Sedang Membaca
Syekh Zain, Mbah Mutamakkin dan Thariqah ‘Alawiyyah
Penulis Kolom

Belajar di sejumlah pesantren, dan lain-lain. Kini tinggal di Pati, Jawa Tengah

Syekh Zain, Mbah Mutamakkin dan Thariqah ‘Alawiyyah

Whatsapp Image 2021 09 23 At 18.16.03

Ini sekadar catatan hipotesis awal, dan karena itu masih perlu penelitian lebih jauh lagi, tentang Syekh Zain, dari Yaman, yang konon Mbah Mutamakkin pernah berjumpa dan berguru dengannya, selama kepergian beliau (Mbah Mutamakkin) melaksanakan ibadah haji.

Mbah Mutamakkin, kita tahu, di daerah pantura Jawa Tengah, terutama di kabupaten Pati, adalah masyhur sebagai wali; makamnya ada di desa Kajen; diperingati haulnya tiap tanggal 10 Suro (Asyura’) atau Muharrom.

Hipotesis ini muncul saat saya membaca kitab risalah yang sangat ringkas, yaitu al-Risalah al-Jami’ah wa al-Tadzkirah al-Nafi’ah, karya Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi (lebih tepatnya, hipotesis ini terbetik di kepala ketika saya menceritakan kitab ini dan menyebut nama pengarangnya, saat saya mengajar para tholabah [siswa] di Madrasah Matholi’ul Falah).

Begitu membaca nama ayahnya sang pengarang, Zain, saya jadi ‘kepikiran’ dengan Syekh Zain, dari Yaman, yang konon Mbah Mutamakkin pernah berjumpa dan berguru dengannya itu. Dan Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi, pengarang al-Risalah al-Jami’ah ini, juga hidup di Yaman (artinya, ayah beliau, Zain, juga penduduk Yaman), dalam rentang tahun 1069 sampai 1145 H, atau 1659 hingga 1732 M (bandingkan, nanti, dengan rentang masa hidup Mbah Mutamakkin).

Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi termasuk tokoh sentral di dalam thoriqoh ‘Alawiyyah. Dan beliau ini adalah muridnya Habib Abdullah al-Haddad (1634 – 1720 M), penyusun Rotibul Haddad.

Habib Ahmad bin Novel bin Jindan, dalam salah satu kesempatan, mengatakan bahwa kitab al-Risalah al-Jami’ah ini menjadi fondasi awal bagi siapa yang hendak mengikuti thariqah ‘Alawiyyah. Para Saadah Aali Ba’alawi (السادة آل با علوي) punya tradisi selalu berpesan kepada dzurriyyah (anak turun) mereka dan murid-muridnya agar mempelajari dan menghafalkan risalah ini.

Di bagian awal kitab al-Risalah al-Jami’ah, dikatakan oleh mu’allifnya (pengarangnya; yaitu Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi) bahwa siapa saja yang berkenan mempelajarinya dan mengamalkannya, oleh sang mu’allif didoakan tergolong sebagai “ahlul ‘ilmi zhahiron wa bathinan”. Berikut saya kutipkan teks aslinya:

وبعد، فهذه مسائل مختصرة من بعض كتب حجة الإسلام الغزالي غالبا. من عرفها وعمل بها، نرجو له من الله أن يكون من أهل العلم ظاهرا وباطنا، وبالله التوفيق.

Baca juga:  Ulama Banjar (105): KH. Abdul Chaliq Jafrie

Risalah ini berisikan tiga ilmu sekaligus: tauhid, fiqh dan tasawuf/ilmu al-tazkiyah. Orang bertanya-tanya, siapakah sosok Syekh Zain, yang konon Mbah Mutamakkin pernah berjumpa dan berguru dengannya, itu?

Sekurangnya, atau: setidaknya, ada tiga hipotesis yang sempat muncul di benak dan kepala saya: Pertama, hipotesis (karena sifatnya masih hipotesis, maka bisa benar, bisa juga salah; karena itu mohon dikoreksi jika silap dan kurang tepat) saya adalah: bisa jadi Syekh Zain yang ditemui oleh Mbah Mutamakkin adalah Syekh/Habib Zain yang merupakan ayah dari Habib Ahmad al-Habsyi, pengarang kitab al-Risalah al-Jami’ah wa al-Tadzkirah al-Nafi’ah.

Kedua. Hipotesis turunannya, bisa jadi Mbah Mutamakkin bertemu ketiga sosok ini sekaligus (sebab kisaran tahun hidup ketiganya yang tak terpaut banyak, dan ada keterkaitan di antara ketiganya), yaitu: Syekh Zain, Habib Ahmad (putra Syekh Zain) dan Habib Abdullah al-Haddad (gurunya Habib Ahmad).

Ketiga. Hipotesis turunannya lagi, bisa jadi Mbah Mutamakkin juga penempuh thariqah ‘Alawiyyah. Thariqah ‘Alawiyyah ini tidak terlalu menekankan dimensi ke-ordo-annya. Artinya orang bisa menempuh thoriqoh ini tanpa kelihatan sebagai anggotanya, tidak seperti ‘ordo’ tarekat yang lain (terkait poin ini, mohon saya dikoreksi, jika kurang tepat).

Penjelasan untuk hipotesis nomor tiga ini kira-kira seperti ini: salah satu asas yang dijunjung tinggi oleh para السادة آل با علوي dalam thariqah ‘Alawiyyah adalah asas ilmu, mereka sangat mementingkan ilmu. Dan kita bisa lihat kemiripan terkait asas menjunjung tinggi ilmu ini, dengan prinsip kiai-kiai di Kajen yang juga sangat mementingkan jalan ilmu (pesantren di Kajen tidak dikenal sebagai pesantren yang santri-santrinya diinstruksikan oleh kiai-nya untuk riyadlah/tirakat puasa dan semacamnya; tirakat santri Kajen adalah ‘cengkir’: kencenge pikir [berpikir dengan intens], dan itu artinya adalah jalan tirakat ilmu).

Untuk hipotesis nomor satu dan dua, ada beberapa hal yang saya jadikan sebagai basis penjelas-nya. Pertama, periode rentang waktu hidup yang bersamaan antara Mbah Mutamakkin dan Syekh Zain. Periode hidup Mbah Mutamakkin ada di rentang tahun 1645 hingga 1740 Masehi. Saya belum menemukan periode tahun hidup Syekh Zain (yang ayahnya Habib Ahmad). Tapi kita bisa melakukan perkiraan dari periode hidup putra beliau, yaitu Habib Ahmad. Habib Ahmad hidup dalam rentang tahun 1659 hingga 1732 Masehi.

Baca juga:  Mengenang Mbah Dullah Salam Kajen: Model Dakwah Nyeleneh Khas Kiai Wali

Kedua, kemiripan “hajm” (حجم) atau bentuk ukuran kitab yang ditulis oleh Mbah Mutamakkin dan Habib Ahmad. Dari segi ukuran, ‘Arsyul Muwahhidin (oleh Mbah Mutamakkin) dan al-Risalah al-Jami’ah wa al-Tadzkirah al-Nafi’ah (oleh Habib Ahmad), jumlah lembaran keduanya sama-sama sangat tipis.

Ketiga, kemiripan ‘manhaj’ yang dipakai oleh kedua kitab tersebut. Baik ‘manhaj’ dalam aspek kandungan pembahasan, maupun dari aspek referensi atau kitab rujukan yang dipakai. Dari aspek kandungan pembahasan, kedua kitab tersebut, kurang lebih, bisa dikatakan sama-sama membahas tiga disiplin ilmu sekaligus: akidah, fiqh dan tasawuf.

Dari aspek referensi, kedua kitab tersebut sama-sama merujuk dan mengutip dari kitab-kitab Imam al-Ghazali.

Di bagian awal sekali di dalam kitab al-Risalah al-Jami’ah, secara eksplisit dikatakan oleh Habib Ahmad –sebagaimana tadi sudah saya kutipkan teks aslinya– bahwa risalah ini adalah perasan dan ringkasan dari kitab-kitabnya Hujjatul Islam al-Ghazali (فهذه مسائل مختصرة من بعض كتب حجة الإسلام الغزالي). Dan memang mereka, para السادة آل با علوي, mempunyai perhatian yang besar sekali terhadap kitab-kitab karangan al-Imam al-Ghazali, terutama kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, al-Basith, al-Wasith dan al-Wajiz.

Sementara itu, di bagian menjelang akhir dari kitab ‘Arsyul Muwahhidin, Mbah Mutamakkin mengutip salah satu kitab Imam al-Ghazali, yaitu Misykatul Anwar. Di bagian jelang akhir kitabnya, Mbah Mutamakkin menulis begini:

وقلب العارف لا يتوجه إلى اسمه، بل يتوجه إلى وجوده ونفى وجود غيره، كما قيل في كتاب مشكاة الأنوار: لا إله إلا الله توحيد العوام، لاهو إلا هو توحيد الخواص.

Hipotesis-hipotesis ini akan mendapatkan sokongan argumen lebih jauh, kalau kita lihat warna thoriqoh dan corak tasawuf di dalam gambar yang lebih besar (the whole picture), yaitu warna thoriqoh dan corak tasawuf yang dianut oleh Walisongo (atau: Wali Songo?). Secara umum, warna thoriqoh dan corak tasawuf yang dianut oleh Walisongo adalah tasawuf sunni-amali-akhlaqi.

Baca juga:  Ulama Banjar (52): KH. Hasyim bin H. Jahri

Dan ini sama persis dengan warna thariqah ‘Alawiyyah yang juga bercorak: sunni-amali-akhlaqi (seperti sudah disinggung di bagian sebelumnya, bahwa thariqah ‘Alawiyyah atau para السادة آل با علوي, mempunyai perhatian yang besar sekali terhadap kitab-kitab karangan al-Imam al-Ghazali, terutama kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, al-Basith, al-Wasith dan al-Wajiz; dan kita tahu bahwa corak tasawuf al-Ghazali, terutama di dalam kitab Ihya’, adalah sunni-amali-akhlaqi).

Ini bisa kita cek terhadap beberapa eksponen dari Walisongo. Sunan Giri, misalnya, beliau sangat menekankan aspek pendidikan dan karena itu beliau disebut sebagai peletak dasar sistem pengajaran pesantren (ini berarti cocok dengan salah satu dari lima asas yang dipegangi oleh thoriqoh ‘Alawiyyah, yaitu asas ilmu). Sunan Drajat terkenal dengan ajaran “pepali pitu” atau tujuh ajaran dasar yang sangat menekankan aspek amali-akhlaqi (ini juga sama dengan corak thoriqoh ‘Alawiyyah, karena ‘kiblat’ thariqah ‘Alawiyyah adalah Imam Ghazali, dan ajaran tasawuf al-Ghazali di kitab Ihya’ sangat kuat warna ‘amali-akhlaqinya). Lalu Sunan Bonang; diceritakan bahwa beliau punya karya tulis yang merupakan ringkasan dari kitab Ihya’-nya al-Ghazali (di sini tampak lebih jelas lagi kesamaannya dengan thariqah ‘Alawiyyah).

Ala kulli hal, terjadi kesamaan dan kecocokan antara Mbah Mutamakkin dengan Walisongo: yaitu sama-sama ber-‘manhaj’ thariqah ‘Alawiyyah, yang mana ‘kiblat’ thariqah ‘Alawiyyah ini adalah kitab-kitab karya Imam Ghazali. Hanya saja (lagi-lagi, ini adalah hipotesis saya) Walisongo lebih merujuk kepada Kitab ‘Ihya ‘Ulumiddin, sementara Mbah Mutamakkin lebih me-refer kepada kitab Misykatul Anwar. Hal ini (yakni: fakta bahwa Mbah Mutamakkin lebih me-refer kepada kitab Misykatul Anwar) mungkin yang menjelaskan kesukaan Mbah Mutamakkin pada kisah tentang dewa ruci.

Wallahu a’lam. Wa akhiru da’wana anil-hamdulillahi robbil’alamin.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top