Allah.

Konfrontasi antara Sa’id bin Jabir dengan penguasa pada saat itu, telah membuat nyawa Sa’id hilang. Dan hal tersebut dilatarbelakangi keberanian Sa’id yang menentang penguasa yang sewenang-wenang dan mementingkan kelompoknya sendiri.

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top