Sedang Membaca
Menambahkan Kata ‘Sayyidina’ di Depan Muhammad
Penulis Kolom

Editor buku "Menolak Wahabi (Sahifa, 2015) dan "Kritik Salafai Wahabi" (Sahifa, 2017)

Menambahkan Kata ‘Sayyidina’ di Depan Muhammad

masa kecil

Ada sebagian umat Islam yang enggan menambahkan “sayyidinâ” (baginda kami) di depan Nabi Muhammad. Alasannya, mereka menolak penambahan itu karena bisa merendahkan kebesaran nama Nabi atau Rasulullah Muhammad. Dan Rasulullah sendiri tidak mencontohkannya.

Sedangkan bagi sebagian besar lainnya, terutama pengikut mazhab Syafi’i, lebih khusus warga Nahdlatul Ulama, selalu menambahkan kata “sayyidinâ” di depan Nabi Muhammad. Kata “sayyidinâ” ditambahkan sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan seorang umat kepada Rasulnya.

Dalam hal ini mari kita simak bagaimana pandangan para ulama salafus saleh ihwal ditambahkannya kata “sayyidinâ” sebagaimana penjelasan yang telah dirangkai oleh Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani dalam kitabnya Sa’adat ad-Darain fi as-Shalat ‘ala Sayyidi al-Kaunain:

Dalam kitab al-Qaul al-Badî’, as-Sakhawi menukil perkataan al-Majd al-Lughawi terkait boleh dan tidaknya menambahkan kata “sayyidinâ”, baik saat dalam shalat atau di luar shalat. Saat shalat, menurut pendapat yang terang, tidak diperbolehkan menambah kata “sayyidinâ” dengan alasan Nabi Saw. tak pernah menambahkannya dalam shalat. Ini sesuai dengan banyak riwayat hadis yang shahih.

Adapun di luar shalat, Nabi memang pernah melarangnya sebagaimana diriwayatkan dalam hadis yang masyhur. Larangan Nabi Saw. memunculkan dua penafsiran: pertama, karena kerendahan hati Rasul Saw; kedua, karena memang tidak menyukai pujian secara langsung semacam itu [karena “sayyidinâ” berarti “baginda kami”].

Namun, banyak hadis lainnya menjelaskan sebaliknya, seperti hadis “Aku adalah sayyid (tuan) anak Adam”, atau ucapannya untuk cucunya al-Hasan “Ini anakku, [al-Hasan] adalah sayyid”, atau ucapan Nabi Saw. kepada Sahabat Sa’ad, “Berdirilah untuk menghormati Sayyid kalian!”, atau ucapan Sahal bin Hunaif pada Nabi saat bertanya tentang amal ibadah sehari-semalam dengan kata panggilan “Ya Sayyidi” (Wahai Bagindaku) seperti yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i, atau model shalawat sahabat Ibnu Mas’ud yang berbunyi “Allâhumma shalli ‘alâ sayyidil mursalîn” (Ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan kepada penghulu para rasul). Semua ini kemudian menjadi dalil kuat yang memperbolehkan penambahan kata “sayyidinâ”, sementara yang tidak membolehkan tak cukup kuat sebagai argumen.

Baca juga:  Menjenguk Indonesia Melalui Gagasan Machiavelli

Sunnah atau Wajib bukan Haram

Syekh Al-Isnawi dalam kitab al-Muhimmât pernah mencatat, dulu Imam Izzuddin bin Abdussalam menambahkan “sayyidinâ” dalam tasyahud shalatnya. Di sinilah letak perbedaan ulama saat menyikapi: mana yang lebih utama antara menjaga kesantunan kepada Nabi Saw. dengan menambah kata “sayyidinâ”, dengan melaksanakan perintah tanpa “sayyidinâ”? Yang pertama sunnah dan yang kedua wajib dengan berdalil pada sebuah hadis “Ucapkan, ‘Allahumma shalli ‘alâ muḫammad’ [tanpa sayyidinâ]!”

Syekh As-Sakhawi berkomentar bahwa membaca shalawat dengan menambah kata “sayyidinâ” sebenarnya juga perintah berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan. Apalagi ada sebuah ungkapan populer Sahabat Ibnu Mas’ud r.a., “Hiasilah shalawat kalian kepada Nabi kalian”. Imam Ibnu Hajar dan Ar-Ramli juga sependapat mengenai disunnahkannya penambahan kata “sayyidinâ”, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Syekh Muhammad al-Fasi dalam bukunya, komentar atas Dalâ`il al-Khairât, mengatakan, boleh menambah kata “sayyidinâ”, “maulânâ” dan yang sejenis atau kata yang mengindikasikan makna “mengagungkan dan memuliakan” Nabi Saw. Hanya saja jika berkaitan dengan ibadah, shalat misalnya, maka harus mengikuti instruksi riwayat hadis. Imam al-Barzali mengatakan bahwa tak ada perselisihan pendapat tentang kebolehan apa saja yang mengindikasikan makna mengagungkan dan memuliakan bagi Nabi Saw., dengan memakai kata apa pun.

Bahkan Syekh Ibnu al-Arabi al-Maliki pernah mengarangnya hingga seratus nama khusus untuk memuji Nabi Saw. Ia juga menasehati agar tidak meninggalkan kata “sayyidinâ”, karena di dalamnya ada rahasia yang akan terungkap bagi siapa pun yang konsisten membacanya.

Baca juga:  Perspektif Psikologi untuk Masalah Sosial Budaya

Imam as-Suyuti pernah ditanya mengenai hadis “Lâ tusayyidûnî fish shalâh” (Jangan memakai kata ‘sayyidinâ’ saat shalat). “Hadits tersebut tak ada riwayatnya yang valid. Adapun mengenai tidak disebutkannya ‘sayyidinâ’ tatkala Nabi Saw. mengajari para Sahabat tata cara shalat, karena Nabi Saw. tak ingin membanggakan diri”, demikian ungkapan as-Suyuti. Terlebih lagi ada hadis yang menyebutkan, “Aku (Nabi Saw.)  adalah sayyid (tuan/pemimpin) anak Adam As.” Jadi, sudah seharusnya, menurut as-Suyuti, kita untuk mengagungkan dan menghormati Nabi Saw. Apalagi ada larangan khusus memanggil nama Nabi Saw. dengan nama aslinya, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebahagian (yang lain)” (QS. an-Nûr [24]: 63).

Syekh al-Haththab juga menyatakan, yang jelas menurut saya dan yang selalu saya lakukan, baik tatkala shalat maupun di luar shalat, menambah kata ‘sayyidinâ’. Ini yang berlaku di kalangan umat ketika tidak ada riwayat hadisnya. Adapun yang ada riwayatnya tanpa menyebut ‘sayyidinâ’ maka biasanya tidak ditambah karena ingin mengikuti jejak Nabi Saw. Ini pendapat Syekh Zarruq dan dipraktekkan dalam kitab Dalâ`il al-Khairât [oleh penulisnya al-Jazuli]. Tapi ini terjadi hanya dalam penulisan. Adapun dalam pengujarannya, semestinya tak meninggalkan kata ‘sayyidinâ’, entah itu di dalam shalat atau di luar shalat. Ungkapan ini disarikan dari kitab Kunûz al-Asrâr karya al-Harusyi dan ar-Rimaḫ karya Umar al-Fauti.

Syekh Al-Harusyi menambahkan, gurunya al-‘Iyyasyi pernah ditanya mengenai penambahan kata sayyidinâ. Dia menjawab, “Assiyadah ‘ibâdah” (Menambah kata ‘sayyidinâ’ termasuk ibadah). Di sini menjadi semakin jelas bahwa seorang yang membaca shalawat memiliki niat untuk mengagungkan Nabi Saw. Maka, tak ada alasan lagi untuk tidak menambah kata tersebut karena ia menjadi simbol pengagungan pada Rasulullah Saw.

Baca juga:  Sajian Khusus: Agama dan Pelintiran Kebencian

Imam Ibnu Hajar dalam ad-Durr al-Mandhûd, berkomentar terkait masalah ini, katanya, “Al-Majd al-Lughawi tidak setuju adanya penambahan kata “sayyidinâ” karena mengikuti petunjuk eksplisit hadits. Sementara, al-Isnawi mengatakan, ‘Seingatku, Izzuddin bin Abdussalam berpendapat bahwa hal ini berkaitan dengan mana yang lebih utama: melaksanakan perintah atau menjaga kesopanan?

Imam Ibnu Hajar dalam Syarḫ al-Irsyâd, lebih condong dengan pendapat yang mengatakan bahwa menjaga kesopanan lebih utama, mengingat Sahabat Abu Bakar r.a. pernah melakukannya saat diperintah oleh Nabi Saw. untuk menjadi imam shalat. Abu Bakar berdiri agak ke belakang dan tak mau menempati tempat yang biasa dipakai oleh Rasulullah Saw. Ketika selesai shalat Abu Bakar ditanya mengapa melakukan hal itu? Abu Bakar menjawab, “Tak pantas bagi seorang Abu Bakar untuk menempati tempat itu.” Cerita ini dibenarkan oleh Nabi Saw. secara langsung. Sehingga, darinya bisa disimpulkan bahwa menjaga kesopanan lebih utama daripada melaksanakan perintah, sementara perintah itu sendiri tidak mengindikasikan ketegasan.

Imam Ibnu Hajar menyanggah fatwa Ibnu Taimiyah tentang larangan menambahkan kata “sayyidinâ” karena tidak memiliki landasan yang jelas. Ibnu Mas’ud r.a. menyatakan,  “Hiasilah bacaan shalawat pada Nabi kalian!” apakah dengan tambahan “sayyidinâ” atau lainnya yang terpuji, baik dalam shalat atau di luar shalat.

Imam Jalaluddin al-Mahalli pernah mengatakan, ‘Menjaga kesopanan saat membaca shalawat kepada Nabi Saw. disyariatkan dengan menambah kata “sayyidinâ”, dalam kondisi apa pun.” Ibnu Hajar dalam rangka menyanggah keharaman memanggil Nabi Saw. dengan namanya dan julukannya adalah riwayat yang bersumber dari Qatadah, ia berkata, “Allah Swt. memerintahkan agar menambahkan wibawa kepada Nabi-Nya, mengelukannya, mengagungkannya dan mempertuankannya.” Jadi, mengucapkan “sayyidinâ” adalah baik dalam kondisi apa pun terhadap Rasulullah Saw. Wallahu A’lam

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
2
Senang
2
Terhibur
1
Terinspirasi
2
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top