Sedang Membaca
Wajah Islam Indonesia dalam Tradisi Megengan di Desa Geneng Ngawi
Muzaiyanah
Penulis Kolom

Alumni UIN Raden Mas Said Surakarta.

Wajah Islam Indonesia dalam Tradisi Megengan di Desa Geneng Ngawi

Makan bersama

Salah satu tradisi Jawa dalam menyambut Bulan Puasa adalah Megengan. Megengan artinya menahan, selama puasa selain menahan diri dari makan, minum, tidak berhubungan suami istri, juga menahan diri dari nafsu, tidak marah, tidak berbicara kasar, tidak mendiskriminasi sosial, dan yang terpenting adalah menjaga sesama manusia dengan saling memanusiakan.

Megengan biasanya membuat makanan yang diwadahi ceting untuk langsung dibagikan tetangga/ ditaruh di masjid untuk dimakan bersama, ini mengartikan sebagai sedekah dan mempererat silaturahmi antar sesama.

Di dalam Megengan ada kue apem. Masyarakat terutama di Jawa tentu tidak asing dengan makanan tradisional yang satu ini. Apem dalam istilah bahasa Arab disebut “afwan/ afuwwun” yang artinya ampunan dikutip dari radioedukasi.kemendikbud.go.id. Kue ini adalah simbol permohonan maaf. Kue apem ini tak pernah ketinggalan di acara slametan, tahlilan, ruwahan.

Perjalanan panjang kue apem ini diawali dari sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa. Dikutip dari brilio.net Ki Ageng Gribik dan Sunan Geseng murid dari Sunan Kalijaga yang waktu itu pulang ibadah haji melihat penduduk desa Jatinom, Klaten kelaparan. Lalu beliau membuat kue apem ini untuk dibagikan ke penduduk desa yang kelaparan dengan membaca kalimat “Ya Qawiyyu” yang artinya Allah Maha Kuat. Tradisi tersebut menyebar menyeluruh ke tanah Jawa dan hingga sekarang, terutama di Desa Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur masih lestari.

Baca juga:  Islam di Banjar (1): Ritual, Makhluk Gaib hingga Tingkah Generasi Milenial

Seringkali kue apem ini disandingkan dengan “Puro“. “Puro” yaitu makanan tradisional Jawa yang dibungkus daun pisang berbentuk segitiga, terbuat dari tepung beras di dalamnya berisi gula merah. “Puro” berarti “Nyuwun Pangapuro” dalam artian meminta maaf sebagai sesama manusia karena manusia tidak luput dari kesalahan.

Selama Ramadhan ada namanya Tarawih. Tarawih ini juga banyak versi ada 11 rokaat dan 23 rokaat. Di kampung halamanku dengan 23 rokaat dan Imam yang mengimami sangat cepat setengah jam sudah selesai, hal-hal seperti itu juga menjadi tradisi karena orang Jawa mudah mengantuk kalau tidak cepat nanti ketiduran.

Mendengar dari ceramah Gus Muwafiq di kanal youtube. Di Indonesia muncul tradisi imsak dikarenakan matahari yang muncul di Indonesia tidak langsung kelihatan, ditutupi oleh pohon-pohon. Puasa di Indonesia jadi indah, di Arab disana tempatnya di Padang Pasir jadi tidak ada orang mau makan pasir. karena di Indonesia banyak ditumbuhi buah-buah yang kalau orang keluar rumah langsung lihat buah-buah. Maka para kyainya berkata ”daripada kamu gak khusyuk mending tidur”. Dikasih dalil” naumu shoimin ibadatun” tidurnya orang puasa itu ibadah. Karena tidur terus akhirnya kyainya sepi, pergi ke pasar dicarikan mercon, makanya jangan heran kalo Bulan Puasa anak-anak kecil bermain mercon/ kembang api.

Baca juga:  Memperingati Hari Asyura di Teheran

Puasa ini ibadah yang tidak hilang di waktu dan zaman kapanpun. Orang-orang terdahulu juga berpuasa. Nabi, ulama terdahulu bahkan semua agama pun kenal puasa. Orang Hindu mengenal puasa dengan nama “upawasa“. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak menyentuh perempuan. Upawasa dilakukan sebelum moksa, moksa itu mati terbaik menurut Hindu, hilang raga dan sukmanya hanya bisa dilakukan oleh orang Brahmana.

Orang Jawa hanya mengenal istilah upawasa, ketika dikenalkan Syekh Subakir tentang Bulan Romadhon kok sama dengan upawasa makanya orang Jawa menyebutnya “poso“. Orang Budha  ketika ingin menuju nirwana juga puasa di bawah pohon bodi itu waktunya tidak terbatas sampai mendapat pencerahan. Bagi seluruh Dunia dan Nusantara, puasa itu menempati sejarah tersendiri. Hampir seluruh cerita besar di awali dari puasa. Rosululloh mendapatkan Wahyu setelah puasa, naik turun gunung di Gua Hiro hampir dilakukan selama 15 tahun. Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani mendapatkan makrifatulloh itu puasa selama 25 tahun di Padang Pasir dibimbing Syeikh Mubarok Al Madzumi. Di Jawa Sunan Kalijaga itu rajanya brandal bisa jadi wali karena puasa 3 tahun. Mengutip dari Gua Dur bahwa: “orang berpuasa pada hakekatnya membuat sebuah pekerjaan yang besar, bagaimana mengokohkan ikatan-ikatan sosial kita sebagai manusia”.

Baca juga:  Keajaiban Banten (VII): Misteri Debus, Seni Teatrikal Sufi Nusantara

Sumbangsih kearifan lokal memberikan kebermanfaatan bagi kehidupan manusia secara hakikat dengan filsafat untuk mencari kebenaran. Kebenaran yang sesungguhnya berasal dari nilai budaya yang luhur, yang digunakan untuk menata kehidupan nilai-nilai asli Indonesia, terbukti mampu mengakomodir semua kepentingan kelompok menjadi perpaduan yang serasi dan harmonis. Nilai-nilai tersebut merupakan kearifan lokal yang dapat membawa Indonesia ke puncak kejayaan.

Sejarah telah membuktikan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang disegani dan dikagumi oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Dalam hal ini, kearifan budaya dan tradisi merupakan wadah untuk membentuk persatuan yang utuh. Nilai-nilai luhur dan kearifan lokal mampu menyatukan keanekaragaman budaya, tradisi dan adat istiadat dalam kaitan bersama saling menghormati dan menghargai

Budaya, tradisi, dan agama memang tak bisa lepas dari kehidupan kita. Relevansi tradisi budaya lokal dengan Islam Nusantara sangat berpengaruh. Peran Walisanga dalam mengislamkan masyarakat Nusantara memakai metode pendekatan budaya, seperti kalimo shodo menjadi kalimat syahadat, sekaten menjadi syahadatain, slametan atau kenduri menjadi sedekah atau tahlilan. Di tengah ketegangan membawa angin segar untuk meredam ketegangan, maka Islam Nusantara yang rahmatan lil alamin dan mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal dan universal bisa dijadikan ruang untuk menyelesaikan konflik dan menebar damai di Indonesia.

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
6
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top