Sedang Membaca
Mitologi Nusa Ina, Perempuan sebagai Juru Damai di Maluku

Penimbah Ilmu di Kota Gudeg selama 6 tahun.

Mitologi Nusa Ina, Perempuan sebagai Juru Damai di Maluku

Kompascom

Bicara Maluku pasti tidak lepas dari situasi konflik tahun 1999-2002 silam. Di tahun yang sama, konflik juga pecah di beberapa daerah seperti Poso dan Kalimantan (perang anti-Madura). Kejadian ini dilatarbelakangi banyak faktor, yang tampak ialah karena perbedaan etnis dan agama. Sedangkan, dari yang tak tampak disebabkan oleh perbedaan pandangan politik para elit nasional, disertai ketimpangan sosio-ekonomi karena Indonesia baru mau keluar dari krisis tahun 1998. Parahnya, konflik Maluku dipoles dengan keterlibatan para mujahidin ex-Afghanistan (Syeirazi, 2020). Padahal, dalam situasi demikian, umat muslim Indonesia harus menegakkan darussalam bukan darul harb. Sungguh ironis kejadian waktu itu di Maluku dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Konflik ini berlangsung selama 3 ½ tahun, terdiri 2 tahun konflik terbuka, dan 1 ½ tahun konflik tertutup dengan jumlah korban sangat besar. Bila dicermati, konflik Maluku merupakan tragedi sipil paling ganas di abad 20 (dan awal abad 21), karena terjadi secara massal dalam jangka waktu cukup panjang.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Konflik Maluku bermula dari Ambon, kemudian merembet ke beberapa pulau lainnya seperti Saparua, Haruku, Seram, Banda Neira, Buru, Ternate, Tidore, dan Halmahera. Dalam situasi demikian, nilai-nilai kebudayaan orang Maluku tentang perdamaian yang tertuang dalam pelagandong, kapata, dll, tercerabut dari akarnya. Perdamaian seolah-olah mitos belaka. Padahal, jika kita telusuri secara historis-antropologis orang Maluku sangat berwatak pendamai. Watak pela-gandong misalnya, ini lahir bukan langsung jadi, melainkan melalui proses seleksi pasca-konflik perang antar-suku di abad-abad yang lampau (Tiwery, 2015). Ketika konflik sosial ini terulang kembali dengan membawa sentimen agama, adalah kemunduran cukup besar dialami masyarakat Maluku waktu itu.

Namun, alhamdulillah, saat ini Maluku mulai berbenah. Di kalangan elit nasional juga mulai sadar bahwa kesatuan dalam perbedaan ialah mutiara bagi kemajuan bersama. Berbicara mengenai kemajuan, maka narasi-narasi tentang konflik masa silam tidak bisa dilupakan begitu saja. Narasi-narasi itu akan terus diulang agar menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya. Sebab, kita menjadi “kita” saat ini ialah karena masa lalu (Klinken, 2014). Dalam ulasan Nurcholish Madjid (Cak Nur) bahwa masa lalu ialah sold line (garis lurus) yang tidak bisa kita ubah lagi, tapi kita bisa memetik hikmah darinya secara positif untuk kita aplikasikan di masa sekarang, dan paling utama ialah mengisinya di masa mendatang karena masih menjadi border line (garis putus-putus).

Ada fakta positif yang tak terlupakan dari konflik Maluku ialah keterlibatan ina (ibu, perempuan) sebagai juru damai akar rumput di Maluku. Memang, konflik cenderung dilekatkan dengan budaya patriarkhi. Dan terkadang, sektarianisme budaya juga disebabkan oleh pemojokan terhadap kaum perempuan (Azyumardi Azra dalam Webinar Alif.ID saat peluncuran buku Wasathiyah Islam). Pemojokan terhadap perempuan ini oleh Fiorenza disebut sebagai kiriosentrisme. Gejala kiriosentrisme banyak kita jumpai dalam teks-teks kitab suci, baik Kristen maupun Islam. Oleh sebab itu, harus ada penelaahan secara kristis terhadap teks-teks kiriosentrisme ini seperti dilakukan Syeirazi (2020) dan Tiwery (2015), sehingga perempuan mendapat tempat yang layak dihadapan publik.

Terkait pemojokan terhadap perempuan, tak sedikit ilmuwan pesimis dengan proses penyelesaian konflik Maluku di Malino pada bulan Februari 2002 lalu (Seperti, Klinken, 2014; dan Tiwery, 2015). Menurut Tiwery (2015) bahwa proses penyelesaian konflik itu kurang punya roh “perdamaian” karena yang terlibat didalamnya paling banyak di dominiasi para laki-laki.

Di sisi lainnya, Klinken (2014) mengatakan bahwa proses penyelesaian konflik itu masih setengah hati karena ada ketakutan membuka kebenaran akan “luka lama”. Jika kita mau lihat secara faktual, yang paling merasakan dampak dari konflik Maluku ialah perempuan dan anak-anak (Tiwery, 2015). Artinya, perempuanlah yang paling berhak dan layak menuntut perdamaian di Maluku, dan secara psikologis perempuan lebih berterus-terang membuka “luka lama” dibanding laki-laki. Inilah fakta, terlepas dari perjanjian Malino, perdamaian di Maluku bisa terealisasi akibat keterlibatan ina (ibu; perempuan) di Maluku.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Apakah “Tasbih” Itu? Kok Ada dalam Tradisi Islam, Katolik, Hindu, Buddha, bahkan di Dunia Politik?

Tiwery (2015) secara gamblang menjelaskan bahwa keterlibatan ina sebagai juru damai di Maluku terlihat ketika para ama (bapak; laki-laki) sibuk dengan perang antar-saudara. Sebaliknya para ina lebih sibuk sebagai pedagang ikan dan sayur di pasar untuk kehidupan keluarga mereka sehari-hari. Selama di pasar, para ina terus menarasikan isu-isu perdamaian lintas agama. Seiring berjalannya waktu, karena pasar sebagai titik pertemuan dari berbagai pihak, akhirnya isu perdamaian pun tersebar dan menjadi terealisasi di kemudian hari. Semua ini adalah upaya para ina, tanpa mengecualikan peran laki-laki, para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lainnya. Fakta ini memunculkan pertanyaan baru, kenapa para ina di Maluku paling semangat membicarakan perdamaian? Apakah ada konsep kebudayaan dibalik alam bawah sadar para ina sehingga mengharuskan mereka berperan sebagai juru damai di Maluku?

Ini adalah pertanyaan menarik yang harus dijawab segera, mungkin bisa menjadi patokan bagi generasi selanjutnya.

Mitologi Nusa Ina di Maluku

Secara bahasa, mitos berasal dari kata Yunani yakni muthos, yang berarti cerita atau alur dari drama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mitos diartikan sebagai cerita suatu bangsa tentang dewa atau pahlawan di zaman dulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul alam semesta, manusia, dan bangsa. Mitos bagi orang Maluku diyakini sebagai kisah sesungguhnya (true tale) tentang asal-usulnya. Dari pengertian ini, secara tersirat, mitos mengandung ungkapan tentang dimensi ontologis, yakni tentang keber-ada-an orang Maluku di masa lampau yang direfleksikan di masa sekarang ini. Mitos yang direfleksikan kemudian mewujud dalam bentuk upacara adat, ritus, dan perilaku moral masyarakat setempat. Artinya, apa yang dilakukan sekarang, terkait upacara adat dan perilaku moral, sebetulnya berangkat dari mitos (mitologi). Karena mitos berkaitan dengan asal-usul, maka pertanyaannya ialah darimana asal-usul orang Maluku, sehingga melahirkan upacara adat dan perilaku moral seperti sekarang ini?

Sebagaimana telah kami bicarakan pada kesempatan lalu (lihat: https://alif.id/read/m-kashai-ramdhani-pelupessy/sejarah-lahirnya-budaya-siwalima-hakikat-persatuan-ala-maluku-b232722p/) bahwa orang Maluku berasal dari pulau Seram, meskipun masih ada sebagian kecil tidak mengakuinya. Namun, masyarakat Maluku umumnya meyakini bahwa mereka berasal dari pulau Seram. Hal ini berdasarkan fakta historis bahwa dulu orang Maluku tersekat dalam dua persekutuan besar, yakni ulisiwa dan ulilima (patasiwa dan patalima) yang kemudian melebur menjadi satu disebut siwalima sekarang menjadi icon provinsi Maluku. Persekutuan ini lahir akibat pertikaian antar-suku di pulau Seram kemudian mendorong masyarakatnya eksodus ke pulau-pulau kecil lainnya. Ketika orang Maluku tersebar ke pulau-pulau kecil, mereka tetap menggabungkan diri dalam dua persekutuan besar tersebut. Misalnya, ulisiwa mencakup pulau Saparua, Haruku, dan Nusalaut, sedangkan ulilima tersebar di sebagian pulau-pulau Lease dan Ambon (Tiwery, 2015). Di pulau Ambon misalnya, ada uli Hitu terdiri dari desa Mamala, Wakal, Kaitetu, Seit, Negeri Lima, Tulehu, Tial, dan Tenga-Tenga, semua desa ini mayoritasnya beragama Islam. Uli Nusaniwe terdiri dari desa Latuhalat, Silale, Urimessing, Kilang, Hatalai, Naku, dan Soya, semua desa ini mayoritasnya beragama Kristen. Uli Hatuhaha terdiri dari desa Pelauw, Rohomoni, Kailolo, Kabao, semua desa ini mayoritas beragama Islam, dan Hulaliu (beragama Kristen). Terakhir, uli Hatawano terdiri dari pulau Saparua, meliputi daerah teluk Hatawano di utara dan Honimua di selatan, di pulau ini mayoritas beragama Kristen dan hanya sebagian kecil beragama Islam yakni desa Siri-Sori Islam, Kulur, dan Iha.

Baca juga:  Drum Band: Musik Islam?

Kedua persekutuan itu belakangan melahirkan beberapa karakteristik tertentu sebagai pembeda diantaranya. Karakteristik sebagai pembeda ini masih tetap dilestarikan masyarakat sampai sekarang. Misalnya, karakteristik ulisiwa ialah batu pamali (dolmen) yang berada di rumah adat baileo selalu diletakkan menghadap ke arah barat, sedangkan untuk ulilima batu pamali-nya menghadap ke arah laut. Karena lahirnya kedua persekutuan ini berawal dari pulau Seram, maka fakta ini menunjukkan bahwa keber-ada-an orang Maluku saat ini berasal dari sana. Orang Maluku memanggil pulau Seram dengan sebutan Nusa Ina. Nusa berarti pulau dan ina ialah ibu atau perempuan. Karena tampak pulau Seram lebih besar dibanding pulau-pulau kecil lainnya, maka anggapan masyarakat bahwa pulau Seram-lah yang “melahirkan” pulau-pulau kecil di Maluku. Anggapan ini sekaligus menegaskan bahwa orang Maluku umumnya berasal dari nusa ina.

Berbicara tentang nusa ina mengandung kisah mitologi tersendiri bagi orang Maluku. Masyarakat Maluku mengakui bahwa mitos tentang nusa ina adalah cerita benar dan bersifat kudus (suci). Karena ketika orang Maluku memaknai mitos nusa ina akan membawa mereka menyadari keber-ada-annya di tengah pergaulan sosial sesama orang Maluku, hubungan orang Maluku dengan suku lain, dan keterkaitan orang Maluku dengan alam semesta dan juga Allah (Tuhan). Berikut ini akan kami jelaskan secara detail kisah dari mitos nusa ina.

Kisah nusa ina berawal dari gunung Murkele kecil dan gunung Murkele besar. Kedua gunung ini berbentuk bundar yang dinamakan nusa kupano, sedangkan tanah yang melingkari kedua gunung tersebut dinamai nusa hulawano. Sebagian besar orang Seram meyakini bahwa nusa ina disanggah 5 tiang utama (Tiwery, 2015) yakni; (1) pondasi yang berada dibawah pulau ialah Murkele kecil dan Murkele besar; (2) pondasi di sebelah utara ialah Salalea; (3) pondasi di sebelah selatan ialah Silalousana; (4) pondasi di sebelah barat ialah Nunusaku; dan (5) pondasi di sebelah timur ialah amalia. Kelima tiang ini memiliki nilai spiritual yang khas (Tiwery, 2015). Ini membuktikan bahwa memang masyarakat Nusantara selalu mengkaramatkan angka lima, seperti jari kita ada lima setangan, di Jawa ada konsep molimo, dan Indonesia ada Pancasila (Yudi Latif, Negara Paripurna). Pondasi lima tiang nusa ina itu dipersepsikan sebagai totalitas menyatu dengan kosmos (Tiwery, 2015).

Dalam kisah mitologi nusa ina, hadirnya nusa ina bersamaan dengan kehadiran manusia pertama di pulau Seram bernama Hulamasa atau alifuru ina (perempuan pertama), tinggal di gunung Murkele kecil dan menempati kerajaan Lomine. Kemudian, manusia kedua yang hadir di nusa ina bernama Lupai atau alifuru ama (laki-laki), tinggal di gunung Murkele besar menempati istana Paiyono.  Dari sini bisa dikatakan bahwa secara antropologis, budaya orang Maluku awalnya ialah matriarki, karena manusia pertama yang hadir bersamaan dengan nusa ina ialah perempuan. Disamping itu, sebelum bangsa Eropa datang membawa budaya patriarki (Tiwery, 2015), orang Maluku dulu mengambil garis keturunannya dari perempuan. Faktanya, sampai sekarang masih ada tradisi “anak pulang mama”, tradisi ini menegaskan bahwa penarikan garis keturunan ialah dari seorang ibu.

Gunung Murkele kecil dan besar itu kemudian menjadi sumber kehidupan awal manusia Seram, dan diyakini sebagai leluhur orang Maluku. Dalam versi yang lain, Bartels (2017) menjelaskan bahwa orang Maluku berasal dari sebuah gunung yang terletak di Seram Barat dekat Manusa Manuwe. Gunung itu bernama nunusaku. Gunung ini dianggap keramat dan suci, sehingga gunung itu berbentuk tidak nyata dan tidak bisa dijumpai semua orang. Nunusaku berasal dari kata “nunue” berarti beringin dan “saku” ialah air. Artinya, dibawah pohon beringin (nunue) memancar tiga batang air (saku) yakni sungai Eti, Tala, dan Sapalewa. Ketiga sungai ini masih ada di pulau Seram. Konon, alifuru ina tinggal sekitar pohon beringin tersebut (nunusaku). Hadirnya alifuru ina bersamaan dengan nusa ina diyakini masyarakat berasal dari sang Pencipta bernama Kapua Upu Ila Kahuresi atau belakangan bisa disebut sebagai Allah, Tuhan, atau Yahwe. Sebagaimana ulasan Nurcholish Madjid, bahwa memang penyebutan nama Tuhan itu sendiri berbeda-beda menurut masing-masing bangsa di dunia, tapi hakikatnya semua nama-nama itu punya maksud yang sama yakni Allah SWT itu sendiri.

Baca juga:  Kisah Lebaran dan Keindonesiaan dalam Puisi

Seiring berjalannya waktu, alifuru ina (perempuan) dan alifuru ama (laki-laki) bertemu dan menikah di bumi nusa ina (pulau Seram), dari mereka lahir anak cucu Maluku. Karena kedua leluhur (alifuru ina dan alifuru ama) berasal dari Kapua Upu Ila Kahuresi, maka kedua leluhur itu memiliki derajat yang sama dihadapan Tuhan. Tidak ada yang saling mendominasi antara satu dengan lainnya. Kelak, anak cucu pun memiliki mental seperti itu, yakni tidak saling mendominasi antar-sesama anak cucu. Sekian ulasan tentang mitos nusa ina.

Ina Melihat Perdamaian di Maluku

Maluku termasuk daerah sangat kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Sebagai daerah bahari terbesar di Nusantara, Maluku memiliki potensi laut yang melimpah. Di samping itu, masyarakat Maluku juga terdiri dari beragam etnis, suku, dan dialek bahasa. Ada sekitar 50 suku dan sub-suku di Maluku (Wakano, 2012). Dengan keragaman cukup kaya, ini merupakan harta berharga dimiliki Maluku harus dijaga dan dikelola secara baik oleh anak cucu.

Di tengah keberagaman seperti itu, terkadang muncul konflik-konflik sosial yang tak terhindari. Olehnya itu, kesadaran akan mitos perlu diangkat kembali supaya anak cucu sadar bahwa dulu berasal dari satu rahim yang sama. Karena berasal dari rahim yang sama, maka sejatinya setiap anak cucu harus saling menjaga, menyayangi, dan menyemangati untuk kemajuan bersama.

Mitos tentang nusa ina harus terus dipahami detail oleh anak cucu Maluku, terutama kaum perempuan, bahwa tonggak perdamaian ada di tangan perempuan. Disatu sisi, juga harus menyadari bahwa tidak ada diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, karena kedua insan ini memiliki derajat yang dihadapan Kapua Upu Ila Kahuresi atau Allah SWT. Mitos yang sudah tertanam di alam bahwa sadar para ina (perempuan) harus terus direaktualisasi dan dipelihara, sehingga tetap dan selalu menjadi juru damai di Maluku.

Menurut Tiwery (2015), dalam kepercayaan orang Seram dan Maluku umumnya, bahwa ina selalu memandang anak turunannya dari kejauhan. Ia rindu mendekap anak cucu dalam cinta kasih dan kehangatan tanpa diskriminasi. Anak-anaknya yang tersebar di Maluku juga diberi kebebasan seluas-luasnya untuk memeluk agamanya masing-masing, dan berjuang keras menggapai cita-cita kemakuran pribadi dan sosial. Sebagai ina, ia juga memberi kenyamanan dan melindungi siapa saja yang datang dan tinggal di bumi Maluku. Alhamdulillah, saat ini banyak orang Jawa dan etnis lainnya hidup damai di bumi nusa ina. Suasana ini harus terus dipelihara demi kemajuan bersama.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top