Sedang Membaca
Politik Iqbal & Puisi Kematiannya
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Politik Iqbal & Puisi Kematiannya

Muhammad Iqbal
[blockquote align=”left” author=”Muhammad Iqbal, Javid Namah”]

Ilmu tanpa cinta adalah perabot setan

Ilmu yang dilengkapi cinta memiliki nilai ketuhanan

[/blockquote]

Muhammad Iqbal (1877-1938) adalah salah satu penyair dan filsuf Muslim abad ke-20 yang paling banyak dipelajari di Barat maupun di Timur. Filsafat Iqbal merupakan filsafat harapan, kerja, jihad, dan pengorbanan diri. Sedangkan seruannya adalah seruan kehormatan, kemuliaan, dan kebebasan.

Dia tak jemu-jemunya dalam mendorong berbagai bangsa untuk berjuang demi kebebasan dan kehormatannya. Seruannya itu sendiri ditujukan pada seluruh umat manusia pada umumnya, dan pada kaum Muslimin pada khususnya. Dan seruan serta filsafatnya itu didasarkan pada sejarah Islam.

Sajak-sajak Iqbal, lama kemudian menjadi lagu-lagu perjuangan kaum Muslimin di India dan Pakistan. Tidak ragu lagi bahwa sajak-sajak Iqbal telah menyalakan api perjuangan melawan kekuasaan Inggris di India dan membekali para mujahid dengan harapan, keteguhan, dan pengorbanan.

Di samping itu, Iqbal pun ikut berpartisipasi dalam politik negerinya, baik dengan kata maupun dengan tindakannya. Dia sendiri sering mengepalai pelbagai pertemuan politik. Dan, Iqbal adalah tulang punggung partai Liga Muslim.

Bagi Muhammad ‘Ali Jinnah, Iqbal adalah sosok: “… seorang karib, tokoh, dan filsuf. Pada saat-saat yang paling sulit yang kualami di Liga Muslim, dia bagaikan batu karang. Sekejap pun dia tidak pernah tergoyahkan.”

Pada 1926, para sahabat Iqbal mendorongnya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan Majelis Legislatif di Punjab. Akhirnya, dia mencalonkan diri dan tanpa kesulitan dia terpilih. Pidato-pidatonya dalam majelis ini menjadi saksi dari kerjanya selama dia menjadi anggota.

Sementara itu, kegiatannya di Liga Muslim tidaklah berhenti. Pada 1930, Iqbal mengetuai Konferensi Tahunan Liga Muslim di Allahabad. Kondisi kaum Muslim India kala itu demikian buruknya dan membutuhkan pemimpin yang tangguh.

Iqbal, dalam konferensi itu, menyampaikan pidato menarik perhatian, karena orasi itu didukung oleh argumentsi filosofis, sosial, dan moral.

Dia mengingatkan bahwa persatuan India, pada waktu itu, demikian sulitnya dan tidak mungkin terjadi keseiringan pendapat, kecuali dengan adanya pengakuan dari satu kelompok kepada kelompok yang lain, serta adanya bahu-membahu antara satu sama lain, ujar Iqbal.

Ernest Renan menyatakan bahwa manusia tidak dapat diperbudak baik oleh ras, agama, batas-batas sungai, atau barisan gunung-gunung. Namun, sekelompok besar manusia, yang memiliki penalaran sehat dengan hati yang penuh semangat, dapat saja membentuk suatu kesadaran moral yang biasa disebut bangsa.

Dengan kata lain, suatu bangsa tidak dibentuk oleh kelompok-kelompok atau tanah air, namun oleh perasaan yang menyatukan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain.

Kemudian kata Iqbal lebih lanjut:

Agar tercapai suatu persatuan India dan terbentuknya perasaan yang membentuk suatu bangsa, seperti menurut Renan, hendaknya pelbagai perbedaan sosial dan kelompok-kelompok keagamaan di India tidak boleh menolak kepribadian masing-masing kelompok. Oleh karena itu, dalam mencapai persatuan India, hendaknya kita tidak menuntut dihilangkannya perbedaan-perbedaan antarkelompok. Akan tetapi, hendaknya kita mengakui adanya perbedaan antarkelompok yang ada dan berusaha untuk saling bekerja sama.

Seorang politikus hendaknya mengakui realitas-realitas yang ada dan mendayagunakan itu sebaik-baiknya. Hendaknya kita bisa menemukan sarana kerja sama yang sebaik-baiknya yang bisa melahirkan perdamaian dan ketenangan di muka bumi, dan dapat memecahkan problematika di benua Asia seluruhnya. Merupakan hal ihwal yang menyedihkan sekali, usaha kita ke arah perdamaian di antara kita mengalami kegagalan.

Pidato Iqbal ini sangat erat berkelindan dengan orasi yang disampaikannya pada Konferensi Islam, di mana dia memangku jabatan sebagai ketua sidang tahunan pada 1932. Dalam pidatonya itu, Iqbal menegaskan:

Saya tidak bisa menerima nasionalisme sebagaimana halnya dikenal di Eropa. Penolakanku terhadapnya tidaklah karena merasa khawatir, bahwa perihal itu akan berakibat buruk terhadap kepentingan umat Muslim di India.

Namun, saya menolaknya karena menurut pandangan saya, ia mengandung benih-benih materialisme yang atheis. Ia, menurut saya, merupakan bahaya terbesar bagi kemanusiaan pada masa kita ini.

Tidak ragu lagi, bahwa nasionalisme mempunyai tempat dan dampak dalam kehidupan moral manusia. Kebudayaannya, dan hukum-hukum kesejarahannya. Inilah, menurut saya, hal-hal yang lebih patut sebagai pegangan hidup dan harus dipertahankan. Dan bukannya jengkal bumi yang menjadi bertautan dengan roh manusia berdasarkan kesepakatan.

Pidato ini mengukuhkan pidato Iqbal sebelumnya tentang unsur bangsa-bangsa pada 1930. Pada 1937, dia mengirim surat kepada Muhammad ‘Ali Jinnah, ketua Liga Muslim, di mana dia menjelaskan, “Jalan terbaik yang bisa mengantarkan pada perdamaian di India dalam kondisi yang demikian, hendaknya negeri ini dibagi berdasarkan prinsip-prinsip ras, keagamaan, dan bahasa.”

Muhammad Iqbal adalah orang yang pertama kali menyerukan dibaginya India, sehingga kaum Muslim mempunyai tanah air yang khusus bagi mereka.

Menurutnya, merupakan hal yang tidak mungkin penduduk India hidup sebagai suatu kelompok dan dua kelompok yang saling tolong-menolong. Seruan ini, menurut sebagian pendapat, merupakan seruan yang aneh. Sebagian orang memandangnya sebagai impian orang gila. Dan senyatanya, negara Pakistan lahir sembilan tahun setelah Iqbal wafat (21 April 1938), pada 14 Agustus 1947. Iqbal ditahbiskan sebagai “bapak spiritual” Pakistan.

Pada 1931 dan 1932, Iqbal ikut Konferensi Meja Bundar di London. Konferensi ini membahas konstitusi baru bagi India. Dampak pikiran dan tindakan Iqbal dalam konferensi ini cukup diakui. Dalam perjalanannya ke London, dia lewat Roma, mampir di Kairo selama beberapa hari. Dari Kairo, Iqbal menuju Baitul Makdis untuk menghadiri dan memberi sambutan di Konferensi Islam.

Baca Juga

Pada tahun berikutnya, Iqbal menghadiri Konferensi Meja Bundar ketiga di London. Waktu kembali, dia lewat Spanyol guna menyaksikan peninggalan-peninggalan Islam di sana. Kunjungannya ini memberi inspirasi dalam menggubah sajak-sajak, di antaranya puisinya yang terkenal, Di Masjid Cordova. Dan Iqbal berhasil meminta izin kepada pemerintah Spanyol untuk bisa sembahyang di dalamnya. Puisi itu digubah oleh Iqbal sendiri dan diterbitkan dalam diwan Bal-i Jibril, salah satu karyanya yang masyhur.

Pada 1935, yakni waktu diadakannya reorganisasi terhadap Liga Muslim, Iqbal terpilih sebagai Ketua Cabang Liga Muslim di Punjab. Hal itu terjadi tiga tahun sebelum dia meninggal dunia. Sakitnya yang kronis, tidak membuat Iqbal berhenti dari berpikir, bekerja, menulis, dan menggubah puisi. Surat-suratnya yang ditujukan pada Muhammad ‘Ali Jinnah dan lain-lainnya pada masa akhir hayatnya, menjadi saksi akan ketajaman kalbunya, kecerdasan nalarnya, dan keteguhannya dalam berjuang hingga dia mati.

Dituturkan oleh Raja Hasan–waktu malam meninggalnya Iqbal, dia mengunjunginya–bahwa Iqbal, sepuluh menit sebelum dia meninggal dunia, membacakan sajaknya:

Melodi perpisahan kan bergema kembali atau tidak

Angin Hijaz kan berhembus kembali atau tidak

Saat-saat hidupku kan berakhir

Pujangga lain kan kembali atau tidak

Dan sajak Iqbal:

Kukatakan padamu ciri seorang Mukmin

Bila maut datang, akan merekah senyum di bibir

Demikian itulah keadaan Iqbal pada waktu menyambut kematiannya dalam usia 60 tahun. Dia meletakkan tangan pada jantungnya, dan berkata, “Kini, sakit telah sampai di sini.” Iqbal merintih sebentar dan kemudian dengan tersenyum dia kembali pada Khaliknya. Maut itu dia sambut dengan hati yang tenang. Sesungguhnya kita milik-Nya, dan kepada-Nya-lah kita akan kembali.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top