Sedang Membaca
Meneladani Muhammad Pra Kenabian
Penulis Kolom

Alumni International Visitor Leadership Program (IVLP) FY16 on Civil Society in Muslim Communities, Bergiat di Bilik Literasi Colomadu dan Takmir Langgar Soeka Batja, Klaten, Jawa Tengah

Meneladani Muhammad Pra Kenabian

Keteladanan Nabi Muhammad menjadi rujukan paripurna umat Islam. Sari hidup Muhammad banyak diriwayatkan sebagai tuntunan baku seorang muslim melakoni kehidupan. Ceramah lisan maupun tulisan banyak merujuk kepada perilaku Nabi pasca kenabian, untuk lebih mempermudah mengejawantahkan iman Islam dalam laku hidup keseharian.

Mengingat Muhammad, berarti harus merujuk kepada Al-Qur’an dan hadist. Keduanya (Al-Qur’an dan hadist) hadir karena Muhammad terlebih dulu lahir. Sebelum masa kenabian, Muhammad sering sendirian, kesepian mencari rujukan jawaban ke-Esaan Tuhan. Bimbang, bingung, penasaran, kalut, mungkin sering mendera Muhammad ketika masa pencarian ketauhidan sejati.

Proses Muhammad menuju puncak pentasbihan sebagai seorang Rasul membutuhkan begitu banyak pengorbanan. Waktu, tenaga, harta benda serta pikiran dicurahkan Muhammad sekian puluh tahun akhirnya berujung pada pewahyuan awal di Gua Hira. Muhammad seorang Rasul, Nabi penutup sebagai perantara wahyu Tuhan. Kebingungan Muhammad terjawab. Jibril setia menemani Muhammad agar wahyu tak putus di tengah jalan. Kehadiran jibril sebagai tangan kanan Tuhan sekaligus menjawab kebingungan Muhammad. Muhammad pasca kenabian terbantu mengatasi kebingungan serta segala persoalan hidup sebab kehadiran Jibril.

Meneladani sosok Muhammad sering hanya merujuk pada kehidupan Muhammad pasca kenabian. Para penceramah sering lupa, menyisipkan adegan hidup Muhammad pra kenabian. Padahal justru masa pra kenabian itu merupakan bagian penting bagi seorang hamba yang ingin meneladani sosok Muhammad dalam menemukan keimanan yang sejati.

Seorang guru tauhid pernah berkhotbah kepada penulis, meneladani Muhammad pasca kenabian itu mudah, sebab sudah ada jibril sebagai pemandu tingkah laku dalam menjalani kehidupan. Yang paling sulit itu justru meneladani Muhammad lengkap dengan kebingungan dan keresahan seorang hamba dalam menemukan arti iman yang sesungguhnya. Karena masa pra kenabian merupakan proses penting untuk menemukan jawaban berkaitan dengan kesejatian hidup dalam naungan Tuhan.

Baca juga:  Abu Lahab: Meski Sangat Benci Nabi, Aku Mendapat Nikmat di Neraka

Muhammad sebelum menjadi Nabi sering mengalami nasib kurang beruntung. Sejak lahir bahkan ia harus hidup tanpa seorang bapak, kemudian ditinggalkan oleh ibunya sebelum dia memasuki usia remaja. Setelah itu dia harus juga kehilangan sang kakek, untuk kemudian menjadi anak asuh pamannya. Tentu tidak mudah, mengalami masa kehilangan orang tersayang secara bertubi-tubi di usia yang masih sangat muda. Muhammad jelas berduka, meratapi nasib kurang beruntung dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Duka Muhammad tidak lantas membuatnya kalap kehilangan tujuan hidup. Kehilangan demi kehilangan melahirkan ketangguhan batin dan kelembutan perasaan dalam dirinya.

Status yatim piatu yang disandangnya mengilhami kepedulian sosial dalam diri Muhammad, dimana sepanjang hidupnya ia selalu sangat memperhatikan penderitaan dan perawatan terhadap anak-anak yatim piatu.

Untuk menyambung hidup sekaligus membantu perekonomian keluarga pamannya, dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah karangan Syaikh Shafiyuur Rahman Al-Mubarakfurry (Pustaka Alkautsar, 2010); Pada awal masa remaja Muhammad tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hanya saja beberapa riwayat menyebutkan beliau biasa mengembala kambing di kalangan Bani Sa’d dan juga di Makkah dengan imbalan uang beberapa dinar.

Muhammad remaja bukan sosok yang manja. Meskipun ia terlahir dari keluarga terhormat di kalangan suku Quraisy, namun sejak remaja ia terbiasa bekerja keras untuk dapat mempertahankan hidup dalam iklim geografi dan masyarakat yang keras. Hidup sebagai pengembala kambing di bawah terik matahari membutuhkan ketahanan fisik yang kuat. Muhammad semakin terlatih untuk menempa dirinya menjadi sosok yang kuat fisik dan mental. Belajar bertanggung jawab dengan kambing-kambing yang menjadi tanggungjawabnya, agar tak telat makan dan tetap bisa menghasilkan susu dan daging bagi majikannya.

Baca juga:  Dimyati Ibrahim, Kiai Banyuwangi Wafat di Mekkah

Ketika sedang mengembala kambing, Muhammad banyak memiliki waktu luang untuk memikirkan sosok Tuhan sejati yang pantas untuk diimani. Dari penuturan banyak riwayat, kisah remaja Muhammad hampir tak ada yang menceritakan satu babak kenikmatan hidup layaknya anak-anak dari kalangan keluarga terhormat dan kaya raya. Tempaan kerasnya hidup justru melahirkan sosok Muhammad yang sangat sederhana dan tak mudah silau dengan kemilau dunia.

Hamka (1940), menggambarkan sosok Muhammad secara epik: sebagai junjungan kita yang telah menanggung lebih dari yang kita tanggung. Orang yang sengsara buat diri dan rumah tangganya, (sedangkan) kesenangannya buat orang lain. Yang datangnya ke dunia bukan untuk mencari megah dunia, tetapi untuk menentramkan dunia.

Ketika beliau wafat, hanya meninggalkan setengah karung gandum buat istri-istrinya, setumpuk tanah yang telah diwakafkan, dan sebilah tumbak yang tergadai di rumah seorang yahudi. Padahal, seluruh kekayaan Masyrik dan Maghrib telah berpindah ke tangannya, segala pelosok tanah Arab telah jatuh ke bawah perintahnya, tetapi itu semua bukan untuk dia, hanya buat sahabat-sahabatnya (umaat Muslim). Jibril (pernah) menanya, sudikah dia menerima anugerah Allah, yaitu emas sebesar bukit uhud, atau sepenuh lurah-lurah di Makkah? tawaran telah ditolaknya, dia lebih suka lapar sehari dan kenyang sehari. Di waktu lapar supaya dia (dapat) bermohon ampun kepada Tuhan, dan pada waktu kenyang supaya dia dapat memuji Tuhan.

Muhammad hidup dalam masyarakat yang keras dan berbahaya. Beliau dilahirkan di tengah-tengah penduduk yang menyembah banyak berhala untuk mendapatkan ketentraman batin demi kehidupan lahir. Kita sering mengenalnya dengan era jahiliyah. Dimana persaingan antar suku sering berakhir dengan peperangan dan jatuhnya korban. Dengan lingkungan seperti itu, Muhammad berhasil keluar dari kebiasaan buruk masyarakat sekelilingnya.

Baca juga:  Sejarah Baghdad Berabad Lampau

Dengan kondisi sosio geografis yang demikian, Muhammad justru tumbuh sebagai sosok yang terampil, bertubuh gagah, tegas dan tekun, yang membuatnya memberikan seluruh perhatian pada apa pun yang dia kerjakan. Di Mekkah dia dikenal sebagai al-amin, yang terpercaya; sepanjang hidupnya dia mampu menanamkan kepercayaan orang lain padanya. Ini juga terungkap pada sikap tubuhnya, yang tidak pernah menoleh ke belakang. Memiliki kesopanan luar biasa dalam hubungan sosial keseharian. Jika dia menoleh dan berbicara pada seseorang, dia tak pernah menoleh secara setengah-setengah pada mereka, melainkan memutar seluruh tubuhnya dan menghadapi orang itu sepenuh badannya sebagai bentuk penghargaan terhadap lawan bicara. Jika berjabat tangan, dia tidak pernah menarik tangannya lebih dahulu. (Karen Amstrong, Muhammad Sang Nabi, Risalah Gusti: 2001)

Sikap dan sifat mulia Muhammad tumbuh dari tempaan hidup yang tak biasa. Batin dan fisiknya kuat oleh laku hidup yang berliku penuh tantangan. Meski berat, ia lulus ujian, tumbuh menjadi sosok teladan tanpa tandingan. Tuhan mempercayakan Muhammad mukjizat Al-Qur’an setelah mengalami berbagai macam cobaan berat dalam hidupnya. Meskipun setelah menjadi Rasul ujian berat berikutnya tak kalah menantang, Muhammad tetap teguh pada pendirian menjadi pribadi panutan. Kisah Muhammad sebelum masa pewahyuan bisa jadi rujukan bagi kita, agar senantiasa taat dalam iman, kesabaran dan siap menerima ujian demi ujian berikutnya untuk menjadi hamba yang diidamkan Tuhan. Amin.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top