Sedang Membaca
Eksistensi Islam di Pulau Lombok: Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima
Muhyidin Azmi
Penulis Kolom

Alumni Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tinggal di Aikmel Lombok Timur.

Eksistensi Islam di Pulau Lombok: Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima

Eksistensi Islam di Pulau Lombok: Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima

Sejarah awal munculnya islamisasi di pulau Lombok yang berawal dari kontak perdagangan dari berbagai kawasan di Nusantara, terjadi dan berlangsung dengan cara dan pola penyebaran Islam yang bersifat variatif dan bercorak esoteris hingga eksoteris.

Membicarakan seputar Islam di pulau Lombok, tentunya kita akan disuguhkan dengan dua varian keagamaan (Islam) masyarakat suku Sasak di pulau Lombok, ialah Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima. Terdapatnya dua varian Islam di pulau Lombok disebabkan oleh karena para ulama pada saat itu secara keseluruhan sangat memusuhi golongan adat, karena banyak tradisi lama yang bertentangan dengan syari’at Islam yang masih tetap dijalankan.

Keberadaan Islam Wetu Telu di Lombok telah menjadi sebuah diskursus yang cukup menarik untuk dibicarakan, Islam Wetu Telu merupakan nama yang dilekatkan kepada salah satu komunitas masyarakat muslim Sasak yang berada di desa Bayan Lombok Utara. Ajaran-ajaran Islam Wetu Telu dinilai oleh banyak kalangan muslim sebagai sebuah ajaran yang keliru yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits.

Munculnya varian Islam Wetu Telu di Lombok disebabkan oleh kesalahan para pelaku yang menyampaikan Islam yang meninggalkan pulau Lombok lebih cepat dari jadwal sebelum ajaran Islam secara total atau seluruhnya diteruskan kepada masyarakat Sasak. Demikian pula, penilaian lain juga mengungkapkan bahwa munculnya varian Islam Wetu Telu disebabkan oleh sebuah upaya untuk mengaburkan ajaran Islam oleh Pedanda (Pendeta Bali) terhadap masyarakat Sasak menjelang dimulainya perjalanan Islam di Pulau Lombok.

Baca juga:  Tradisi Dugderan di Semarang, Penanda Hari Raya Telah Tiba

Penilaian lain juga mengungkapkan bahwa munculnya variasi Islam Wetu Telu juga dikarena oleh ketidakpastian para mubalig muslim untuk menolak ajaran lokal Sasak yang diterima masyarakat Sasak.

Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima ternyata terdapat kemiripan dan kontras di antara keduanya, apa yang mereka sama-sama percayai secara praktis adalah bahwa mereka (Wetu Telu dan Waktu Lima) sama-sama menaruh harapan di hadapan Allah Swt dan juga mengimani bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah Swt. Kemudian perbedaan di antara keduanya terletak pada masalah keyakinan dan syari’at.

Golongan yang dikenal dengan penganut Islam Waktu Lima merupakan kelompok yang dikatakan telah melalui langkah dan proses Islamisasi secara total, yaitu ajaran Islam Lima Waktu  sebagai Islam yang pada umumnya dikenal oleh daerah setempat yang lebih luas. Islam Watu Lima adalah kelompok Islam yang terbanyak di pulau Lombok, kelompok Islam Waktu Lima lebih menggunkan pedoman ideal Islam sebagai tolak ukur dalam menjalankan ritual dan kehidupan sosial keagamaan mereka.

Kelompok Islam Wetu Telu dikatakan sebagai kelompok yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu berpegang teguh pada tradisi pendahulu mereka. Sebagian besar umat Islam Waktu Lima melihat bahwa model ajaran Islam Wetu Telu merupakan model Islam yang salah, dengan alasan bahwa mereka benar-benar tenggelam dalam praktik ritual mereka yang penuh dengan animisme dan atribusi humanoid. Selain itu, dari pihak lain menyebutkan bahwa Islam Wetu Telu dikatakan sebgai sebuah bentuk keislaman yang sufistik, dan menyalahi para Tuan Guru yang mendakwahi komunitas Islam Wetu Telu. Bahkan juga menuduh kalangan Islam Waktu Lima sebagai sebuah bentuk ortodoksi islam yang otoriter.

Baca juga:  Humor D. Zawawi Imron tentang Jangkrik ABRI

Selain itu, ada juga yang menuduh para Tuan Guru-Tuan Guru Nahdlatul Wathan yang dikatakan menjadi yang paling bertanggung jawab atas stigma terhadap Islam Wetu Telu, akan tetapi pihak yang mengatakan demikian lupa kepada proses dakwahisasi terhadap kalangan Islam Wetu Telu telah terjadi sejak era Tuan Guru Lopan. Barangkali di suatu masa, Islam Wetu Telu memang sufistik akan tetapi tahap tahap regenerasinya mengalami distori. Maka gelombang baru yang sanadnya langsung ke Makkah, yang melek dengan literasi Islam klasik  harus mendakwahi kelompok Islam Wetu Telu.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top