Sedang Membaca
Charles Darwin dan Kultur Melindungi Negara
Penulis Kolom

Penulis merupakan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menjadi reporter di LPM Metamorfosa.

Charles Darwin dan Kultur Melindungi Negara

Terorisdigital

Charles Darwin (1809-1882) mengungkapkan teori menarik bernama Survival Of The Fittest. Teori tesebut awalnya digunakan dalam ilmu biologi. Namun seiring berkembangnya zaman, teori tersebut mulai diterapkan dalam aspek sosial masyarakat. Dalam teori tersebut, Darwin mengatakan “Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling adaptif dalam merespon perubahan”.

Bila ditarik ke arah terorisme, teori tersebut bisa dimanfaatkan untuk menyisir gelombang terorisme di masa pandemi. Pola adaptasi dari kelompok teror merupakan hal mutlak yang harus dipelajari. Apalagi pandemi merubah tatanan konvensional ke arah digital, tentu perombakan besar akan dilakukan oleh mereka yang menyebarkan ideologi kekerasan, baik pola pergerakan, penyusupan ideologi, eksekusi, hingga pengkaderan.

Boy Rafli Amar selaku Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan jika ada peningkatan gelombang terorisme di masa pandemi. Hal ini dibuktikan dengan adanya kenaikan transaksi keuangan yang mencurigakan hingga 101%, yang salah satunya dalam bentuk crowd-funding (urun dana). Transaksi keuangan ini dicurigai Boy Rafli terkait aktivitas terorisme.

Senada dengan itu, data serangan cyber juga meningkat sejak adanya pandemi. Salah satu perusahaan besar Microsoft mengkonfirmasi, jika terdapat 5 juta serangan cyber secara global pada puncak Covid-19 bulan Maret lalu. Bentuk serangan yang paling populer adalah phishing. Diprediksi serangan cyber ini akan tetap ada di tahun 2021.

Baca juga:  Mesir Pernah Bersinar, Jepang pun Datang Belajar

Berkaca pada data tersebut, pemerintah harus melakukan adaptasi terkait penanganan terorisme menuju arah digital. Peningkatan performa teknologi digital perlu dilakukan untuk membunuh dan menangkap kejahatan terorisme. Misalnya akun-akun digital milik pemerintah diperkuat dengan pengaman yang super canggih. Kemudian memperbarui sistem pelacakan digital untuk mengetahui siapa, dimana, dan bagaimana rencana kelompok teroris berikutnya.

Mengingat teori Darwin, adaptasi deradikalisasi mutlak diperlukan untuk merespon perubahan. Wajah dunia yang semakin dicondongkan ke arah digital, harus dihadapi dengan mempersiapkan segala alat yang bisa digunakan dalam dunia digital. Semakin maju alat yang digunakan, semakin besar kemungkinan pemerintah bisa bertahan dan memenangkan pertempuran.

Langkah selanjutnya adalah menyadarkan masyarakat agar tidak terpapar paham kekerasan. Hal ini bisa diakali dengan meningkatkan program literasi. Akan tetapi, literasi yang dilakukan tidak boleh dalam bentuk yang biasa-biasa saja. Diperlukan peningkatan literasi seperti pengenalan isu yang melatarbelakangi terbentuknya radikalisme. Karena di masa pandemi, peningkatan perspektif radikal lebih disebabkan pada isu yang sedang berkembang. Contohnya isu penutupan tempat ibadah di tengah mengganasnya wabah, yang dinilai sebagai salah satu pelanggaran besar.

Isu tersebut direspon masyarakat dengan pernyataan kesetujuan. Apalagi diiringi dengan dalil Al-Qur’an yang ikut menambah keyakinan. Kepercayaan yang sudah mencapai puncak, diekspresikan melalui media sosial. Meme, gambar, video, ataupun tulisan berkaitan penutupan masjid terproduksi secara masal. Pada akhirnya, banyak yang merespon dan menjadi viral.

Baca juga:  Gus Dur, NU dan Sikap Terhadap Palestina

Apabila konten-konten tersebut terus dikonsumsi masyarakat, maka bukan tidak mungkin banyak tindakan teror yang nantinya bermunculan. Akan lebih banyak lagi teror lone-wolf akibat narasi yang menggiring perspektif ke arah kekerasan. Mereka akan mengendalikan jalan pikiran, perilaku, dan keputusan manusia ke arah kekerasan dengan memanfaatkan media digital.

Menghadapi permasalahan tersebut, diperlukan narasi deradikalisasi optimal yang berkaitan dengan isu yang bergulir. Merespon dengan teori yang ilmiah serta bukti-bukti yang akurat. Pemerintah harus selangkah lebih maju dalam membangun narasi anti-radikal dibandingkan kelompok teror. Dengan mengembangkan teknologi dan narasi yang baik, masyarakat akan mudah mencerna tentang bagaimana penyusupan terorisme itu dilakukan.

Pemerintah juga bisa membangun kelompok perdamaian yang berpartisipasi dalam tindakan deradikalisasi. Dukungan dari kelompok ini akan berdampak besar pada lingkungan masyarakat di sekitarnya. Satu orang melakukan edukasi pada satu lingkungan yang berbeda. Apabila hal ini berhasil dilakukan, setidaknya ada ribuan orang yang tertolong oleh narasi terorisme dan radikalisme yang sengaja disebarkan.

Cyber-Terorism adalah bentuk baru dari aksi terorisme. Maka aksi balasan untuk mengantisipasi Cyber-Terorism adalah kerja digital yang cepat, canggih, dan tersusun rapi. Kemenangan bisa diraih, jika pemerintah melakukan adaptasi secara cepat terkait pola terorisme. Hal ini sesuai dengan Teori Darwin, dimana pertahanan tertinggi bisa dicapai apabila mereka bisa cepat beradaptasi dengan apa yang terjadi.

Baca juga:  Dhawuh Kiai Haji Salahuddin Wahid
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top