Sedang Membaca
Sastra dan Teknologi Artifisial
Avatar
Penulis Kolom

Pegiat Organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa

Sastra dan Teknologi Artifisial

Saat ini, kita sedang menuju ke dalam dunia baru yang disebut dunia artifisial. Orang akan semakin banyak yang meninggalkan dunia nyata dan masuk ke dunia imajinasi. Karya sastra jelas memainkan peran penting, meskipun pemerintah belum memiliki algoritma yang paten dalam menghadapi situasi kondisi semacam ini.

Akibatnya, karya-karya sastra milenial yang baru bermunculan beberapa tahun terakhir, dengan cekatan mengacu dari jenis-jenis sastra yang mampu mengandalkan teknologi canggih. Hal ini mengandung konsekuensi pemusatan fokus pada karya-karya sastra terbaru, semisal para penulis yang akrab dengan karya sastra Pikiran Orang Indonesia atau Jenderal Tua dan Kucing Belang.

Akan lebih etis dan bermoral jika pihak pemerintah berkecimpung menertibkan dunia perbukuan dan sastra Indonesia, untuk mengakomodasi karya-karya terbaru anak bangsa. Misalnya karya-karya sastra mutakhir dengan fasilitas dan perangkat teknologi agar mampu bersaing secara sehat dan kompetitif. Di sisi lain, perlu dipersoalkan sistem pendidikan sastra kita yang masih sibuk pada urusan remeh-temeh seperti senioritas (sastrawan tua) yang karya-karyanya diperlukan tapi sudah ketinggalan zaman.

Banyak seniman muda di perguruan tinggi seni dan sastra yang masih mengejar lulus dan mendapatkan gelar untuk menjadi sastrawan berpendidikan. Di kampus-kampus banyak yang hanya fokus pada materi kesusastraan, sehingga banyak mahasiswa mementingkan urusan IPK. Lalu, nantinya komplain mengapa lulusan fakultas sastra dan bahasa, namun karyanya selalu ditolak Ruang Sastra, Litera, Kabar Madura, Nusantaranews maupun Solopos dan Kompas.

Banyak seniman muda yang gagal paham, bahwa para tim redaksi media luring dan daring saat ini, tak ada urusan dengan predikat kedudukan Anda sebagai sarjana sastra manapun. Mereka aktif mencari benih-benih sastrawan baru yang tak terkontaminasi oleh gaya bahasa Orde Baru yang cenderung kaku, baku dan rigid. Mereka membutuhkan penulis yang mampu bekerja cepat, bisa menyesuaikan diri, tidak sibuk urusan gelar, senioritas maupun sastrawan tersohor dan terkemuka.

Di dunia sastra, tak ada pengklasifikasian soal lulusan mana atau berapa nilai IPK yang diraih dalam jenjang pendidikan formal. Di era pandemi ini, seorang penulis yang benar-benar kreatif dan mampu beradaptasi dengan perubahan, akan terus berkarya dengan aktif dan produktif, dan tak ada urusan dengan social distancing. Pendidikan formal di perguruan tinggi dan fakultas sastra, jangan hanya fokus pada intelektualitas, tetapi harus membangun kecerdasan imajinasi dan emosional sastrawan.

Baca juga:  Ngaji Gus Baha: Kafirkah Orang Yang Membuka Aurat?

Ilmu-ilmu sastra yang harus menjadi asupan anak didik, di antaranya memperkuat kemampuan bahasa, linguistik, kemampuan berpikir kritis, dan menyelesaikan masalah. Jangan hanya memberi asupan pengetahuan tentang tetek-bengek teori kesusastraan. Materinya harus lebih kontekstual daripada sekadar harfiah dan hafalan mengenai puis-puisi Chairil Anwar, Rendra atau Sutardji. Konsepnya harus mampu beradaptasi dengan program vokasi yang banyak terjun langsung ke dunia penelitian, lalu mengaplikasikan dalam bentu karya seni dan sastra.

Kembali ke era artifisial tadi, bahwa para lulusan dan akademisi di bidang kesusastraan harus benar-benar pintar, dalam arti mampu mempersiapkan diri, punya etos kerja, dan punya kejeniusan dan mengelola bahasa. Jadi, tak bisa berpikir bahwa sukses secara akademik lantas akan sanggup melahirkan karya-karya terbaik yang mampu berkomunikasi dengan tuntutan zaman.

Saat ini, kita semua memaklumi bahwa dunia industri tengah dihantui oleh gejala kehilangan the main yang menjadi sumber pendataannya. Koran termasuk salah satu korban utama, ketika mereka kehilangan pendapatan dari penjualan koran dan iklan. Kemudian menyusul televisi, penerbangan yang kesulitan hidup dari penjualan tiket. Dunia telekomunikasi juga tak bisa hidup dengan hanya mengandalkan pendapatan dari voice. Dengan demikian, sulit mengandalkan hidup dari dunia tulis-menulis, karena dunia penerbitan pun sedang mengalami ketar-ketir nyari sampingan sana-sini.

Penulis yang sanggup bertahan di era medsos ini, sanggup mengisi ruang-ruang publik (tanpa dibayar), bahkan mereka yang mampu menciptakan karya-karya terbaik yang menggugah hati dan jiwa, mereka itu “orang-orang edan” yang memang luar biasa hebat daya imajinasi dan kegilaannya dalam soal menekuni bahasa.

Bisa dimengerti, bahwa saat ini adalah era ketika banyak karya-karya sastra (tak terkecuali yang senior) telah menjadi usang dan obsolete. Berbagai model karya sastra dalam ragam gaya bahasa, sudah tidak lagi relevan. Inilah era yang membuat banyak seniman dan sastrawan Indonesia bingung dan pusing tujuh keliling, puyeng tujuh keliyeng, lantaran kenyakan mereka gagal paham. Termasuk kalangan akademisi sastra yang masih berkutat dengan teori dan asumsi kesusastraan Indonesia di masa lalu.

Baca juga:  Fenomena Pelecehan Seksual di Pesantren

“Sebab bagaimanapun,” ujar penulis novel Pikiran Orang Indonesia, “saat ini adalah munculnya cara-cara baru dalam value creation yang menjadi dasar bagi pijakan kesusastraan mutakhir untuk menyongsong kesusastraan Indonesia ke depan.”

Kini, yang diperlukan adalah membangun ekosistem kesusastraan Indonesia yang memungkinkan pelaku seni dan sastra bisa melakukan orkestrasi atas berbagai resouces yang ada di sekitarnya. Contoh sederhananya adalah bagaimana netizen ramai-ramai menyuarakan cuitan yang seketika direspons beragam melalui mekanisme sharing-shaping. Hingga akhirnya, netizen termobilisasi dan melakukan kampanye melalui (misalnya) tagar #UnistalBukalapak.

Demikian pula dengan novel Pikiran Orang Indonesia atau Perasaan Orang Banten, yang tiba-tiba ada pihak yang meluncurkan ke ranah publik. Segera tercipta ruang ekosistem baru yang melahirkan orkestrasi, yang langsung disambut dengan opini dan kritik sastra dalam Jurnal Toddoppuli, Ahmad Tohari’s Web, sastranesia, alif.idsimalaba.netkawaca.com, hingga kompas.id.

Tentu banyak yang berkepentingan dengan munculnya karya-karya genuine dari pada muda-mudi milenial akhir-akhir ini. Ada yang muncul secara alamiah maupun rekayasa buatan. Tetapi, inilah berkah dari mobilisasi karya sastra. Gerakan besar-besaran yang muncul di kalangan netizen guna merespon karya-karya mutakhir akan terus bersinambung saling berakumulasi. Tidak ada salahnya. Baik-baik saja, dalam rangka amr ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Mobilisasi dan orkestrasi di dunia sastra, tak ubahnya sebagaimana interconnected society yang timbul karena munculnya berbagai pilar teknologi yang menjadi keniscayaan sejarah. Meskipun gejala-gejala mobilisasi dan orkestrasi tersebut kian jelas, masih saja banyak sastrawan yang gagal paham karena ketidaktahuan dan terperangkap oleh paradigma lama. Karena itu, dibutuhkan lensa baru untuk meneropong apa yang sebenarnya tengah terjadi, agar tidak terjebak pada gagal paham untuk ke sekian kalinya.

Baca juga:  Superioritas Suguhan Hajatan

Karena itu, jika Anda tidak memanfaatkan peluang untuk turut-serta memobilisasi dan mengampanyekan karya sastra (semisal Pikiran Orang Indonesia) yang telah meluncur ke ranah publik, berarti Anda tergolong seniman dan sastrawan yang telah kehilangan uang miliaran dalam tempo beberapa tahun terakhir ini.

Keterampilan yang dibutuhkan hanyalah fokus dan tekun. Hal ini justru karena kita hidup di tengah media sosial (medsos), sehingga membuat fokus menjadi terganggu dan terpecah-belah oleh karya sastra ecek-ecek dan abal-abal di sekitar kita. Kearifan lokal dan estetika yang didapat sedari kecil, juga penting untuk diterapkan dalam karya sastra. Bagaimana bisa mencipta sesuatu yang baru, tanpa harus mengganggu dan merusak kerya cipta orang lain. Kalau perlu, membersihkan dan merapikannya dari unsur-unsur negatif yang mengusik kemaslahatan bersama.

 Sastrawan kita harus bisa melihat persoalan hidup dengan kacamata agar mampu menemukan solusi, bukan sibuk berkutat pada problem dan realitas konflik yang dialami. Hal ini mengindikasikan, bahwa memang ada karya-karya sastra yang mengandung pesan moral yang buruk dan merugikan masyarakat, dan sebaiknya dikesampingkan. Tetapi, banyak juga karya-karya seniman masa lalu yang  diperlukan serta pantas dijadikan rujukan dan gambaran keteladanan.

Pada prinsipnya, kunci keberhasilan seniman dan sastrawan Indonesia abad 21 ini adalah ketekunan dan kemandirian. Jangan terkooptasi oleh sekat-sekat kelas, yunior-senior, sastrawan baru atau kenamaan. Untuk bisa beradaptasi dengan sastra-sastra mutakhir, sastrawan kita dituntut agar lincah beradaptasi dan cepat belajar. Jalin silaturahmi dengan mereka, manfaatkan karya-karya mereka. Silakan publikasikan dan diperjualbelikan ke ranah publik sesuka Anda.

Tidak ada yang eksklusif dan ditutup-tutupi, juga tak ada kata terlambat. Segalanya serba terbuka dan transparan. Anda bekerja dan Anda menyebar kebaikan, maka kebaikan pundi-pundi itu akan berlipat mendatangi Anda secara alamiah. Percayalah, banyak orang yang sudah mengalami dan menikmati buahnya, termasuk diri saya sendiri. (*)

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top