Sedang Membaca
Sejarah Nabi Muhammad (1): Pendapat Ahli Falak Tentang Tanggal Lahir Nabi Muhammad, Bukan 12 Rabi’ul Awal
Kholili Kholil
Penulis Kolom

Alumni Pesantren Lirboyo-Kediri. Saat ini mengajar di Pesantren Cangaan Pasuruan, Jawa Timur.

Sejarah Nabi Muhammad (1): Pendapat Ahli Falak Tentang Tanggal Lahir Nabi Muhammad, Bukan 12 Rabi’ul Awal

Sejarah Nabi Muhammad 1

Dunia Islam di masa modern pernah memiliki ilmuwan hebat dalam ilmu eksakta. Ia bernama Mahmud Hamdi Pasha, ia dijuluki Mahmud Al-Falaki. Ia dikenal karena idenya menggabungkan antara data sejarah dengan perhitungan matematis. Nah, si Mahmud Pasha ini pernah melakukan perhitungan ilmiah tentang tanggal lahir nabi besar Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallam. Buku-buku sirah yang kita warisi dari para pendahulu menyebut setidaknya tiga kemungkinan: tanggal 8, 10, dan 12 Rabi’ul awal. Maklum saja, penanggalan lunar (qamariyah) tidak bisa dihitung secara pasti, lain dengan penanggalan surya (syamsiah).

Mahmud Pasha menggabungkan riwayat yang kaya dari kitab sirah Nabi saw dengan perhitungan matematis yang teliti dan pasti. Pertama-tama dia mendasarkan hitungannya dengan wafatnya Sayyid Ibrahim putra Mariyah Qibthiyah pada bulan Dzul Qa’dah tahun sepuluh setelah hijrah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam hadis sahih disebutkan bahwa beliau meninggal ketika terjadi gerhana matahari. Akhirnya para sahabat menghubungkan wafatnya putra Nabi saw dengan gerhana itu. Namun Nabi saw membantahnya, “Bulan dan matahari hanya tanda-tanda dari Allah. Tidak ada hubungannya antara gerhana dan kematian seseorang.”

Lalu Mahmud Al-Falaki mendasarkan perhitungannya kepada beberapa riwayat berikut:

Pertama. Nabi saw sampai ke Madinah pada saat orang Yahudi berpuasa ‘Asyura memperingati selamatnya Nabi Musa dari Laut Merah. Lalu Nabi bersabda: “Kita lebih berhak dengan Nabi Musa ketimbang mereka.” Namun hal ini janggal, karena dalam riwayat lain disebut Nabi sampai ke Madinah pada bulan Rabi’ul awal. Maka maksud ‘Asyura yang dijadikan hari besar orang Yahudi bukan ‘Asyura dalam sistem tanggal Arab, melainkan Yom Kippor yang memang saat itu bertepatan Rabi’ul awal.

Baca juga:  Gus Dur, Kiai Maimoen, dan Sejarah Fakfak-Papua

Kedua. Mahmud mendasarkan hitungannya dengan keterangan dari Mas’udi (w. 956 M) bahwa Nabi saw lahir pada tahun gajah ketika Abrahah menginvasi Ka’bah. Abrahah menginvasi Ka’bah pada tahun 886 kalender Alexander Agung.

Ketiga. Ia juga mendasarkan pada keterangan dari Ibn Atsir (w. 1233 M) bahwa Raja Anusirwan dari Kekaisaran Agung Sasania meninggal tujuh tahun lebih delapan bulan paska kelahiran Nabi saw.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Keempat. Ia mendasarkan juga pada keterangan dari Yahya b. Abu Bakar Al-Magribi dan sejarawan lain bahwa kelahiran Nabi saw bertepatan dengan sejajarnya Saturnus dan Jupiter dalam garis Skorpio (اقتران زحل والمشتري في برج العقرب). Bahkan beberapa astronom menyebut fenomena kesejajaran ini sebagai qiranul millah islamiyah. Sebagai informasi tambahan, fenomena ini dengar-dengar akan terjadi lagi di bulan Desember. Semoga akan lahir bayi lain yang bisa meneladani dan melanjutkan pejuangan Nabi saw. Dengar-dengar lagi, fenomena ini juga terjadi di tahun kesekian awal Masehi alias bertepatan dengan kelahiran Nabi Isa.

Kelima. Nabi saw bersabda, “Di hari itu (Senin) aku dilahirkan. Maka aku ingin berpuasa di hari itu.”

Berdasar fakta-fakta sejarah ini, Mahmud Pasha Al-Falaki melakukan perhitungan yang saya kurang begitu paham. Yang jelas ia kemudian sampai pada kesimpulan bahwa Nabi saw lahir setelah subuh pada hari Senin tanggal 9 bulan Rabi’ul awal alias 20 April tahun 571 Masehi.

Baca juga:  Toleransi Sultan Mehmed II dan Pengakuan Sejarawan Yahudi
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top