Sedang Membaca
Mengenal Alexander Jacob Patty, Pahlawan yang Disia-siakan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Mengenal Alexander Jacob Patty, Pahlawan yang Disia-siakan

Muhammad Iqbal

Seiring dengan berkobarnya revolusi komunis Rusia (1917), pemerintah kolonial Hindia Belanda menjadi sangat galau akan aktivitas kelompok kiri dan organisasi politik lainnya, seperti Insulinde atau National Indische Partij (NIP, Partai Nasional Hindia) dan Sarekat Islam, khususnya di kalangan serdadu Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger atau disingkat KNIL, (Angkatan Perang Hindia Belanda). 

Namun, ternyata mereka harus cemas dengan gaham lainnya, yaitu partai politik Ambon sejati yang pertama, Sarekat Ambon, yang didirikan tahun 1920, oleh Alexander Jacob Patty (1901-1957) yang pernah menjadi menjadi anggota Insulinde/NIP. Seperti tokoh-tokoh oposisi Ambon lainnya, ideologi politik A.J. Patty dipengaruhi oleh Insulinde/NIP dan gerakan-gerakan sosial dan politik Indonesia lainnya. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sarekat Ambon terbuka bagi semua orang Ambon baik kristiani maupun muslim, serdadu maupun sipil. Tujuan pendiriannya adalah untuk memperjuangkan kepentingan iktibar dan material rakyat Ambon dan mengembangkan ekonomi tanah kelahirannya.

Ketika Sarekat Ambon didirikan, sedang berkecamuk perdebatan hangat tentang usulan persamaan upah dan status serdadu KNIL tanpa melihat latar belakang etniknya. Hal ihwal ini tentu saja menjadi ancaman langsung bagi serdadu Ambon kristiani dan Manado serta terhadap citra mereka sebagai ras yang lebih “superior”.

Pada umumnya, orang Manado setuju dengan tuntutan persamaan hak dengan suku lainnya, tetapi serdadu Ambon menetang keras dan mendirikan organisasi-organisasi liyan, seperti Onderlinge Steun (Bantuan Timbal Balik) pada 1819 dan De Amboinees.

Patty teguh berprinsip, bahwa orang Ambon harus bersatu dengan semua kelompok etnik lain di Indonesia demi memperoleh kesuksesan dalam sistem kolonial. Dia mendukung pihak yang tidak populer dalam masalah persamaan hak, meskipun sadar bahwa sebagian besar orang Ambon yang hidup di Jawa adalah serdadu KNIL beserta keluarganya. Dus, langkahnya itu penting untuk kemajuan Sarekat Ambon.

Akan tetapi, Patty juga membela tuntutan pembayaran upah dan perlakuan yang setara antara serdadu Indonesia dan Eropa, yang menjadi impian semua serdadu Ambon, dan banyak di antara mereka cukup bersedia mendedikasikan hak superioritasnya terhadap pribumi lain, demi impian yang satu itu.

Dieter Bartels meneroka dengan cerkas dalam karyanya, Di bawah naungan Gunung Nunusaku: Muslim-Kristen hidup berdampingan di Maluku Tengah Jilid II: Sejarah (2017), bahwa pemerintah Hindia Belanda sangat terkejut dan tidak menyangka kalau Sarekat Ambon ternyata justru semakin populer di kalangan serdadu Ambon. Mayoritas dari 300 orang yang menghadiri pertemuan pengukuhannya di Semarang titimangsa 9 Mei 1920 terdiri atas serdadu KNIL.

Hari itu, dua mitos yang mengakar kuat digugat. Pertama, bahwa semua orang Ambon “mencicik suku lain” dan memandang diri mereka berbeda serta lebih tinggi tinimbang kelompok pribumi lainnya. Kedua, bahwa semua orang Ambon sangat tunak kepada Belanda. 

Sejak itu, para pejabat Hindia Belanda semakin jarang menyebutkan ungkapan “Kesetiaan Sepanjang Masa” dan memulai kebijakan baru yang kemudian mengarah ke isolasi politik total bagi para personel KNIL, dengan menggunakan ancaman pencopotan langsung apabila terlibat secara aktif dalam organisasi yang tidak disetujui oleh pemerintah kolonial.

Pemerintah menghubungkan kecabuhan yang terjadi sehari pasca pertemuan perdana Sarekat Ambon dengan gerakan “revolusioner sosialis”, dan Sarekat Ambon dituding menjadi bagian gerakan ini, untuk merongrong KNIL. Tak dinyana kerusuhan itu semata-mata adalah luapan asa ketidakpuasaan umum dari para serdadu, termasuk serdadu non-Ambon.

Setelah basis pendukung utamanya diputus, Sarekat Ambon menghentikan kegiatannya untuk beberapa waktu, tetapi selanjutnya bangkit lagi pada 1922. Setahun kemudian, Sarekat Ambon mendirikan organisasi pendukungnya, yaitu organisasi perempuan bernama Ina Toeni (Wanita Sejati). Senyatanya bahwa sebagian besar anggota organisasi itu adalah para isteri serdadu sekali lagi mengisyaratkan tetap tingginya popularitas Sarekat Ambon di kalangan serdadu KNIL. Para pemimpin militer mulai khawatir lagi akan adanya penyusupan ideologi politik yang tidak dikehendaki di antara para serdadu secara umum.

Peraturan anyar yang menyetarakan hak semua serdadu pribumi (inheemsch) diterapkan tahun 1921. Tapi pada 1925 beberapa peraturan dihapuskan, istilah “pribumi” di dalam peraturan diganti dengan penyebutan etnik, yakni orang Jawa, Timor, Ambon, dan seterusnya. Serdadu Ambon dan Manado langsung digaji sebagai serdadu kelas satu, sementara semua kelompok etnik Indonesia lainnya dimasukkan dalam kategori kelas dua.

Jadi, sebagian supremasi serdadu Ambon dan Manado pada masa lalu direhabilitasi kembali. Perubahan yang sebenarnya tidak merubah substansi itu dapat dikatakan sebagai hasil perjuangan De Amboinees dengan juru bicaranya yang paling fasih, Dolf Pattipeilohy, yang secara tegas menyatakan bahwa orang Ambon kristiani sebagai anti-Komunis yang dapat diandalkan bisa memainkan peran penting dalam menahan rongrongan pihak asing.

Secara tidak langsung, perubahan peraturan itu juga diakibatkan keberhasilan Sarekat Ambon di kalangan serdadu Ambon, yang meyakinkan pemimpin militer untuk menerima sejumlah tuntutan kaum “loyalis” De Amboinees demi memadamkan kepanikan di kalangan prajurit yang berpangkat rendah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Menurut Richard Chauvel dalam bukunya, Nationalists, Soldiers and Separatists: The Ambonese Island from Colonialism to Revolt (1990), bahwa pada 1923, Patty pergi ke Maluku Tengah untuk mendirikan Sarekat Ambon di kampung halamannya.

Di sana ternyata ada jurang pemisah yang menganga antara, di satu sisi, para pemangku adat dan pemimpin agama (kelompok “loyalis”) yang dengan gigih mempertahankan kepentingannya, dan di sisi lain, generasi baru yang sopan dan terdidik, banyak di antaranya guru-guru, yang membela kepentingan penduduk kampung biasa dalam perjuangannya untuk menghentikan eksploitasi ekonomi oleh para penguasa.

Para raja tergabung dalam Regentenbond (Badan Pemimpin Kampung) dan kelompok pendeta dalam organisasi Inlandsche Leraarsbond (Badan Guru Pribumi). Bersama dengan organisasi Persekoetoean Setia Dengan Pandji Nederland (organisasi purnawirawan tentara/serdadu) dan beberapa kelompok liyan, mereka membentuk Sou Maloekoe, yaitu federasi organisasi orang Ambon.

Beberapa di antara anggota kelompok oposisi, yakni kaum intelektual, orang-orang biasa, dan anggota kelompok burger baik kristiani maupun muslim, telah bergabung dengan Insulinde. Namun, seiring dengan kedatangan Patty, banyak yang beralih ke Sarekat Ambon. Patty dengan segera berusaha untuk membantu mengatasi masalah mereka dan bahkan terpilih sebagai anggota Ambonraad (Dewan Ambon), yang didirikan tahun 1921 dengan tujuan memberi kesempatan yang sama bagi pribumi dalam mengambil keputusan politik, dan dengan demikian diharapkan dapat membentuk ketidakpuasan yang menjalar luas.

Akan tetapi kaum mapan loyalis terbukti terlalu kuat dan pihak berwenang Hindia Belanda yang ketakutan pada 1924 mengabulkan tuntutan mereka agar Patty dibuang dari Maluku. Akhirnya, tahun 1925 Patty dibuang ke Bengkulu (Sumatra). Meskipun telah menjadi tawanan politik, dia tetap meneruskan kegiatan politiknya. Patty lantas dipindahkan ke Flores (1930), lalu ke tempat pengasingan (isolatie kolonie) yang angker di Boven Digul, Papua, yang dikhususkan bagi interniran nasionalis paling berbahaya. Patty satu-satunya orang Ambon yang mendapat “kehormatan” tinggi itu.

Selanjutnya, Patty dan pesakitan lainnya diterbangkan ke Australia titimangsa April 1943 sebelum pendudukan Jepang. Walaupun Belanda menuding para tawanan itu mata-mata Jepang, Australia yakin mereka hanya tawanan politik dan membebaskan mereka bersama para tawanan Digul yang lain pasca pemerintah menyatakan bahwa mereka tidak pernah melanggar hukum Australia dan dengan demikian telah ditahan secara ilegal.

Dalam pembuangan, Patty tetap aktif berpolitik. Dia ditahbiskan menjadi Ketua Cabang Partai Kebangsaan Indonesia (PKI)  di kota Mackay (Australia) yang punya hubungan tidak begitu mengikat dengan partai komunis lokal. Setelah dibebaskan dari Kamp Cowra di Australia pada 1943, Patty menetap di Mackay sejak Desember 1943. Sesudah kembali ke Jawa tahun 1946, Patty menjadi Bapak Kaum Republikan Ambon, meskipun pada zaman itu banyak yang berpendapat bahwa pandangan politiknya terlalu radikal.

Arkian, dalam masa pemerintahan Soeharto (Orde Baru), kaum nasionalis Ambon bahkan cuak menyebut nama Patty yang “komunis”. Jangankan diangkat sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan Indonesia (dalam perihal ini perannya lebih berarti daripada Pattimura), dia malah menjadi seseorang yang tidak dikenal sama sekali. Meskipun demikian, jalan utama di daerah bisnis di kota Ambon dinamai “A.Y. Patty”. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di kalangan pengasingan di Belanda, Patty sudah lama tidak dihiraukan tetapi akhir-akhir ini generasi mudanya mulai menaruh perhatian kepada perjuangan Patty dan suatu stichting (yayasan) di Amsterdam diberi nama Alexander Jacob Patty.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top