Sedang Membaca
Burdah dan Vaksin
Penulis Kolom

Mohammad Rifki, lahir di Sumenep 23 November 1991. Sempat nyantri di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Kini tinggal di Sumenep Madura.

Burdah dan Vaksin

Ketika negeri ini dilanda gelombang kedua penularan Covid-19, beberapa bulan lalu, saya bercerita kepada seorang teman. Bahwa di kampung saya hampir tiap malam diadakan pembacaan Qasidah Burdah. Dengan dipimpin oleh kiai-kiai langgar mengeliling kampung.

Warga kampung tampak antusias mengikuti pembacaan Qasidah Burdah. Tidak hanya kaum lelaki, tapi juga ibu-ibu. Anak-anak yang masih belajar daring pun riang gembira menirukan lantunan bait-bait Burdah sambil membawa obor di tangan. Mereka yang tidak bisa ikut, menyumbang makan-minum atau penganan sekedarnya.

Syair gubahan Imam al-Busyiri yang memuat puja-puji pada Nabi Muhammad SAW itu menggema di pojok-pojok kampung, memecah kesunyian malam. Saya yakin di antara mereka sedikit yang paham artinya. Atau bahkan tidak ada. Tapi mereka begitu khusyuk. Sesekali air mata menetes dari pelupuk mata mereka.

Mereka yakin bahwa pembacaan Qasidah Burdah dapat menjauhkan diri mereka, keluarga, dan warga kampung dari marabahaya, termasuk Covid-19. Selain itu, warga kampung juga membakar baju-baju bekas di depan rumah mereka masing-masing. Anggota rumah berkumpul, asap dari baju-baju bekas yang dibakar itu dikipas-kipaskan ke badan. Ada juga yang membuat serabi dengan menghitung jumlah anggota rumah yang kemudian disedekahkan kepada kiai-kiai langgar atau tetangga yang miskin.

Begitulah keyakinan dan/atau upaya warga kampung agar terhindar dari Covid-19. Yang semua itu diperoleh dari laku leluhur mereka. Dimana di masa leluhur mereka dahulu kala, konon juga pernah terjadi suatu wabah yang serupa dengan Covid-19 ini. Cara seperti tersebut di atas itulah yang ditempuh untuk keselamatan jiwa, dan terbukti ‘manjur’.

Baca juga:  Tentang Palestina

Mendengar cerita tersebut, teman saya itu tertawa lepas dan protes. Qasidah Burdah yang dibaca secara bersamaan, katanya, membuat kerumunan dan menjadi pintu masuk penularan virus. Dan upaya-upaya non medis, seperti yang dilakukan oleh warga kampung saya itu, hanya buang-buang waktu dan tenaga. Menurutnya kasus lonjakan maupun penularan Covid-19 (hanya) dapat ditekan dengan mematuhi protokol kesehatan dan meratanya vaksinasi hingga terwujud kekebalan kelompok (herd immunity).

Apa yang diutarakan teman saya itu tidak salah. Karena hal itu merupakan hasil kajian para ahli di dunia kesehatan yang kemudian diimplementasikan pemerintah ke dalam sekian bentuk peraturan. Saya, dalam hal ini bukan menolak hasil kajian para ahli kesehatan, anti medis.

Akan tetapi, memutlakkan suatu wacana (pengobatan medis) dengan mengesampingkan wacana lain (pengobatan tradisional) adalah tindakan yang tidak bijak. Karena jika keberhasilan yang dijadikan tolok ukur daripada penerimaan pengobatan medis, tidak akan pernah menemukan kata akhir. Sebab pengobatan medis yang diklaim higienis, telah melalui uji laboratorium, masuk di akal, tidak selamanya berhasil. Pun demikian dengan pengobatan tradisional yang dipandang tidak masuk akal, tidak higienis, tidak pernah melewati uji laboratorium, tidak selamanya gagal.

Demikian pula apabila yang dijadikan tumpuan adalah rasionalitas. Hal-hal yang dianggap mitos ataupun tahayul ternyata juga rasional. Hanya saja sisi kerasionalan itu belum terungkap sebab belum ada penelitian yang melakukannya. Misalnya tentang air yang dibacakan doa. Kita baru percaya bahwa doa-doa yang ditiupkan pada air mengandung manfaat atau energi positif setelah Masaru Emoto melakukan penelitian dan uji coba.

Baca juga:  Menimbang Eksekusi Mati TKI di Arab Saudi

Karenanya, bagi saya, dua khazanah tersebut (pengobatan medis dan tradisional) seharusnya ditempatkan pada tanda koma, bukan titik. Saya khawatir pandemi ini tengah melatih kita untuk memutlakkan satu wacana tertentu dengan tidak memberi ruang pada wacana lain. Apalagi pemutlakan dimaksud merangsek hingga pada rana sosial-budaya. Maka, dapat dipastikan interaksi kehidupan di masa-masa mendatang tak ubahnya dengan sebuah mesin. Jangan harap ada etika, apalagi estetika!

Nah, saya melihat dua kutub pengetahuan itu harmoni di dalam pesantren. Selama pandemi, dengan keterbatasan dana dan infrastruktur, pesantren menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan anjuran medis atau pemerintah. Misalnya membatasi jam kunjung wali santri, menggelar imtihan secara daring, melakukan menyemprotan desinfektan, swab kepada santri dan mereka yang akan berkunjung ke pesantren dan lain sebagainya. Dan beberapa bulan terakhir aktif melakukan vaksinasi, bekerjasama dengan beberapa pihak.

Selain langkah dhahir seperti tersebut di atas, pesantren juga giat melakukan upaya-upaya batin. Suatu upaya yang dipandang tak masuk akal dan sia-sia oleh teman saya itu. Misalnya menggelar istighosah, membaca qasidah burdah, shalawat nariyah, dan amalan-amalan lain. Tentu saja ini semua karena sikap bijak daripada kiai-kiai pesantren. Wallahu ‘alam

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top