Sedang Membaca
Pengajian Tuan Guru dan Penanaman Sistem Nilai di Pulau Lombok
Muhyidin Azmi
Penulis Kolom

Alumni Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tinggal di Aikmel Lombok Timur.

Pengajian Tuan Guru dan Penanaman Sistem Nilai di Pulau Lombok

Eksistensi Islam di Pulau Lombok: Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima

Sama seperti Kyai di pulau Jawa, Tuan Guru di pulau Lombok juga merupakan instrumen vital dalam mendorong dan pembinaan sumber daya manusiadi. Sebagaimana disebutkan oleh Geertz dan Hiroko Hirokoshi dalam penelitiannya menunjukkan bahwa Kiyai merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam membina kehidupan sosial suatu masyarakat. Hari ini ttradisi ke-Tuan Guru-an di pulau Lombok semakin mapan dan menjadi satu-satunya panggilan tertinggi bagi tokoh agama di pulau Lombok.

Semua yang penah mencicipi belajar ke Timur Tengah kelak ketika pulangnya akan mendapat sematan gelar Tuan Guru dari masyarakat. Dalam aktivitas kehidupan sosial di Lombok, Tuan Guru dikatakan sebagai sebagai sosok yang tegas yang dengan demikian juga dimanfaatkan sebagai teladan yang baik bagi masyarakat setempat dalam menjalani siklus kehidupan. Tuan Guru dalam pandangan dan keyakinan masyarakat Sasak dikatakan sebagai tokoh yang akan mampu merubah pandangan dan prilaku masyarakat menuju arah yang lebih baik.

Masyarakat muslim Sasak, dalam menjalankan kehidupan sehari-hari (sosial dan religius) selalu menstandarisasikan tentang apa yang disebut baik dan tentang apa yang disebut buruk kepada apa yang telah dikatankan atau diajarkan oleh Tuan Guru kepada mereka, entah itu dalam suatu majelis pengajian ataupun tidak. Tuan Guru merupakan sosok pemimpin atau tokoh agama dalam suatu kelompok komunitas (muslim Sasak) yang tidak hanyak memiliki peran untuk melakukan penyampaian, pengajaran, penyebaran ajaran agama. Selain akan hal tersebut, Tuan Guru juga memiliki peran untuk menerapkan aturan-aturan moral bagi masyarakat muslim Sasak, yang dalam hal ini disebut sebagai sebuah gerakan perjuangan dari Tuan Guru untuk mendorong terjadinya suatu perubahan sikap atau tingkah laku.

Proses penanaman sistem nilai yang dilakukan oleh Tuan Guru dilakukan melalaui media dakwah dalam bentuk pengajian, yang dilakukan secara reguler. Pengajian diadakan di tempat-tempat atau masjid-masjid yang telah ditentukan sebelumnya, selain itu pengajian juga dilakukan setelah Tuan Guru mendapat undangan dari masyarakat setempa. Tidak jarang juga, terdapat Tuan Guru yang telah menentukan jawal pengajiannya sendiri. Pengajian seperti ini, biasanya dilakukan oleh Tuan Guru di kampung tempat tinggalnya sendiri.

Dalam konteks dakwah, Tuan Guru melalui majelis pengajian telah menjadi tren tersendiri di masyarakat Lombok yang disebabkan oleh semangat keberagaman dan semangat fanatisme masyarakat kepada sosok Tuan Guru yang menjadi panutan mereka. Dalam majlis pengajian yang sempat penulis amati dan cermati, komunikasi dialog antara jama’ah menjadi ciri khas dari Tuan Guru dalam mengisi atau memberi ceramah dalam pengajian. Kemudian dalam majelis pengajian, Tuan Guru menggunakan bahasa yang persuasif dan doktrinal, dalam artian bahwa inti dari pengajiannya tidak hanya mengarah kepada pemahaman kognitif masyarakat, akan tetapi lebih kepada upaya untuk menjadikannya sebagai sikap hidupyang semestinya dilakukan.

Baca juga:  Rekonstruksi Nalar Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani

Dalam majlis pengajian Tuan Guru, selain menyampaikan nilai-nilai keislaman yang bersumber dari al-Qur’an, al-Sunnah, dan kitab-kitab karangan para ulama. Tuan Guru secara tidak langsung juga menanamkan sistem nilai melalui caranya menyampaikan pengajian. Seperti cara memegang mikropon dengan tangan kanan, sopan saat duduk, juga lembut saat menyampaikan isi ceramahnya (kesopanan).

Selain hal tersebut, terdapat juga beberapa cara dakwah yang dilakukan oleh Tuan Guru dalam menanam nilai-nilai keislaman di pulau Lombok. Pertama, dalam mendakwahkan ajaran Islam Tuan Guru juga menggunakan media kesenian dengan cara menciptakan lagu sebagai mendia dakwahnya. Seperti yang telah dilakukan oleh TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang menciptakan lagu yang berjudul “Pacu Gama”, lagu tersebut merupakan ajakan untuk taat dalam beragama dan menjadi muslim yang baik.

Diantara petika liriknya: “inak amak-ku, semeton jaringku pade, ndek narak ita gin kekal lek dunia. Daka’ te sugih daka’ te bangsa mulia, ndek arak guna, mun ndek arak agama.” Lirik lagu tersebut memberikan pesan yang mendalam; bahwa agamalah yang penting bagi manusia, harta dan kebangsawanan bukanlah hal yang utama.

Kedua, dalam memuluskan jalan dakwahnya Tuan Guru juga mendirikan ormas Islam seperti yang telah dilakukan juga oleh TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang mendirikan ormas Islam Nahdlatul Wathan. Dakwah Tuan Guru merupakan senjata utama yang digunakan oleh Tuan Guru dalam mengajarkan dan memelihara nilai keislaman, selain itu dakwah yang dilakukan oleh Tuan Guru juga merupakan alat komunikasi dengan masyarakat di pulau Lombok.

Tuan Guru dalam mengajarkan atau menanamkan ajarannya kepada murid-murid atau jama’ahnya, selalu menekankan kepada para jama’ahnya tentang begitu pentingnya belajar tentang akhlak, karena kehancuran suatu peradaban itu disebabkan oleh lemahnya akhlak dan tipisnya rasa keagamaan. Tuan Guru berpendapat, bahwa agama merupakan aspek yang palingpenting dalam keberlangsungan hidup karena agama merupakan perangkat untuk mengendalikan akhlak, baik di tengah kehidupan bermasyarakat ataupun untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak.

Akhlak bagi Tuan Guru merupakan suatu term yang menjadi fokus dakwah keagamaannya dalam membentuk suatu kerukunan umat dalam beragama dan bermasyarakat, hakikat dakwah yang dilakukan oleh Tuan Guru ialah menyiapkan manusia agar mampu memperoleh kemajuan dalam menjalankan syariat agama, menjalankan kehidupan bermasyarakat, dan menjadikan manusia yang berakhlakul karimah. Menurut al-Ghazali, akhlak merupakan seluruh aspek kehidupan manusia baik sebagai perorangan ataupun berkelompok.

Baca juga:  Bung Hatta, Buku, dan Karya Sastra

Muslim pada umumnya, menempatkan penegasan kepada sunnah sebagai representasi dari praktek-praktek Nabi Muhammad Saw. Begitu juga dengan Tuan Guru,menurunkan pengetahuan tentang akhlaknya dari berbagai hadists Nabi yang selanjutnya akan dijadikan atau diterapkan dalam laku dan praktek kehidupan sosial dan keagamaan. Tuan Guru dalam majelis pengajinanya, mengatakan bahwa akhlak yang baik ialah sifat dari para Nabi dan orang-orang Siddik. Sedangkan akhlak yang buruk merupakan sifat dari syaitan dan orang-orang tercela, maka dapat digariskan bahwa akhlak yang baik dalam perspektif pemikiran Tuan Guru dapat dibagi menjadi dua jenis.

Pertama, perbuatan baik terhadap Tuhan yang berupa melakukan kewajiban kita sebagai manusia ialah senantiasa untuk melakukan ibadah. Kedua, perbuatan baik sesama manusia dan makhluk-makhluknya. Dalam hal ini, Tuan Guru membahasakannya sebagai akhlakul karimah ialah segala tingkah laku atau perbuatan manusia yang berkolerasi pada kebaikan, sopan terhadap orang lain di luar dirinya dengan selalu mengharapkan ridho dari Allah SWT.

Selain akan hal tersebut, dijelaskan bahwa terdapat juga sistem nilai yang diajarkan oleh TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam salah satu syairnya yang berbunyi; “sayang sekali hidupnya semua, jar-Majrurunya dunia belaka. Mereka lupa ayat Rirquha dan lupa ayat Makhraja”, yang dimaksud atau yang disinggung dalam kalimat syair tersebut ialah dalam menjalani kehidupan di dunia seorang hamba dituntut untuk tidak terjerumus pada hal-hal yang hanya memiliki konotasi keduniawian, seorang hamba dituntut untuk menyeimbangkan perbuatannya di dunia dengan hal-hal yang bersifat duniawi dan akhirat.

Dalam majelis pengajian, Tuan Guru juga sering menanamkan etos dalam beragamakepada masyarakat. Menurutnya, untuk menjadi seorang muslim yang baik,seseorang harus mengutamakan Iman, Islam dan Ihsan. Sebab pada hakikatnya, dalam menjalankan syariat agama tidak hanya sebatas iman yang perlu kita tekankan akan tetapijuga terdapat aspek penting selain iman adalah ihsan.

Dalam Kitab Tanwir Al-Qulub yang dikaji dalam suatu majlis pengajian yang dipimpin oleh Tuan Guru, disebutkan bahwa salah satu kategori shufi disebut “AlMuhtarif” (pekerja), baik itu profesi sebagai petani, pedagang atau kerja kantoran asalkan bekerja sesuai dengan tuntunan syari’at agama dan tidak melalaikan ubudiyah. Apapun yang kita lakukan pada hakikatnya merupakan (tujuan) apa yang ditakdirkan Allah untuk kita.

Selain itu, dijelaskan juga tentang sistem nilai dalam bermasyarakat; “kalau kalian ingin hidup dengan nyaman dan damai, janganlah kalian suka mengganggu orang lain, apalagi hingga menyakitinya. Namun, jikalau ada orang lain yang mengganggu kalian, maka bersyukurlah kepada Allah SWT dan berterima kasihlah padanya (yang mengganggu kalian).”

Baca juga:  Ulama Banjar (11): KH. Ahmad Zaini

Lebih lanjut, TGB, Dr. H. M. Zainul Majdi, MA menjelaskan, bahwa “tidak semua langkah (perbuatan) yang baik akan direspon dengan baik oleh orang lain, akan tetapi jika hidupmu hanya untuk mendengarkan perkataan orang lain maka tidak satupun akan bisa engkau lakukan. Kurang lebihnya cukup Allah yang menjadi penolong” dan “akhlak tempatnya di atas ilmu, maka tidak ada gunanya orang yang berilmu tetapi tidak berakhlak”.

Dalam salah satu literatur juga disebutkan, bahwa Tuan Guru di pulau Lombok sering menunjukan semangat dan jiwa ukhwah islamiyah dalam berlaku sosial ataupun dalam menjalankan dakwah keagamaan, kemudian sikap tersebut ditanamkan kepada murid-murid atau para jama’ahnya. Tidaklah mengherankan, jika di kemudian hari banyak dari murid-murid atau para jama’ah dari Tuan Guru banyak yang tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sukses ditinjau dari sisi keagamaan, kemasyarakatan, dan kemanusiaan.

Tuan Guru dalam menyebarkan dan penanaman nilai-nilai agama Islam selalu menitikberatkan pada dialektika antara jama’ah yang mengikuti pengajian, sebab Tuan Guru dan para pengikutnya ialah dua substansi sosial yang memiliki perhatian yang sama untuk membangun daerah mereka bersama-sama bergantung pada kualitas keagamaan. Dalam mengembangkan dan penanaman nilai-nilai keislaman, Tuan Guru juga menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang bertumpu pada kualitas moral yang didasarkan pada pelajaran Akhlak.

Dalam majelis pengajian yang dibuka oleh Tuan Guru baik untuk masyarakat luas, Tuan Guru lebih banyak membawakan kitab-kitab yang bernuansa akhlak yang menekankan pada pengajaran etika. Seperti Kitab Ihya Ulumuddin, Kitab Siyar Al-Salikin maupun yang diajarkan setiap hari kepada santri seperti Nashaihul Ibad, NashaihDiniyyah, Ayyuhal Walad, Akhlaq Lil Banin, dan seterusnya.

Dari beberapa paparan yang telah disebutkan di atas menunjukan bahwa, Tuan Guru dalam pengajiannya selalu mencerminkan, mengajarkan, atau menanamkan sistem nilai kepada masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa Tuan Guru dalam menanamkan sistem nilai kepada masyarakat menlalaui pengajian yang dilakukannya, Tuan Guru tidak menunjukannya secara langsung kepada masyarakat dalam laku kehidupan sehari-hari.

Hal ini dikarenakan Tuan Guru hanya melakukan komunikasi dengan masyarakat saat mengisi sebuauh pengajian. Kecuali pada waktu-waktu yang tertendu seperti menerima undangan di acara-acara pesta masyarakat, pada momen tersebutlah Tuan Guru melakukan interaksi sosial bersama masyarakat. Hal tersebut kemudian menunjukan afirmasi Tuan Guru pada tradisi-tradisi lokal seperti Walimah Ursy, Walimah Safar, dan Walimah Khitan.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top