Sedang Membaca
Maryam dari Basrah
Muhammad Iqbal
Penulis Kolom

Muhammad Iqbal. Sejarawan. Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Palangka Raya. Editor Penerbit Marjin Kiri. Menulis dua buku: Tahun-tahun yang Menentukan Wajah Timur (Yogyakarta: EA Books, 2019), dan Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Soekarno di Amuntai, 27 Januari 1953 (Yogyakarta: Tanda Baca, akan terbit!).

Maryam dari Basrah

Maryam berasal dari Basrah. Maka itu, Maryam al-Bashriyah. Ia adalah tokoh yang semasa dengan Rabi’ah al-‘Adawiyah dan hidup lebih lama darinya. Maryam juga sahabat Rabi’ah, sangat takzim. Makanya banyak cerita Maryam seperti pelayan Rabi’ah. Padahal maryam juga perempuan mulia dan guru yang berwibawa.

Maryam sering memberi kuliah mengenai cinta (mahabbah), dan setiap kali ia mendengar pembicaraan tentang ajaran cinta, ia mengalami ekstase.

Dikatakan bahwa pada suatu hari ia menghadiri kuliah dari seorang pengkhatbah. Ketika pengkhotbah itu mulai berwicara perihal cinta, empedu Maryam pecah dan ia mati saat perkuliahan itu masih berlangsung.

Muhammad bin Ahmad bin Sa’id ar-Razi meriwayatkan dari al-‘Abbas ibn Hamzah melalui Ahmad ibn Abi al-Hawari bahwa ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Umayr menuturkan:

Maryam al-Bashriyah bisa berdiri dalam sembahyang dari awal malam dengan membaca ayat “Dan Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya” (QS 42 (asy-Syura): 19) dan tidak melewati ayat ini sampai fajar tiba.

Sufi perempuan ini berkata:

“Aku tidak pernah sibuk dengan urusan rezekiku, tidak pula aku berlelah-lelah mencarinya sejak aku mendengar pernyataan Allah ‘Azza wa Jalla: Sebab di langitlah rezekimu ada, demikian juga apa yang dijanjikan kepadamu (QS 61 (adz-Dzariyat): 22)”.

Baca juga:  Perempuan Sunda yang Pertama Kali Pidato di Muktamar NU
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top