Sedang Membaca
Abu Nawas Mengaku Paling Kaya dari Tuhan

Abu Nawas Mengaku Paling Kaya dari Tuhan

Mukhammad Lutfi

Sebagai rakyat yang hidup di bawah kekuasaan khalifah, Abu Nawas sering menyelipkan kritiknya lewat humor-humor jenaka hingga mesti mengena, akan tetapi khalifah Harun al-Rasyid tak bisa marah dibuatnya. Seperti pada kisah berikut ini;

Alkisah, keramaian dan geliat ekonomi pasar Baghdad tiba-tiba dihebohkan dengan celotehan Abu Nawas. “Wahai umat manusia, ketahuilah! Saya, Abu Nawas, adalah orang yang sangat membenci pada yang Haq (kebenaran) dan suka kepada fitnah, dan saya adalah orang yang lebih kaya dibandingkan Allah”, Teriaknya. Tak ayal, teriakan Abu Nawas membuat geger seisi pasar, yang memang penduduk muslim taat.

Omongan Abu Nawas ini sangat aneh karena selama ini dia dikenal sebagai orang yang alim dan bertakwa, meskipun memang suka bersikap jenaka. Walhasil, Abu Nawas pun ditangkap oleh polisi kerajaan dan dihadapkan kepada khalifah Harun al-Rasyid.

“Hai Abu Nawas, benarkah engkau berkata begitu?” tanya sang khalifah.

“Benar Tuan,” jawab Abu Nawas kalem.

“Mengapa engkau berkata begitu, sudah kafirkah engkau?” saut khalifah.

“Ah, saya kira khalifah juga seperti saya. Khalifah juga pasti membenci perkara yang haq,” ujar Abu Nawas dengan serius.

“Gila benar engkau!” bentak khalifah mulai marah.

“Jangan marah dulu wahai khalifah, dengarkan dulu keterangan saya,” kata Abu Nawas meredakan kemarahan khalifah.

Baca juga:  Kisah Kaum Sufi dan Kucing-Kucingnya

“Keterangan apa yang ingin engkau dakwahkan. Sebagai seorang muslim, aku membela dan bukan membenci perkara yang haq, kamu harus tahu itu!” ujar khalifah.

“Tuan, setiap ada orang yang membacakan talqin saya selalu mendengar bahwa mati itu haq dan neraka itu haq. Nah siapakah orangnya yang tak membenci mati dan neraka yang haq itu? Tidakkah khalifah juga membencinya seperti aku?” ujar Abu Nawas menjelaskan.

“Cerdik pula kau ini,” ujar khalifah setelah mendengarkan penjelasan Abu Nawas.

“Tapi, bagaimana dengan pernyataanmu yang menyukai fitnah?” tanya sang khalifah menyelidik.

“Sebentar, khalifah barangkali lupa bahwa di dalam Alquran disebutkan, bahwa harta benda dan anak-anak kita adalah fitnah. Padahal khalifah juga menyenangi harta dan anak-anak seperti halnya saya. Benar begitu khalifah?”

Baca Juga

“Ya, memang begitu, tetapi, mengapa kau mengatakan lebih kaya dibanding Allah yang Mahakaya?” tanya khalifah Harun al-Rasyid.

“Saya lebih kaya dari Allah, karena saya mempunyai anak, sedang Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.”

“Itu memang benar, tetapi apa maksudmu berkata begitu di tengah pasar sehingga membuat keonaran,” tanya sang khalifah.

“Dengan cara begitu, saya akan ditangkap dan kemudian sihadapkan kepada khalifah seperti sekarang ini,” Jawabnya kalem.

Baca juga:  Kibal-kibul ala Machiavellisme

“Apa perlunya kau menghadapku?”

“Agar bisa mendapat hadiah dari khalifah,” jawab Abu Nawas tegas.

Sidang yang mulanya tegang, menjadi penuh gelak tawa. Tak lupa khalifah pun menyerahkan hadiah kepada Abu Nawas. (Disadur dari: Mutiara Hikmah, 21 Pelajaran Hidup Mulia Berdasarkan Kisah-kisah Nyata, Saiful Hadi El Sutha. 2007)

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top