Sedang Membaca
Dialog Ketuhanan dalam Ibadah Qurban

Penyuluh Agama Islam Kemenag Kab. Bogor sekaligus sebagai dosen di UIN Jakarta dan peneliti mitra pada beberapa lembaga penelitian. Bisa disapa lewat Instagram dan Facebook dengan nama akun Khazanah Hikmah.

Dialog Ketuhanan dalam Ibadah Qurban

Whatsapp Image 2023 06 28 At 15.49.05

Hari Raya Idul Adha merupakan hari raya penuh syukur. Saat di mana kita melakukan napak tilas kembali perjalanan spiritual Nabi Ibrahim bersama dengan Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah SWT. Kita seolah mendekati sebuah lembah sunyi di jazirah Arabia yang luas.

Konon, di tempat itulah, ribuan tahun yang lalu, sebuah kisah sarat makna dimulai. Kisah yang melebur dalam sejarah kearifan, menggambarkan cerita luar biasa tentang Nabi Ibrahim dan putranya yang dicintai, Nabi Ismail. Kisah indah ini diungkapkan Al-Qur’an dalam surat Ash-Shaffat (37) ayat 101-111. Sebuah kisah yang menjadi teladan bagi semua umat manusia dalam mengamalkan kesabaran dan kesyukuran kepada Allah SWT.

Pada suatu hari Nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya diperintah Allah SWT untuk menyembelih putranya Ismail. Akhirnya Nabi Ibrahim menceritakan seluruh mimpi yang dialaminya kepada istri dan anaknya Ismail. Baik istri Siti Hajar dan anaknya Ismail mendengarkan dengan penuh perhatian hingga selesai.

Ketika dimintai pendapatnya oleh Nabi Ibrahim, mereka menyatakan pendapat yang sama bahwa apa yang dialami berupa mimpi tersebut merupakan wahyu Allah SWT yang wajib dita’ati dan harus dilaksanakan dengan segera. Akhirnya berangkatlah kedua ayah-anak tersebut ke tempat yang agak jauh dari rumah dengan diiringi kesedihan yang sangat yang terpancar dari raut muka Siti Hajar dan akhirnya memuncak menjadi tangisan melepas putra kesayangannya yang akan diqurbankan.

Baca juga:  Mengamini “Nyepi” Sebagai Spektrum Sunah Rasul

Setelah sampai pada daerah yang dituju, akhirnya Nabi Ibrahim dengan mata ditutup kain melaksanakan penyembelihan yang diawali ucapan kalimat atas nama Allah. Betapa gemetarnya seluruh jiwa dan raga sang ayah tersebut mengenangkan kembali saat kebersamaan mereka yang singkat dan kini terbayangkan sang putra yang dicintai akan berpisah antara kepala dengan badan.

Ketika Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih puteranya Ismail, tiba-tiba datanglah malaikat Jibril dan memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim bahwa Allah telah berkenan untuk mengganti Ismail dengan seekor kibas. Seraya memuji keagungan dan kekuasaan Allah SWT mereka berdua berangkulan—sebagai wujud syukur telah dapat melaksanakan perintah Rabb-nya. Lalu jadilah yang demikian itu sebagai sunnah hingga hari ini. Kita menyembelih qurban untuk mengenangkan peristiwa bersejarah tersebut.

Itulah sepenggal cerita yang tergores dalam halaman-halaman Al-Qur’an, menyelipkan pelajaran berharga bagi manusia di sepanjang zaman. Namun, di balik setiap kata dan kalimat yang mengharu biru, tersimpanlah sebuah dialog ketuhanan yang mengalir dalam setiap sekuelnya. Kisah yang memukau dan mempesona, mengungkapkan makna yang dalam terkait dengan ibadah qurban.

Dalam cerita ini, kita disuguhkan dengan deskripsi yang memikat tentang pengorbanan Nabi Ibrahim dan perjalanan penuh ketulusan putranya, Nabi Ismail. Setiap adegan seperti yang kita rasakan, menggambarkan kekuatan dialog yang terjalin antara mereka dengan Sang Pencipta. Disepanjang cerita ini, kita disuguhkan dengan dialog ketuhanan yang mengalir dalam setiap sikap yang dibina, setiap kata yang terucap, setiap tindakan yang dilakukan. Kita dapat merasakan kedekatan mereka dengan Tuhan, seakan-akan kehadiran-Nya menyelimuti setiap langkah mereka.

Baca juga:  Agama dan Pelintiran Kebencian (3): Bagaimana Bahasa Turut Berperan dalam Kekerasan?

Dari kisah inipun kita dapat mengetahui bahwa qurban memiliki esensi sebagai bukti cinta kepada Allah SWT sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Dari sudut arti, qurban bermakna ‘dekat’. Hal ini mengindikasikan siapa saja yang berqurban berarti telah mengupayakan diri untuk menjadi dekat dengan Tuhannya.

Ibadah qurban dalam realisasinya sebagaimana dilakukan pada zaman Rasulullah SAW tidak hanya sebatas bersifat ritual menyembelih kambing, sapi atau unta saja, tetapi lebih jauh dari itu qurban telah menyentuh aspek yang lebih luas—tidak hanya sebatas qurban pada empat hari di bulan dzulhijjah, sebagaimana qurban Rasulullah SAW dalam menerima perjanjian Hudaibiyah di tahun ke enam Hijriyah yang tendensi merugikan kaum muslimin saat itu. Belum lagi contoh-contoh lain ketika zaman Rasulullah SAW maupun zaman sesudahnya bahwa qurban dapat dilaksanakan pada setiap kesempatan.

Qurban adalah simbol dari pengorbanan, ketulusan, dan rasa syukur yang hakiki. Saat kita mengingat pengalaman pribadi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, disaat itu pula kita seakan terhubung dengan sejarah dan keagungan yang berjarak ribuan tahun dari dimensi waktu dunia.

Tidaklah berlebihan bila pada setiap tahunnya, ketika Hari Raya Idul Adha tiba, kita tidak saja hanya mengenang peristiwa bersejarah itu, tetapi juga merenungkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, nilai-nilai yang tersirat dan tersurat dalam dialog ketuhanan yang tak pernah berakhir.Hingga akhirnya mengajak kita untuk menjadi pribadi yang tulus dan penuh syukur kepada Allah. Dalam setiap laku kita, dalam setiap langkah kita, dan dalam setiap tindakan kita, marilah kita terus menjalin dialog ketuhanan yang membawa kita semakin dekat dengan-Nya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini. Aamiin.

Baca juga:  Hidangan dan Pemandangan

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top