Mustain Romli
Penulis Kolom

Warga NU yang sedang menuntaskan studi (S1) di perguruan tinggi Universitas Nurul Jadid Probolinggo, sekarang sebagai mahasantri aktif di Ma'had Aly Nurul Jadid, paiton, probolinggo dengan konsentrasi fiqh-ushul fiqh.

Kisah Nabi Sam’un: Inspirator Munculnya Film Samson

Film Samson

Siapa yang tak tahu film Samson? kebanyakan dari kita sudah tahu ya akan film tersebut, yakni sebuah film yang menceritakan seorang laki-laki yang memiliki kekuatan heroik, berbadan kekar yang mampu memberantas segala kezaliman dan menjadi penolong para kaum proletar.

Film Samson versi 2018, menjelaskan bahwa pernah ada seorang laki-laki yang hidup di masa Romawi, ia merupakan hakim terakhir dari bangsa Israil kuno, penganut ajaran “nazarite” yang berarti penganut ajaran tersebut merupakan orang yang sukarela bersumpah untuk tidak melakukan beberapa hal, antara lain:

  1. Tidak makan atau minum sesuatu apapun yang mengandung buah anggur.
  2. Tidak memotong rambut.
  3. Tidak menyentuh mayit.

Akibat sumpahnya tersebut, Samson memiliki kekuatan yang di luar nalar manusia. Digambarkan dalam film, ia bisa membunuh singa dengan kedua tangannya tanpa senjata apapun. Keterangan ini sebagaimana dilansir dari salah satu tulisan di kompasiana.com.

Pada versi termutakhir, Samson dikisahkan dalam film aksi drama Amerika-Afrika selatan pada tahun 2022 silam. Pada film yang merupakan karya dari Bruce Macdonald, Samson dikisahkan merupakan sosok manusia super yang berasal dari suku Ibrani (Bani Israil).

Waktu itu, banyak dari suku Ibrani dipaksa menjadi budak dan beberapa barang berharganya dirampas oleh para penguasa. Perbudakan dan ketidakadilan merajalela. Ketika Samson beranjak dewasa, dialah yang memberantas segala perbudakan serta tindakan ketidakadilan yang dilakukan oleh para penguasa. Keterangan ini disarikan dari sebuah sinopsis di kompas.com.

Usut punya usut, ternyata film Samson ini merupakan film yang terinspirasi dari kisah seorang Nabi dari bani Israil yang bernama Nabi Sam’un al-Ghazi. Sebagaimana al-Ghazali menyebutkan dalam salah satu anggitannya yang bernama Mukasyafatul al-Qulub al-Muqorrib ila Hadrati ‘Allami al-Ghuyub.

Sang Hujjatul Islam menyebutkan dalam karangannya tersebut bahwa suatu ketika Rasulullah bercerita di hadapan para sahabat tentang seorang dari bani Isra’il yang selalu memerangi kaum kafir dengan bukti tak pernah lepas dari tangannya sebuah senjata perang serta pelana kuda perangnya yang tak pernah kering. Ini menandakan bahwa kuda perang selalu digunakan. Ia berperang di jalan Allah selama 1000 bulan atau kurang lebih 83 tahun 4 bulan. Hal ini juga merupakan cikal-bakal adanya lailatul qadr di bulan Ramadan.

Baca juga:  Pelajaran dari KeruntuhanAl-Muwahidun

قال ابن عباس أن رسول الله قال: رجل من بني إسرائيل حمل السلاح على عاتقه في سبيل الله ألف شهر فعجب رسول الله لذلك وتمنى ذلك لأمته فقال يا رب جعلت أمتي أقصر الأمم أعمارا وأقلها أعمالا فأعطاه الله تعالى ليلة القدر خير من ألف شهر مدة حمل الإسرائيلي في سبيل الله له ولأمته ألى يوم القيامة.

Artinya: “Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang seorang dari Bani Israil yang selalu membawa senjata perang diletakkan di atas bahunya untuk berperang di jalan Allah [melawan orang kafir] selama 1000 bulan, Rasulullah kagum dengan seorang tersebut dan beliau memiliki harapan agar umatnya bisa memiliki amalan yang setara [pahalanya] dengan apa yang dilakukan oleh seorang dari bani Israil itu, akhirnya beliau berdoa kepada Allah: Wahai tuhanku engkau jadikan umatku paling sebentar umurnya dan paling sedikit amalannya, kemudian Allah mengabulkan permintaan Nabi Muhammad SAW (sebuah amalan yang pahalanya setara bahkan melebihi dari 1000 bulan) dengan memberikan keistimewaan [khusus Nabi Muhammad dan umatnya] berupa lailatul qadr yang pahalanya lebih baik dari seribu bulan”. (Imam al-Ghazali, Mukasyafatul al-Qulub al-Muqorrib ila Hadrati ‘Allami al-Ghuyub, Halaman 259).

Orang-orang kafir yang merasa kewalahan untuk mengalahkan Nabi Sam’un tak kehabisan cara untuk menumbangkan laki-laki super kuat tersebut. Akhirnya, para kaum kafir membuat siasat dengan memanfaatkan orang terdekat Nabi Sam’un al-Ghazi, tak lain orang tersebut merupakan istri dari Nabi Sam’un yang mengkhianatinya karena diiming-imingi bak/satu kantong yang berisi penuh dengan emas, dengan syarat dia mau bekerja sama dengan kaum kafir untuk mengalahkan suaminya. (Imam al-Ghazali, Mukasyafatul al-Qulub al-Muqorrib ila Hadrati ‘Allami al-Ghuyub, Halaman 259)

Baca juga:  Kisah Sumbangsih Kristen saat Pemugaran Kakbah

Keimanan sang istri goyah akibat melihat sekantong emas yang akan diberikan kepadanya. Akhirnya, dia sepakat untuk bekerjasama dengan kaum kafir dan mengkhianati sang suami. Ketika sang suami tertidur, sang istri berusaha untuk mengikat Nabi Sam’un dengan menggunakan sebuah tali. Nahasnya, cara itu tidak berhasil, dengan kekuatan yang dimiliki sang suami, tali tersebut terlepas dengan mudahnya.

Ketika sang suami bangun dan bertanya apa yang dilakukan sang istri, dengan kelicikannya, dia mampu berkelit dengan pernyataan bahwa dia hanya ingin menguji kekuatan suaminya tersebut. Nabi Sam’un begitu mudahnya percaya dengan alasan yang disampaikan oleh sang istri.

Sang istri yang sudah berada di pihak musuh, dengan kelicikannya, ia tak kehabisan cara untuk mewujudkan keinginan kaum kafir, seketika ide cemerlangnya muncul dengan langsung bertanya kepada sang suami akan kelemahan dirinya. Sang suami mengaku bahwa tak ada tali yang bisa mengikatnya kecuali ia diikat dengan bagian dari dirinya sendiri, yaitu: gombak atau gelungnya (rambut kepala yang dijalin) yang panjangnya hingga menyapu tanah. (Imam al-Ghazali, Mukasyafatul al-Qulub al-Muqorrib ila Hadrati ‘Allami al-Ghuyub, Halaman 259)

Setelah sang istri mengetahui cara untuk melemahkan kekuatan sang suami, kemudian ia langsung memberitahu hal tersebut kepada kaum kafir. Ketika suaminya tertidur pulas, seketika ia langsung mengikat kedua kaki Nabi Sam’un dengan empat ikatan dan kedua tangannya dengan jumlah ikatan yang sama. Setelah Nabi Sam’un terikat, seketika itu kekuatannya lenyap, kemudian orang-orang kafir datang dan membawanya pergi ke sebuah bangunan untuk dibunuh. Kesadisan kaum kafir sangat tampak sekali, mereka memperlakukan Nabi Sam’un layaknya binatang dengan memotong kedua telinga dan dua buah bibirnya.

Baca juga:  Inilah Profil Raja Abraha yang Siap Melumat Kakbah

Nabi Sam’un tak berdaya, selain diikat dengan gombak atau gelungnya sendiri, ia juga dikepung serta dipegang oleh komplotan dari kaum kafir. Kekuatannya hilang, ia hanya bisa pasrah dan memohon kepada Allah Swt agar diberikan kekuatan untuk melepaskan ikatan dan merobohkan tiang bangunan ke atas orang-orang kafir. Allah Swt. mengabulkan doa tersebut dan ikatan yang membelenggu Nabi Sam’un a.s. terlepas. Ia kemudian menggerakkan tiang dan seketika atap rumah tersebut roboh membinasakan semua orang kafir. (Imam al-Ghazali, Mukasyafatul al-Qulub al-Muqorrib ila Hadrati ‘Allami al-Ghuyub, Halaman 259)

Pesan tersirat yang bisa kita petik dari kisah ini sekurangnya ada dua hal: 1. Tidak ada yang bisa dipercaya sepenuhnya –hanya Allah yang bisa kita percaya sepenuhnya- sekalipun orang terdekat kita, lebih-lebih ketika diiming-imingi sesuatu (duniawi) yang disenangi hawa nafsu, seperti: emas, uang dan sebagainya, dan 2. Tidak ada daya dan kekuatan yang bisa diandalkan oleh manusia, karena semua hanyalah pemberian dari sang maha kuasa dan semata-mata pertolongan-Nya. Wallahu a’lam Bisshowab.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
3
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top