Sedang Membaca
Belajar dari Teladan Ekonomi Buddha
Penulis Kolom

Kolumnis dan peneliti, pengurus Lajnah Ta'lif wan Nasyr (LTN) NU Semarang

Belajar dari Teladan Ekonomi Buddha

Sungguh menarik, Buddha yang selama ini dipersepsikan sebagai antidunia, namun dari segi ekonomi, Buddha sangat sukses mengembangkan ekonomi secara mikro maupun makro.

Jangan-jangan terjadi kesesatan logika (logical fallacy) tipe post hoc ergo propter hoc: orang secara gegabah menghubungkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan sebagai rangkaian sebab-akibat. Atau, kesesatan kasus dramatis (fallacy of dramatic instances): segelintir kasus digeneralisasi terlalu jauh.

Namun, mengingat tidak hanya satu-dua negara Buddhis berkinerja ekonomi mengesankan, maka ini bukan kesesatan kasus dramatis. Bukan juga post hoc ergo propter hoc karena Buddhisme memang memiliki butir-butir ajaran yang relevan bagi pengembangan sistem ekonomi Buddhis. Jadi, jika ajaran Islam mampu membangun ekonomi syariah, ajaran Buddhisme pun punya potensi merintis ekonominya sendiri.

Kita bisa merujuk ajaran pendeta Buddha Zen, Suzuki Shoshan (1579-1655). Dalam Shimin nichiyo (Kehidupan Sehari-hari bagi Empat Golongan: Prajurit, Petani, Pengrajin, dan Pedagang), Shoshan mengisahkan pertanyaan seorang petani: mengapa ia harus bekerja keras di ladang sehingga waktunya berkurang untuk menjalankan hidup secara Buddhis dan meraih pahala bagi kehidupan akhirat? Menurut sang petani, tidaklah adil jika seseorang harus membuang waktu untuk kerja fisik dan mencari nafkah, padahal di akhirat nanti dia akan hidup sengsara.

Menjawab pertanyaan ini, Shoshan mengatakan, “Kerja bertani adalah praktik Buddha.‘ Maksudnya, memisahkan waktu kerja dan waktu doa adalah sebuah kesalahan. Sebab, kerja bertani itu sendiri adalah amal saleh. Kerja bertani atau mencari nafkah dengan cara apa pun yang baik berarti membebaskan manusia dari susahnya mencari penghidupan. Sehingga, ketika penghidupan manusia sudah cukup, dia dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang dan baik. Jadi, berbekal niat yang benar, segala kerja seseorang adalah amal Buddhis.

Baca juga:  Hari Santri: Bagaimana Hubungan NU dan Muhammadiyah?

Lebih jauh lagi, Buddhisme bahkan lebih memuliakan petani ketimbang pendeta karena pendeta itu tidak bekerja sedikit pun. Ini mengingatkan kita pada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW dalam Islam yang mengatakan bahwa Nabi lebih memuliakan seseorang yang bekerja mencari nafkah buat keluarganya ketimbang saudaranya yang beribadah terus tapi tidak bekerja sama sekali. Juga, hadis lain berbunyi:

“Pedagang yang jujur akan duduk berdampingan dengan para nabi, pahlawan, dan orang-orang yang adil di hari kiamat.”

Dengan kata lain, sendi utama etos kerja Buddha adalah “kerja itu ibadah untuk meraih bun (pahala) sebagai modal mencapai nirwana sesudah mati.”

Konkretnya, barangsiapa bekerja giat dan meraih sukses ekonomi di dunia berarti dia sudah menabung bun untuk mencapai kebahagiaan akhirat berupa terputusnya samsara (siklus kelahiran kembali manusia). Pendek kata, sukses duniawi mencerminkan sukses ukhrawi (dunia setelah mati). Kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan amal saleh Buddhisme Zen.

Ini diperkuat Niels Mulder dalam Pandangan Hidup Orang Thai (Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional, 1981) yang mengatakan: Buddhisme mewajibkan penganutnya bertanggungjawab bagi kesejahteraannya sendiri, keluarganya, dan agama. Dengan memenuhi pelbagai tanggung jawab itu lewat kerja keras dan efektif di dunia, seorang Buddhis akan mendapat bun (pahala). Singkat kata, ajaran Buddhisme menekankan kerja keras, rasionalitas, otonomi individu, dan tanggung jawab bagi masyarakat.

Baca juga:  Kita Sebelum Dilahirkan

Kita lihat betapa serupa ajaran Buddhisme Zen dengan etika Protestan yang melahirkan kapitalisme. Sebagaimana dijelaskan Max Weber (1864-1920) dalam The Protestant Ethics (1904), protestantisme meyakini bahwa keberhasilan dalam urusan ekonomi adalah cerminan terwujudnya kehendak Tuhan. Karena itu, bekerja keras, menabung, dan berhemat dikategorikan sebagai ibadah etis dan moral yang berguna bagi sesama.

Etika itu juga “mengajarkan” nasib seseorang ditentukan di dunia. Mereka yang sukses akan menikmati hidup abadi. Maka itu, orang Amerika lalu bekerja keras agar sukses karena tidak mau dinilai gagal yang berarti jauh dari hidup abadi. Itulah sebabnya Amerika maju, demikian Weber.

Akhirul kalam, ajaran Buddisme ternyata demikian rasional dan pragmatis. Bahkan, ajaran Buddisme bisa menjadi energi spiritual besar yang melahirkan sistem ekonomi serupa kapitalisme. Bedanya, jika kapitalisme yang bersendikan individualitas itu kerap kebablasan mengekploitasi lingkungan, ajaran Buddha memiliki kekhasan ramah lingkungan.

EF Schumacher (1911-1977) dalam Small is Beautiful (1973) mengatakan, Buddhisme menganjurkan sikap nonkekerasan (kasus Burma tentu saja keluar dari ajaran ini. Mereka telah mengorupsi ajaran Buddha yang sesungguhnya. Akhirnya terjadi tragedi) terhadap semua makhluk hidup, khususnya pohon. Karena itu, pemeluk Buddha diwajibkan menanam sebatang pohon setiap beberapa tahun sekali dan merawatnya hingga masak. Pengamalan ajaran ini membuahkan perekonomian yang kaya sumberdaya alam terbarukan (renewable resources) sekaligus menjalankan praktik pembangunan lestari (sustainable development) yang hemat energi.

Baca juga:  Kritik Agama di Ruang Publik

Apabila perekonomian suatu negara dan aktor-aktor ekonomi di dalamnya mengamalkan etos kerja Buddhisme Zen ini, bayangkan betapa dahsyatnya prestasi ekonomi negara itu! Sebagaimana telah dibuktikan oleh Korea Selatan, China, Mongolia, Thailand, dan Myanmar.

Semoga ini bisa menjadi contoh-contoh teladan yang baik bagi kita semua dalam menghadapi potensi bahaya di mana saja dan kapan saja.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (1)
  • Bro aku mau tanya apakah manusia yg membuat kerusakan, ulah kita, karena berdoa minta kekayaan tapi keserakahan neolib dan kapitalisme menjadi fitnah kita di akhirat? Manusia berjuang hidup dan survive sesuai standar di gerakan ego dan ambisi. Manusia terancam oleh teknologi dan ketidakberdayan kita dlm menghapdapi perbuatan extremis. Jika ini kehendak dan takdirnya, knp kita selalu di salahkan. Contoh era pasca WW2 Amerika mejadi hegomoni dan sekarang Cina pengaruhnya yg membabi buta. Apakah manusia juga akan disalahkan? Antar kafir yg lebih unggul dalam ekonomi dan teknologi ini. Kesimpulannya, apakah manusia hanya menjadi kelinci percobaan. Dan saya di sini bahwa manusia makhluk netral dan random atas takdir, talenta dan ucapan perbuatan kita sendiri. Sehingga kita hanya makluk lemah dan Tuhan adalah Tuhan memiliki standar ganda antara absolut dan rahmat itu sendiri

Komentari

Scroll To Top