Sedang Membaca
Penerbitan Era Kolonial: dari Buku Fasolatan hingga Injil Pegon
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Penerbitan Era Kolonial: dari Buku Fasolatan hingga Injil Pegon

Nur Ahmad

“Apa yang membawa dampak baik bagi penerbitan buku, berdampak baik pula bagi pembangunan peradaban”, Jason Epstein (1928-sekarang).

Namun, membangun peradaban siapa?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di kepulauan Nusantara, pengenalan teknologi percetakan menandai hadirnya kekuatan kolonial. Kekuatan yang pada banyak kasus juga membawa misi penyebaran agama. Jauh pada 1629, atas dukungan pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, Alkitab terjemahan bahasa Melayu telah terbit (Proudfoot 1993, 9).

Bagi pihak kolonial penting bahwa orang-orang pribumi yang mayoritas muslim diajak membaca Injil Johannes, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Matheus.

Gerakan penginjilan semakin marak melalui hadirnya mesin-mesin cetak di Nusantara pada abad ke-19. Seperti jamur di musim hujan, bermunculan penerbit-penerbit dari banyak organisasi misionaris; London Missionary Society di Malaka (1815), Penang dan Singapura (1819), dan Jakarta (1822); The Baptist Mission di Bengkulu (1818); dan The American Presbyterians di Singapura (1834) (Proudfoot 1993, 9).

Pada 1853, kaum terjajah memberikan tanggapan cerdas. Ajaran agama disebarkan melalui budaya penerbitan buku. Budaya menulis tangan (manuskrip) masih berlangsung, namun usaha percetakan harus dilahirkan.

Baca juga:

Meskipun hanya dengan mesin cetak batu, buku kisah lahir Nabi saw. berjudul Maulid Syaraful Anam diterbitkan di Surabaya (Kaptein 1993). Buku setebal 126 halaman disertai terjemahan khas pesantren. Ia mengajak masyarakat ingat tentang kisah perjalanan hidup sang Nabi saw. melalui dendang. Sekaligus ia mendobrak kesadaran umat Islam yang berada di bawah bimbingan sang Nabi.

Baca juga:  Kitab Ulama Nusantara dalam Pameran Akbar di Maroko

Salam atasmu Muhammad perhiasan segala nabi
Salam atasmu Muhammad lebih taat daripada segala yang taat
Salam atasmu Muhammad terlebih bening daripada segala yang ashfiya’

Dendang ini masih hidup di masyarakat hingga kini. Ia mengajarkan tentang kedudukan nabi yang tinggi di antara nabi-nabi lainnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

***

Tahun demi tahun berlalu sejak masa itu. Perebutan pengaruh melalui penerbitan buku menjadi semakin membara. Penerbit-penerbit misionaris semakin jauh masuk ke dalam kebudayaan-kebudayaan besar di Nusantara.

Pada 1893 terbit Injil Suci Mirit Saking Panganggitipun Lukas dalam bahasa Jawa. Aksara pegon yang diduga sebagai aksara khusus santri justru menjadi wadahnya. Penerjemahnya adalah seorang bernama P. Jansz.

Pengalih aksara Pegonnya adalah seorang pribumi Jawa. Tak disebutkan namanya. Mungkin karena ia tak ingin dikenal sebagai penulis Injil Pegon. Atau penerbitnya, British and Foreign Bible Society, tak ingin memperkenalkannya. Dan bukan tidak mungkin seorang santri yang dipaksa menuliskannya.

Butuh waktu tiga tahun untuk terbit edisi keduanya pada 1896. Jumlah penerbitan dua kali edisi Injil Lukas ini adalah 4.000 kopi! Serial kitab Injil beraksara Pegon muncul deras setelahnya: Injil Suci Mirit Saking Panganggitipun Matai (1897, 1900), Lalampahanipun Para Rasul Suci (1898, 1904), Injil Suci Mirit Saking Panganggitipun Markus (1899, 1905), dan Injil Suci Mirit Saking Panganggitipun Jochanan (1900, 1903) (Proudfoot 1993, 706).

Baca juga:  Islamofobia di Eropa Meluas, NU di Belanda Berikhtiar Meluruskan

Tidak semua kita peroleh informasi jumlah kopi per edisinya. Namun dari edisi yang didapatkan informasi jumlah kopinya, angka 2000 kopi muncul. Jika tiap edisi dicetak sebanyak 2000 kopi, maka total kopian Injil dari 10 edisi, dari 1893 hingga 1905, dalam beragam versinya yang beraksara Pegon, dalam bahasa Jawa, mencapai 20.000 kopi!

Jumlah ini seakan bercerita kepada kita bahwa masyarakat terdidik Jawa masa itu membaca buku melalui aksara Pegon.

***

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tanggapan dari penerbit-penerbit pribumi tidak kurang kuatnya. Meski tertinggal dalam hal teknologi percetakan yang masih menggunakan cetak batu, jumlah buku dari penerbitan pribumi tidak kalah dari penerbitan misionaris.

Dengan digawangi oleh penerbit-penerbit dari keluarga Jawa di Singapura, penerbitan buku-buku keislaman meraih puncaknya pada 1890-an. Mereka adalah Haji Muhammad Said bin Haji Muhammad Arsyad dari Semarang dengan menerbitkan 200 edisi buku, Haji Muhammad Siraj bin Haji Muhammad Salih dari Rembang dengan menerbitkan 80 edisi buku, dan Haji Muhammad Taib bin Haji Muhammad Zain dari Pati dengan menerbitkan 53 edisi buku (Proudfoot 1993, 32).

Buku paling laris pada waktu masa itu adalah Fasolatan karya Kiai Soleh Darat dari Semarang. Sebuah buku panduan salat yang ditulis dengan aksara Pegon berbahasa Jawa. Fasolatan di masa kini mengingatkan masyarakat Jawa akan masa kanak-kanak. Masa ketika bersekolah sore di masjid atau musala. Fasolatan bagi mereka adalah hafalan surat-surat pendek Alquran, praktik wudu dan salat dengan rigid, dan doa untuk orang tua setelahnya.

Baca juga:  Catatan Perjalanan: Foto-foto Masjid Nusantara Terpajang 10 Hari di Belanda

Kitab ini pertama kali dicetak oleh penerbit Haji Muhammad Amin bin Abdullah pada 1897. Jumlah kopi tercetak dari edisi pertama ini tidak diketahui. Namun pasti cukup banyak hingga meyakinkan penerbit Kadhi Abdul Karim Bombay untuk menerbitkannya lagi pada 1906. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, 10.000 kopi! Bahkan pada tahun yang sama, penerbit Karimi Press di Bombay India juga menerbitkannya dengan jumlah kopian 10.000, meski jumlah halaman lebih tebal (Proudfoot 1993, 259).

Kitab ini masih terus memberikan kontribusinya mengajari masyarakat salat secara lahir batin. Ia dicetak hingga hari ini melalui penerbit Toha Putra Semarang.

Lebih penting dari pada bagian yang lahiriah adalah yang batiniah dari salat. Di dalamnya Kiai Soleh menuliskan panduan yang terjemahannya:

“Pastikan tempat salatmu dan juga hatimu telah bersih dari najis. Setelah itu, hadapkanlah dadamu secara lahir dan hadapkanlah hatimu secara rohaniah ke arah kiblat.”

Kita diingatkan bahwa urusan salat adalah urusan perbaikan hati. Urusan hamba dengan Tuhannya. Kiai Soleh mengingatkan:

“Dalam keadaan seperti ini, berniatlah mengikuti perintah Allah swt. sesuai dengan contoh yang diberikan Baginda Rasulullah saw. Berniatlah mencari rida Allah swt.”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

***
Pada abad ke-19 penerbitan buku milik pribumi Nusantara adalah medan perebutan pengaruh dengan penerbit misionaris yang didukung kolonial. Penerbitan buku kita adalah usaha kembar pembangunan kebudayaan Nusantara dalam bingkai keislaman.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top