Sedang Membaca
Sepotong Puisi Faruq Juwaidah atas Konflik Palestina-Israel
Krisna Wahyu Yanuar
Penulis Kolom

Mahasiswa S1 UIN Satu Tulungagung, asal Tulungagung,

Sepotong Puisi Faruq Juwaidah atas Konflik Palestina-Israel

Faruq Juwaidah

Perang antara Israel dan Palestina berlangsung lebih dari dua bulan. Namun  konflik keduanya  terjadi  sebelum penyerangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Tetapi konflik perang ini sudah lama dan terus berturut- turut. Di dalam konflik peperangan tiada yang diuntungkan selain kerugian, genosida, kelaparan, kesusahan yang panjang. Konflik yang tak surut selesai pasti terbungkus rapi dengan agenda atau kepentingan politik. Yang tentunya misi utama adalah perebutan kota suci Yerusalem.

Disamping itu sejak abad dimulai konflik, banyak tokoh- tokoh yang menentang konflik tersebut. Karena Konflik atau peperangan hanya menghasilkan kebencian sosial dan dendam yang tak kunjung usai. Itu juga semakin melahirkan disintegrasi di kalangan masyarakat. Cinta menjadi sebuah dosa yang ditanggung oleh keduanya yang berkonflik. Banyak yang menentang konflik itu, mulai dari kalangan artis, pemain sepak bola, politisi, agamawan, dan penyair.

Salah satu penyair yang lantang juga menyerukan kritik sosial lewat puisi yakni, Faruq Juwaidah. Faruq Juwaidah adalah sastrawan masa modern yang berkebangsaan arab. Beliau populer dengan karya- karyanya yang sarat akan romantisme dan dibumbui sedikit kritikan pedas terhadap realitas sosial. Dalam puisinya selalu menggambarkan bentuk cinta yang tenang, kesederhanaan dan kedalaman bentuk cinta. Walaupun tidak setingkat dengan seniornya yakni Nizar Qabbani. (Zahro Fatimah: 2022)

Faruq Juwaidah merupakan sosok penyair yang kerap kali membawakan puisi yang selalu mengena di hati pembacanya. Selain itu ia juga seorang nasionalis arab, yang gigih mengkritik perubahan sosial dan permasalahan sosial dengan sebuah karya. Puisinya yang terkenal ada puisi “Lau Annanaa Lam Naftariq” ditulis oleh Faruq Juwaidah. Puisi tersebut berkisah tentang kepergian seorang kekasih, dan struktur  puisinya penuh dengan  gaya bahasa tersendiri, penuh metafora. Membangkitkan nalar pembaca  dengan kesedihan, kehilangan dan kesedihan tokoh “aku”. Syair-syair puitisnya menggambarkan perasaan dan suasana yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan banyak orang, khususnya remaja. (Rohmah: 2020)

Baca juga:  Ulama Banjar (176): Drs. H. Misbahulmunir Abbas

Puisi sebagai media penyampaian ekspresi seseorang selalu mengalami gejolak makna yang ada, sesuai pembaca menghayati prosesnya. Puisi kerap kali sebagai alat atau sarana untuk menggambarkan keadaan seseorang, Faruq Juwaidah juga kerap kali memberikan puisi politisnya kepada zionis Israel, sebagai bentuk perlawanan, dan kekecewaan akan konflik Palestina-Israel yang tak kunjung usai.

Faruq Juwaidah dalam bukunya antologi Puisi Qasā`id fī  Riḥābi al-Qudsi. Terdapat 20 judul puisi dalam antologi ini, semuanya bersifat mengungkap bagaimana kondisi Palestina dan khususnya harapan  masa depan yang diimpikan oleh bangsa Palestina  dan arab dan dunia pada umumnya. Perlawanan tersebut menggambarkan sekali bagaimana produktifnya seorang Faruq Juwaidah dalam melahirkan karya- karyanya, bukan dilihat sebagai keberpihakan tetapi, jeniusnya dia yang melahirkan banyak puisi untuk tetap dinikmati. (Purnawati: 2021)

Puisi Cinta Yang Pedas

Kritik sebagai bentuk komunikasi terhadap suatu kebijakan yang dinilai bertentangan dan merugikan beberapa pihak. Kritik bukan suatu kebencian tetapi cinta yang marah yang pedas memberikan respon agar kepedulian sosial kolektif terbangun kembali. Faruq Juwaidah mengungkapkan disalah satu puisinya di bukunya “Qasā`id fī  Riḥābi al-Qudsi”, mengenai konflik yang terjadi, yang berbunyi,

“Maka perdamaian dengan kelemahan adalah peti mati dan kuburan dan pakaian orang yang telanjang serta tuntutan bagi orang yang mengalami kekalahan..

Baca juga:  Sajian Khusus: Beginilah Hadratussyaikh Mencintai Al-Qur'an

Perdamaian dengan pedang adalah tanah air-tanah air yang diberikan kemerdekaan dan kesombongan di hati..

rakyat yang tidak pernah tidur..
Perdamaian itu adalah penjagaan para penunggang kuda terhadap panji-panji mereka dan kita membuat perlindungan dengan pedang dan pena..
Perdamaian itu hendaknya tidak membuat kita melihat anak-anak dilawan oleh pedang pengecut dan pemburu dengan mengalirkan darah..” (Juwaidah: 2009)

Puisi di atas mengkritik dan mengevaluasi, mengenai proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Ketimpangan kekuasaan di antara keduanya menciptakan perdamaian palsu. Kesepakatan selanjutnya di antara mereka tidak menghasilkan perdamaian dan membahayakan posisi mereka. resolusi DK PBB No. 242  berhasil disahkan pada tanggal 22 November 1967, dalam pemungutan suara untuk mencari solusi sederhana terhadap konflik Arab-Israel. Tujuan utama Resolusi DK PBB No. 242: pendudukan tanah melalui perang dan tuntutan agar Israel menarik pasukannya dari wilayah pendudukan tidak dapat diterima. (Purnawati: 2021)

Faruq Juwaidah mengharapkan perdamaian yang sesungguhnya, menciptakan kondisi yang dimungkinkan ada keharmonisan dan keselarasan dalam kedua negara tersebut. Memang dalam proses perdamaian itu memiliki hambatan internal dan eksternal yang berkepanjangan. Faruq Juwaidah tetap konsisten untuk berkarya dan mengawal perdamaian diantara keduanya.

Faruq Juwaidah adalah sosok yang harus diteladani, selain pemberani, karyanya patut diapresiasi sebagai penyair kedua yang romantis, selain Mahmoud Darwis dan Nizar Qabbani. Dalam suatu penggalan puisinya ia juga menyinggung akan spiritual cinta, pencarian akan cinta sejati, puisinya yang berjudul ” Qabla An Numdhi”, yang berbunyi

Baca juga:  Mbah Kiai Ahmad Shodiq: Kiai Sederhana dan Tidak Tergiur Politik

“Aku tahu bahwa suatu hari..

Aku akan pergi di tengah gelap malam dengan dua sayap..

Para kekasih melemparkan diriku pada kebisuan…

Yang diliputi kesedihanku..

Barangkali aku berlalu meninggalkan impian..

Kuhabiskan usia yang memabukkanku..

Membangkitkan hasrat di antara cintaku..” (Gemilang Putri: 2022)

Sebagian penggalan puisi tersebut mengingatkan kita, bahwasanya kita akan berlalu, sebagian diri kita akan hilang, dan pada akhirnya kita bertemu kembali pada Cinta Sejati yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Kedalaman puisi- puisinya adalah sarana kita menghayati kembali tindakan kita sebagai manusia. Dan tetap konsisten akan dakwah “Amar makruf Nahi munkar”. Semoga konflik peperangan segera usai, yang ditakutkan ketika konflik peperangan kedua negara tersebut, tidak lagi mengenal Tuhan diantaranya, kasih sayangnya menjadi sebatas pemaknaan kepentingan pribadi masing- masing. Sekian.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top