Sedang Membaca
Snouck Hurgronje Naik Haji (V): Hadir dalam Halaqah Ulama Nusantara
M. Ishom el-Saha
Penulis Kolom

Dosen di Unusia, Jakarta. Menyelesaikan Alquran di Pesantren Krapyak Jogjakarta dan S3 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Snouck Hurgronje Naik Haji (V): Hadir dalam Halaqah Ulama Nusantara

Img 20200728 Wa0133

Pada tahun kedua sejak menginjakkan kaki di dataran Hijaz, Snock Hurgronje mulai leluasa menjalankan operasi rahasia di Mekkah. Pada tahun 1885 tercatat dirinya pernah menghadiri halaqah yang diadakan di kediaman Syekh Nawawi al-Bantani. Hal itu dia sampaikan dalam catatannya berjudul, Mecca in the Latter Part of 19th Century. Diceritakan oleh Snouck bahwa halaqah itu dihadiri lebih dari 200 orang, secara rutin baik di waktu pagi, siang, maupun malam.

Syekh Nawawi yang ditemui setelah beberapa hari merampungkan karyanya, Tafsir Munir atau dikenal pula dengan Marah Labid, digambarkan Snouck sebagai sosok ulama yang sangat bersahaja. Kepribadian dan penampilannya merepresentasikan sosok orang-orang Nusantara pada umumnya yang sedang menunaikan haji. Dalam halaqah itu, Syekh Nawawi sendiri yang memimpin forum itu dengan bahasa pengantar terkadang menggunakan bahasa Arab, Melayu, dan Jawa.

Selain Syekh Nawawi, di tengah kesibukannya menjalankan tugas ke-biro-an Snouck Hurgronje juga pernah berkeras menghadiri halaqah yang digelas ulama Nusantara lainnya, yakni Syekh Junaid al-Batawi. Akan tetapi tidak berhasil sebab ulama Betawi ini menolak bertemu dengan Snouck Hurgronje.

Walaupun demikian, Snouck masih dapat menggali informasi tentang jaringan ulama-santri yang berada di Mekkah melalui pengamatan langsung. Dirinya mengamati sekelompok anak muda di antara jamaah haji asal Nusantara. Mereka pergi haji bukan semata-mata untuk menggugurkan kewajiban rukun Islam ke-5 atau untuk maksud layak mengenakan serban. Melainkan untuk mempergunakan kesempatan sekali-kalinya dapat berziarah ke Tanah Suci untuk melihat dunia luar.

Baca juga:  Hak-Hak Anak Perempuan Menurut Rasulullah Saw

Dalam pengamatan yang ditandai Snouck, kelompok anak muda yang baru dating di Mekkah ini tampak mondar-mandir tak menentu karena tidak memiliki pemandu, tempat penginapan, dan seterusnya yang tersedia. Hasil penelusuran Snouck menyebutkan umumnya mereka tidak membayar genap uang perjalanan sebesar 250 rupiah, yang biasa dikeluarkan para jamaah haji.

Adakalnya di antara mereka yang sengaja dikirimkan ke Mekkah karena membangkang perintah orang tuanya, supaya berubah menjadi anak yang baik sekembalinya dari Mekkah. Mereka inilah, menurut Snouck, yang disebut santri-santri Nusantara di Mekkah yang menimba ilmu kepada para ulama Hijaz maupun ulama asal Indonesia. Adapun di luar kelompok itu tidak ada yang belajar sungguhan di kota suci.

Mereka bukanlah haji biasa, tetapi orang-orang terpelajar yang mukim lama di Mekkah untuk menimba ilmu agama. Mereka ini sangat terpengaruh suasana kerohanian kota suci, sehingga ketika kembali ke tanah airnya bukan sekedar mengajar al-Qur’an di Mushalla dan Surau, tetapi menjadi kiyai pesantren.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di antara mereka juga telah banyak memperdalam diri dalam ilmu sufisme. Sekembalinya dari Mekkah mereka menjadi guru-guru tarekat di sekitar daerah asalnya, dan biasanya memiliki pengikut yang banyak.

Berdasarkan pengamatan dan penelitian inilah, pada akhirnya Snouck Hurgronje merekomendasikan kepada Pemerintah Hindia Belanda supaya tidak berlaku deskriminatif kepada jamaah haji. Sebab mereka pada dasarnya orang baik. Terlepas mereka ada yang awam, pintar, fanatic, toleran, menurut Snouck, tak ada kaitannya dengan pelaksanaan ibadah haji.

Baca juga:  Hak Tuhan dan Hak Manusia: Lebih Didahulukan Mana?
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top