Mahasiswi UIN Tulungagung.

Humor Gus Baha: Cara Menjadi Orang Alim

Gus Baha Sumber Masjid Ulil Albab Uii

Dilansir dari cuplikan video ketika Gus Baha mengisi acara pengajian. Beliau ditanya tentang bagaimana dulu beliau belajar sehingga menjadi orang yang alim? Sudah tidak diragukan lagi, Gus Baha adalah kyai yang ahli tasawuf dan tafsir. Beliau selalu menjelaskan dengan rinci dan sederhana, sehingga ketika mendengar penjelasan beliau, seakan-akan semua manusia berhak masuk surga. Entah kaya, miskin, pintar maupun bodoh.

Ketika ditanya dengan pertanyaan seperti itu, maka jawaban beliau seperti ini: “Andaikan pertanyaan itu ditujukan untuk Mbah Maimoen Zubair, maka jawabannya pasti ‘gurune sopo?’ (gurunya siapa dulu?)” Jika pertanyaan itu ditujukan untuk mbah saya (Mbah Abdul Aziz) maka jawabnya pasti ‘wong putuku kok’ (orang dia ini cucu saya)”. Jawaban beliau ini membuat para jamaah tertawa.

Kemudian beliau menjelaskan ijazah dari Mbah Maimoen Zubair, “awakmu nek kepengen ngalim iku sinauo sek sakdurunge ngaji’ (kamu kalau pengen pintar/alim itu belajar sendiri dulu sebelum belajar di sekolah atau majelis lainnya) semisal ketika ngaji Mbah Maimoen, baca dulu kitabnya, misalnya kitab kuning itu kamu baca rafa’ sedangkan Mbah Maimoen baca jer, berarti kamu bodoh tulen. Karena teori nahwu itu sudah ada dan jelas, jadi kalau dibaca rafa’ ya pasti rafa’.

“Ya kan ada cerita begitu, ada orang yang ndak tahu, kemudian tanya saya, ‘Gus, maknanya lam tardiman (لم تر داما) itu apa?’ ketika dicari di kamus kok tidak ada, ternyata ketika dibaca Mbah Maimoen, bukan lam tardiman melainkan lam taraa daaman (لَمْ تَرَ دَامًا) . Padahal makna aslinya adalah lam taraa (ora ningali sopo mar’ah) daaman (ing getih).

Baca juga:  Dua Humor Azan

Ya itu misal kamu cari seumur hidup ya tidak bakal ketemu. Cara belajar itu seperti itu, misal kemiripannya 50% ya berarti separuh alim, kalau 75% ya berarti agak alim, nanti kalau kemiripannya 100% dan berkali-kali maka pasti anak ini sudah alim.

Dengan cara belajar seperti itu, yakni agar bisa menyimak kyainya. ‘Lah kalo sama-sama salahnya? Gus Baha tertawa kemudian menjawab “makanya terkadang kyai itu ngalah (mengalah) ini ceritanya Mbah Maimoen, ketika santri disuruh membaca makna kitabnya dengan kalimat Arab سَرَقَ  (nyolong sopo wong) البَيْضَةَ (ing anduk) gurunya berkata ‘loh kok anduk (handuk)?’ pas diteliti lagi, makna aslinya adalah endok (telur) karena kalau huruf pegon anduk dan endok adalah tulisan yang sama (اندوك).

Kemudian santrinya bertanya lagi “memangnya kalau mencuri handuk halal pak kyai?” gurunya menjawab ‘ya tidak’ ‘ya sudah kalau begitu ya sama saja’ mencuri handuk hukumnya haram, mencuri telur ya haram”.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top