Sedang Membaca
Mengapa Orang Jawa Melarang Resepsi Nikah di Bulan Sura?
Muzaiyanah
Penulis Kolom

Alumni UIN Raden Mas Said Surakarta.

Mengapa Orang Jawa Melarang Resepsi Nikah di Bulan Sura?

Dian Sastro Kenang Pernikahannya 20150518 005 Rita

Kita tentu sering mendengar bahwa, orang Islam dilarang melakukan kegiatan yang sifatnya hingar bingar di bulan Sura, seperti mantu (menggelar resepsi pernikahan), tidak boleh keluar rumah untuk bersenang-senang, tidak boleh pindah rumah, tidak boleh membangun rumah, serta tidak melakukan kegiatan lain yang sifatnya bersuka ria.

Ini yang kadang orang bikin salah paham, yang lebih parah ada yang bilang musyrik dengan adanya larangan tersebut. Beberapa orang yang nekat melanggar larangan, akan terjadi nasib sial atau nasib lain yang tidak diinginkan, seperti menikah di bulan Sura dikhawatirkan rumah tangganya akan hancur berantakan dan sebagainya.

Ironisnya, anggapan tersebut sudah mengakar kuat dalam masyarakat, khususnya di Jawa, dengan menganggap bulan Sura adalah bulan keramat, sehingga tak jarang banyak orang pergi ke tempat spiritual untuk diberi kekuatan magis. Terjadilah pro-kontra terhadap perspektif masyarakat.

Istilah Sura berasal dari ‘Asyura (bahasa Arab) yang artinya kesepuluh (maksudnya tanggal 10 bulan Sura). Istilah ini kemudian dijadikan sebagai bulan permulaan hitungan dalam takwim Jawa. Orang Jawa menyebutnya Sura. Sementara dalam Islam, istilah Sura adalah bulan Muharram, bulan pertama dalam Kalender Hijriyah. Muharam adalah bulan yang telah lama dikenal sejak pra Islam dan termasuk bulan haram yang dimuliakan Allah. Kemudian Khalifah Umar Bin Khattab menjadikan penanggalan Hijriyah (Islam) diawali dari bulan Muharram.

Menikah memang ibadah, dan suatu perbuatan baik dan tidak terbatas larangan melakukannya di hari dan waktu manapun. Tapi menggelar resepsi terutama orang Jawa pasti ingin pernikahannya ramai dan bisa dinikmati dengan suka ria. Hal tersebut dihindari masyarakat Jawa ketika menggelar resepsi di bulan Sura, lantaran bertepatan dengan bulan duka nya Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi ketika masih hidup, di bulan Sura selalu teringat cucu-cucunya habis dipenggal secara biadab saat itu. Sebuah adab dan penghormatan kita kepada Nabi dengan tidak berpesta di bulan Sura.

Sejarah Bulan Duka

Mengenai sejarah yang saya dengar dari ceramah Gus Muwafiq, datangnya Islam sendiri adalah dari Mekkah pindah ke Madinah kemudian pindah ke Basrah. Nabi Muhammad hanya sampai Madinah, sementara yang membawa Islam dari Madinah ke Basroh adalah Sayyidina Ali. Sayyidina Ali menikah dengan Fatimah Putri Nabi dan mendapatkan keturunan bernama Hasan dan Husein. Sayyidina Ali bersama Hasan-Husein pergi ke Basroh. Basroh adalah negara dalam cakupan negara Persia yang masyarakatnya tidak Islam dan penyembah api. Kegagahan Ali tersebar hingga ke raja Persia dan membuat raja Rostum menjadi tertarik dengan putranya Sayyidina Ali dan akhirnya dinikahkan dengan Sayyidina Husein. Kemudian raja tersebut menjadi Islam dan tidak lagi menyembah api.

Baca juga:  Gemerlap Imlek dari Kampung Ketandan Yogyakarta

Wajah baru Islam tumbuh di Persia. Saat itu, terjadi konflik politik di Madinah antara bani Hasyim dan bani Umayyah hingga Sayyidina Usman terbunuh sebagai khalifah ketiga, karena Sayyidina Usman terbunuh Sayyidina Ali pulang. Pada waktu itu, terjadi kesepakatan baiat Sayyidina Ali menggantikan Sayyidina Usman, dan konflik pun belum reda hingga Sayyidina Ali terbunuh ditangan Abdurrahman bin Muljam. Akhirnya Sayyidina Hasan dan Husein yang berada di Basroh pulang hendak menyusul Ayahnya Sayyidina Ali yang sudah wafat.

Dalam perjalanan ke Madinah, terjadi gejolak permasalahan. Saat meninggalnya Ali, kekuasaan pindah ke tangan Muawiyah dan Muawiyah memasrahkan kekuasaannya ke putranya bernama Yazid bin Muawiyah, sehingga kedatangan Hasan dan Husein membuat Yazid merasa tersingkir dan tersaingi. Hal tersebut mengakibatkan Sayyidina Hasan terbunuh keracunan di Madinah.

Sementara Husein yang masih hidup ingin pulang bersama keluarga beserta cucu-cucunya dan mengikhlaskan kekuasannya di tangan Yazid. Karena Husein dan keluarga niat mau pulang sehingga tidak membawa pasukan perang, akan tetapi Yazid dengan amarahnya yang makin memanas mengirim pasukan perang sehingga terjadilah pertumpahan darah dan pasukan Yazid melakukan pembantaian terhadap cucu-cucu Rosululloh di padang Karbala tanggal 9 Asyura, saat itulah dunia berduka pada bulan Asyura.

Semenjak itu orang Islam menjadikan bulan itu sebagai bulan duka, bulan bela sungkawa. Orang Jawa setiap bulan  Sura membuat bubur dari nasi menjadi dua warna yaitu merah dan putih yang artinya merah itu darah dan putih itu tulang. Orang Iran yang merasa pengikutnya Ali yang saat ini bernama Syiah memperingati bulan Sura dengan melukai diri itu tandanya “belo pati”.

Orang semenanjung Sumatera membuat tabuik seperti keranda kecil-kecil hal itu disimbolkan sebagai keranda cucu-cucunya Kanjeng Nabi. Seperti halnya, ketika orang Jawa  menikah harus mencari hari yang baik dengan tidak di hari ketika ada sanak saudara yang meninggal, itu adalah suatu bentuk penghormatan terhadap saudara yang meninggal, bukan karena syirik atau sekedar mitos.

Baca juga:  Sega Pager dan Kearifan Lokal

Sebuah kultur dan sebagai bentuk ekspresi orang Jawa dalam memuliakan Islam sangat beragam. Akulturasi budaya yang telah ada pasti terjadi karena sebab tertentu. Orang Jawa membuat penyesuaian pelan-pelan dan tidak langsung membuat sesuatu yang sama sekali baru, tidak melanggar syara’ tapi tetap ngemong kebudayaan lokal.

Hal ini adalah cara  orang Jawa merefleksikan Mahabbah kepada Rosulullah,  dengan diam di bulan Sura.  Jadi jelas jika pelarangan tidak menggelar resepsi di Bulan Sura itu bukan karena musyrik, bukan karena kurofat, bukan karena Nyi Roro Kidul, bukan karena percaya danyang marah tapi bulan ini adalah keluarga Nabi susah, seharusnya kita sebagai umat Kanjeng Nabi Muhammad ikut bela sungkawa, ikut prihatin, tahlilan untuk Imam Husein, mendoakan keluarga Nabi bukan dengan malah menggelar pesta dan bersenang-senang. Karena Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin sehingga mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal bisa dijadikan ruang untuk menebar damai dengan sikap moderat, tawazun, dan toleransi.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top