Sedang Membaca
Rumah sebagai Tempat Belajar Segala Hal: dari Urusan Komitmen hingga Jender
Penulis Kolom

Dosen Islam Nusantara di UNUSIA Jakarta, Pengurus Pusat LPTNU, dan Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal BPJPH Kemenag RI. Menyelesaikan Program Doktor (Strata-3) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1997-2007) bidang Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Menulis di jurnal dan beberapa buku, antara lain, "Kebangkitan Santri Cendekia: Jejak Historis, Basis Sosial dan Persebarannya" (Jakarta: Compass Pustaka, 2016)

Rumah sebagai Tempat Belajar Segala Hal: dari Urusan Komitmen hingga Jender

1 A Foto Mastuki

Sesuai kesepakatan sebelumnya, bakda salat Zuhur berjemaah, giliran anak lanang memberikan ta’lim untuk mengisi agenda #stayathome yang diperpanjang hingga 13 Mei 2020. Kabarnya, masa karantina atau PSBB akan diperpanjang lagi sampai Lebaran Idul Fitri (esai ini ditulis sebelum Ramadan, ed.).

Larangan mudik bagi ASN, TNI dan pegawai BUMN/D jadi pertanda kalau wabah Corona masih menjadi ancaman yang mengkhawatirkan, apalagi ritual mudik melibatkan ribuan orang yang akan berlalu lalang di seantero wilayah Indonesia.

Potensi penyebaran virus yang belum ada obatnya ini amat rawan. Bayangkan kalau satu pemudik saja membawa virus Corona lalu bergerak kesana kemari selama seminggu saja, dan bertemu dengan ratusan orang, bersalam-salaman, bertamu, silaturahim, jalan-jalan, atau rekreasi, dan balik lagi ke tempat asal. Berapa orang yang berpotensi tertular, menjadi ODP, PDP, suspect, atau positif Corona.

Oke deh, lupakan mudik. Kembali ke “laptop”. Topik yang dipresentasikan anak lanang lebih menarik: literasi keuangan keluarga. Intinya, mengajak investasi untuk merencanakan keuangan keluarga yang lebih baik (family financial planning). Dia memulai paparannya dengan menyajikan data, survey PWC tahun 2019 yang menyebutkan 67% karyawan merasa stres dengan kondisi keuangannya.

Selanjutnya dia menyinggung indeks literasi keuangan Indonesia pada posisi baru 38%, kalah jauh dengan Singapura yang sudah di papan atas 96%, Malaysia 81%, dan di bawahnya Thailand kisaran 78%. Artinya, literasi keuangan masyarakat Indonesia tak terlalu baik, tetapi terbuka peluang bagi keluarga, khususnya anak milenial untuk main di arena investasi. Munculnya berbagai platform digital yang menawarkan produk-produk investasi mendorong indeks literasi ke arah progresif.

“Wah topiknya masalah duniawi nih, padahal hari-hari sebelumnya ayah dan mama bergantian membawakan tema akhirat melulu,” komentar ibunya sesaat paparan dimulai. Anak lanang hanya senyum tipis, tak ada ekspresi lebih dari itu.

Baca juga:  Zakat Dan Misi Kesejahteraan Sosial

Tak tanggung-tanggung, sejak ditugasi mengisi ta’lim keluarga secara bergantian, anak lanang ternyata mempersiapkan presentasi secara serius, padahal maunya ortu hanya untuk melatih dan membiasakan diri bicara di depan orang. Tampilan powerpoint yang disiapkan jauh lebih baik tinimbang paparan orangtuanya yang masih konvensional. Satu pelajaran berarti, “Jangan remehkan kemampuan anak.” Data dan sumber rujukannya adekuat, akurat. Terbiasa membawakan paparan di depan audiens, tak asal-asalan. Materi yang dibawakan dikuasai, padahal katanya baru disiapkan semalam. Bicara investasi, clear cara menjelaskannya. Caranya memaparkan seperti sudah lama berpengalaman. Tapi “kemampuan tersembunyi” itu selama ini memang tersembunyi, tak diketahui orangtuanya.

Yang diketahui dari anaknya hanya dia kuliah di PTN terkemuka di Indonesia, pernah menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Beberapa kali ikut lomba di bidang komputer atau project pengembangan. Mendirikan Senyum Difabel, LSM yang bergerak di bidang pendidikan anak difabel bersama teman-teman kuliahnya. Tapi apa dan bagaimana dia mempersiapkan diri mengikuti lomba/project; seperti apa perkembangan diriya selama kuliah; bidang apa yang dipelajari; dengan siapa bergaul dan berinteraksi; dan hal ikhwal lainnya tak banyak diketahui.

“Dia jarang cerita, paling minta doa dan pamit kalau mau ikut lomba atau aktivitas ilmiah lainnya,” kenang ibunya.

Ada jurang pengetahuan dan pengalaman antara orangtua dan anak. Bidang ilmu yang dikuasai ortu jauh berbeda dengan apa yang digeluti anak. Kami, orangtuanya belajar ilmu-ilmu agama seperti tafsir Al-Qur’an, hadis, fikih, tasawuf, dan tarbiyah di IAIN/UIN, anaknya belajar ilmu komputer dengan spesialisasi user experience (UX). Jaka Sembung pake jas. Gak nyambung blas.

Selepas kuliah S1, S2, S3, orangtuanya berkarir di bidang yang relatif sama: agama dan pendidikan. Anaknya menyempal, selepas S1 langsung bekerja di perusahaan StartUp yang memang digemari generasi milenial. Beberapa kali pindah karena gak betah (ciri lain dari sikap milenial terhadap kerja: kalau tak sesuai passion-nya, enteng saja pindah kerja. Beda dengan generasi X yang masih job seeker). Di tempat kerjanya juga entah sebagai apa, orangtuanya tambah tak paham. Spesialisasi ilmu yang ditekuni anaknya sudah rigid. Tiap ilmu sudah berkembang menjadi rumpun dan bercabang-cabang sehingga menjadi sangat spesifik. Kalau di perguruan tinggi dikenal program studi (prodi). Dari prodi masih ada spesialisasi atau peminatan, tergantung mahasiswanya mau mendalami bidang apa.

Baca juga:  Siapa Sosok Haji Hisyam, Arsitek Pendidikan Muhammadiyah itu?

Begitulah, anak berkembang menjadi dirinya sendiri. Campur tangan ortu sebatas memberi arahan, nasehat. Selebihnya mereka yang akan menentukan sendiri. Karena masa depan ada di tangan mereka, bukan di tangan kita. Perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang sangat dinamis, turut mengubah pola pikir dan maindset generasi milenial. Melahirkan era yang khas. Penyikapan yang khas pula.

Beri kesempatan yang luas kepada anak milenial untuk eksplorasi dirinya sendiri. Menjadi diri sendiri. Bukan menjadi seperti yang diinginkan ortunya. Keinginan boleh, tapi keputusan di tangan mereka. Tips kecil selama #stayathome di atas bisa dipraktikkan. Memberi kesempatan mereka unjuk diri (performance skills): presentasi sesuai ilmu yang dikuasai. Tapi sesekali diberi tantangan baru, dengan tetap memberi ruang kepada mereka untuk tampil. Misalnya, meminta anak lanang menjadi imam shalat, berkhutbah mumpung tidak shalat Jumat di masjid, atau meminta menyelesaikan tugas-tugas domestik di rumah seperti mencuci piring, bercocok tanam di taman seadanya, memasak, atau aktivitas lain.

Sebaliknya, kepada anak cewek beri waktu untuk eksplorasi diri sesuai kesenangannya. Jika senang berdandan, silakan dorong agar lebih produktif, misalnya menjadi aggota jilbabers di medsos. Jika senang memasak, biarkan searching aneka resep masakan di internet kemudian praktik di dapur. Tantangan yang sama berlaku buat anak perempuan. Presentasi di depan anggota keluarga. Ajak diskusi hal-hal besar menyangkut masa depannya, kuliahnya, pekerjaan yang akan ditekuni, atau pilihan hidupnya kelak. Sekali lagi, orang tua hanya memberi usul, saran, selebihnya anak yang akan berpikir.

Baca juga:  Di Mesir, Penganut Kristen Koptik, tapi Pengajar Alquran

Jangan diskriminatif jender. Posisi perempuan tak kalah pentingnya dengan laki-laki. Beri peran yang seimbang dan latih kesetaraan jender mulai dari rumah. Tak ada superioritas laki-laki di atas perempuan. Biarkan mereka melihat secara langsung ayahnya yang mencuci pakaian, ikut masak di dapur bersama ibunya, mencuci piring selepas makan atau ibunya yang berangkat kerja setelah menyelesaikan ‘pekerjaan rumah’nya. Praktik yang baik, best practice adalah memberikan mereka pengalaman kongkrit di rumah. Mereka akan meneladani bagaimana hubungan orang tuanya yang mesra. Tak pernah cekcok atau berantem. Mereka melihat dan meresapi bagaimana ketekunan dan kesungguhan ortu dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Mereka diam-diam memperhatikan sikap ortu ke anaknya. Dan kelak akan mencontohnya.

Kebebasan dalam menentukan sikap dan pilihan perlu diberikan secara proporsional kepada anak. Ingat kata bijak, “Melakukan apa yang Anda sukai adalah kebebasan. Menyukai apa yang Anda lakukan adalah kebahagiaan”. Apa yang anak lakukan pastilah dengan pertimbangan akalnya. Sekali lagi, jangan remehkan kemampuan anak. Mereka berpikir dengan pikirannya. Mereka bertindak dengan akal sehatnya. Ekspresi cinta tak mesti vulgar. menegur dan memberi nasehat juga bukti cinta orang tua. Karena “Cinta itu bukan jajahan. Cinta itu bukan paksaan. Cinta itu adalah kebebasan.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top