Sedang Membaca
Gus Dur dan Buku NU Menyongsong Tahun 2000
Penulis Kolom

Pengajar di MTs NU Miftahul Falah Dawe.

Gus Dur dan Buku NU Menyongsong Tahun 2000

Cover Buku Nu Menyongsong Tahun 20000

Buku berjudul “NU Menyongsong Tahun 2000” ini terbit pada November 1989 M. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit CV. MA Noer Chamid Pegandon Kendal. Pada pengantar penerbit tertulis 11 Rabiuts Tsani 1410 H bertepatan dengan 10 Nopember 1989. Bisa dikatakan buku ini merupakan buku klasik yang mengulas tentang NU.  

Penerbit menyatakan bahwa buku ini merupakan sebuah buku perdana terbitan CV MA Noer Chamid. “Pada penerbitan perdana ini, kami merasa memperoleh kehormatan yang tiada terhingga karena langsung mendapatkan bimbingan dan dorongan dari guru kami Bapak KH Abdurrahman Wahid, Ketua UmumPengurus Nahdlatul Ulama, bahkan Beliau bersedia memberikan Kata Pengantar,” demikian tulis MA Noer Chamid selaku direktur penerbit.

Ditilik dari tahun terbitnya buku ini, bermakna bahwa saat itu NU dinahkodai oleh KH. Achmad Siddiq sebagai Rais ‘Aam dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Tanfidziyah. Duet kepemimpinan Kiai Ahmad Shiddiq dan Gus Dur ini merupakan hasil dari Muktamar NU ke-27 di Situbondo Jawa Timur.  Hasil lain Muktamar NU ke-27 yang bersejerah bagi perjalanan NU adalah diputuskannya  kembali ke Khittah NU sebagai garis perjuangan dan penerimaan asas tunggal Pancasila. Selain itu, November 1989 merupakan bulan dimana NU melaksanakan  Muktamar ke-28 di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Penulis buku ini adalah Drs H Abdul Karim Husain bin KH Abdurrahman Chusen Kendal Jawa Tengah. Di sampul belakang buku ini dijelaskan bahwa penulis merupakan alumni Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, alumni Fakultas Adab IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, pernah menjadi Asisten Dosen di Fakultas Sastra UGM, dan pernah menjadi Kepala Sekolah Persiapan IAIN (sekarang MAN Kendal). Penulis juga seorang seniman kaligrafi, penulis soal social, budaya, dan agama, serta sebagai pengajar di IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang.

Baca juga:  Gus Dur, Politik, dan Sepak Bola

Secara garis besar buku ini berisi tiga pokok pembahasan. Pertama, buku ini membahas tentang Ide Dasar dan Jati Diri NU. Yang dimaksud dengan Ide Dasar  NU adalah Khittah NU tahun 1926. Dimana NU kembali menjadi organisasi keagamaan, organisasi ulama yang tidak terikat dengan gerakan-gerakan politik praktis. Sedangkan maksud jati diri NU adalah realisasi dari ide dasar tersebut dalam kehidupan sehari-hari serta terwujudnya masyarakat muslim Ahli Sunnah wal Jama’ah yang bahagia dan sejahtera dalam bingkai Negara Pancasila (hal.Viii).

Pada pembahasan pertama ini penulis menguraikan selayang pandang sejarah NU, tanggungjawab ulama, wawasan keislaman, dan wawasan kesejahteraan. Tanggungjawab ulama meliputi bidang keorganisasian, literatur kaum sunni, pelestarian bermadzhab, syi’ar Islam, dan peribadatan. Sedangkan wawasan keislaman menguraikan tentang kaderisasi umat, pondok pesantren, madrasah dan tradisi islami dalam bingkai Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Adapun pembahasan kedua tentang aktualitas dan modernitas. Pada pembahasan ini penulis menekankan pentingnya memahami dan menghayati secara actual dan modern NU dengan Khittah 1926nya. Dimana NU sebagai organisasi ulama harus mengaktualisasikan ke program-programnya dan menjalankan organisasi secara  profesional sesuai dengan garis perjuangan yang telah dirumuskan para ulama.

Sedangkan pada pembahasan yang ketiga penulis menguraikan tentang problematika tahun 2000 yang penuh dengan tantangan. Problematika tahun 2000 antara persoalan politik, ekonomi (dampak industry, kejahatan, pelacuran, narkotika, longgarnya norma moral),  social budaya (sekularisme, individualism, perkembangan teknologi) dan hankam.

Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (74): Nawadhir al-Iyk, Ketika Al-Suyuthi Bicara Ranjang

Penulis mengingatkan NU atau ulama memiliki tanggungjawab besar ikut andil dalam menyelesaikan problematika umat tersebut. Penulis yakin dengan bermodalkan ide dasar NU, jati diri NU, wawasan keulamaan, wawasan keislaman, dan wawasan kesejahteraan, NU akan mampu menyelesaikan problematika tahun 2000 dan menebarkan manfaat bagi masyarakat.

Sebagaimana dikatakan penerbit, buku ini diberi pengantar oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ketua Umum PBNU saat itu. Kata pengantar tersebut tertanggal 3 November 1989. Dalam kata pengantar buku ini Gus Dur memetakan dua macam pendekatan yang digunakan para penulis atau peneliti dalam menghasilkan karya tulis.

Pendekatan pertama, adalah memaparkan keadaan secara apa adanya, tanpa ditutup-tutupi sama sekali, ditilik kekuatan dari tokoh, lembaga atau masyarakat dijadikan sasaran penulisan. Lebih dari itu, Gus Dur menyatakan bahwa pendekatan pertama ini juga dilacak kelemahan-kelemahan tokoh, lembaga, atau masyarakat yang menjadi sasaran penulisan atau penelitian. Kalau perlu, tambah Gus Dur, lakukan penelitian secara mendalam dan kajian berjangka panjang.

Gus Dur mencotohkan pendekatan pertama ini seperti kajian kritis yang dilakukan William Cleveland terhadapa tokoh pemikir muslim Amir Syakib Arsalan. Dimana Cleveland melihat, bahwa Arsalan sebenarnya tidak memiliki keterlibatan secara ideologis yang murni terhadap Islam ketika mengikuti Pan Islamisme-nya Jamaluddin Al Afghani. Kesimpulannya, Arsalan sebenarnya adalah seorang pemimpin dan pemikir yang mempertahankan ideologi karena kepentingan politiknya secara pribadi.

Baca juga:  Diskursus Mahabbah dan Teladan Imam Ghazali dalam Mukasyafah al-Qulub

Berbeda dengan pendekatan pertama, pendekatan yang kedua menurut Gus Dur adalah pendekatan yang mana peneliti hanya mencari kebaikan-kebaikan pada obyek yang menjadi penulisannya. Sebaliknya, peneliti atau penulis berusaha memperkecil pembahasan mengenai kekurangan obyek penelitiannya. Dengan sendirinya, yang muncul adalah idealisasi dari obyek penulisan.

Menurut Gus Dur penulisan buku “NU Menyongsong Tahun 2000” ini menggunakan pendekatan kedua. Dimana penulis berusaha mencari kekuatan-kekuatan NU yang ada. Hasilnya adalah idealisasi NU meski diletakkan dalam konteks persiapan menyongsong tahun 2000.

“Sebuah sumbangan berharga untuk khazanah penulisan tentang NU dalam dunia penulisan kita. Usaha yang perlu didorong dan upaya menarik yang perlu dipantau hasilnya. Selamat membaca!,” demikian Gus Dur mengakhiri pengantarnya.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top