Sedang Membaca
Cadar di Pesantren NU
Penulis Kolom

Peminat literatur Islam klasik dan studi pesantren

Cadar di Pesantren NU

Senen sore di pertengahan Ramadan, saya diberi kesempatan untuk bersilaturahim dengan kiai dan santri Pesantren Miftahul Huda Al-Musri Cianjur. Pesantren ini terletak di Kecamatan Ciranjang, Jawa Barat.

Konon pesantren ini merupakan pesantren dengan corak Salafiyyah dengan jumlah santri terbanyak di Cianjur. Berdasarkan penuturan Kiai Saiful Uyun (Salah satu pengasuh dan ketua yayasan pesantren), jumlah total “santriyyin” dan “santriyyat”-nya sekitar seribu lima ratus.

Pondok pesantren Al Musri didirikan oleh almarhum KH. Ahmad Faqih pada tahun 1947. Sebelum menggunakan nama Al Misri, pesantren inibernama Miftahul Huda Cianjur. Tahun 1974 barulah berganti nama menjadi Al-Musri.

Nama pesantren ini selain mirip dengan pesantren Miftahul Huda Manonjaya, juga pendirinya, KH. Ahmad Faqih, tak lain adalah sahabat seperguruan pendiri Miftahul Huda Manonjaya, KH. Affandi Choir.

Ada banyak keunikan yang saya saksikan saat berkunjung ke pesantren yang memiliki luas lahan sekitar lima hektar ini. Salah satunya santri putrinya diwajibkan mengenakan cadar.

“Kewajiban memakai cadar bagi santri perempuan di sini untuk menjaga etika pergaulan antara santri putra dan putri di sini. Kalau di luar pesantren atau saat pulang ke rumahnya masing-masing mereka tidak diwajibkan mengenakannya. Mungkin bagi yang pertama kali datang ke pesantren ini akan terkejut melihat para santri putri bercadar,” tutur Kiai Saiful Uyun.

Baca juga:  Toko Kitab Sapakira Ampenan, NU, dan Sebuah Kota

Betul saja saat pembukaan acara, para santri putri selain menyanyikan lagu Indonesia Raya, mereka juga khusyuk dan fasih melantunkan Mars Syubbanul Wathan.

Salah satu sudut pesantren AL Misri

“Insya Allah meskipun bercadar, tidak akan radikal seperti yg dikesankan oleh sebagian kelompok,” begitu kata pengasuh pesantren.

Satu hal yang membuat saya terkesan dengan pesantren ini adalah komitmen ke-NU-annya. Di tengah banyak pesantren di Tatar Sunda, khususnya di Cianjur, yang secara kultur dekat dengan NU tapi tidak berani atau sungkan menunjukkan ke-NU-annya, justru pesantren ini, meminjam istilah Kiai Saiful Uyun, sudah dan akan terus meng-‘idzhar’ -kannya.

Metode pengajian di sini juga cukup unik. Ketika saya tanyakan soal “ngalogat”, apakah menggunakan bahasa Jawa atau Sunda, Kiai Saiful Uyun menjawab, “Pakai bahasa Sunda, tapi rumusnya menggunakan rumus makna gandul Jawa. Sedangkan penjelasannya selain memakai bahasa Sunda, beberapa tahun belakangan ini kami menggunakan bahasa Indonesia. Sebab, para santri di sini ada yang berasal dari wilayah luar Jawa, bahkan ada juga yang datang dari negeri jiran Malaysia.”

Saat acara, kesederhanaan amat terasa
Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
8
Senang
3
Terhibur
1
Terinspirasi
10
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top