Sedang Membaca
Menyimak Dua Gus dari Jauh: Gus Ulil dan Gus Baha`
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Menyimak Dua Gus dari Jauh: Gus Ulil dan Gus Baha`

Kafha

Kehadiran Gus Baha’ (Bahauddin Nursalim) dan Gus Ulil (Ulil Abshar Abdalla) sangatlah berarti buat orang awam agama macam saya. Saya tumbuh jauh dari pondasi agama yang kukuh. Saya bukan orang yang bergumul dengan literatur-literatur keislaman, dengan pemahaman-pemahaman kitab/buku klasik ataupun modern, yang tidak saja benar, tapi juga, dalam bahasa Jawa, pener. Artinya tepat.

Gus Baha’ adalah santri kinasih Mbah Moen, Kiai Maimoen Zubair. Sementara Gus Ulil, publik tahulah, merupakan menantu Gus Mus, Kiai A. Mustofa Bisri. Mafhum, kedua kiai sepuh tersebut, kini, bisa dibilang, sebagai pasak negeri.

Kedua ulama senior yang saya sebut tadi, bukan saja mewarisi (dengan jalan ikhtiar) ilmu-ilmu agama, yang begitu sudah melekat, melainkan simbol keteladanan, dan komitmen atas Islam yang penuh rahmat. Itu yang kemudian terhubung pada santri dan menantu itu.

Gus Ulil kini tampil mengemuka menjadi pengasuh Ngaji Ihya; selaku “kiai online” atas kitab Imam al-Ghazali. Dia mengusung tasawuf sebagai oase di tengah pengagungan materi yang sedemikian dahsyat. Pun Gus Baha, yang rutin menyambangi murid-muridnya—Yogyakarta, dan Bojonegoro—mengajar kitab Tafsir Jalalain.

Dengan metode pembacaan kitab ala pesantren tradisional, diselingi canda-canda segar khas, lagi-lagi ala pesantren, Gus Baha menyelipkan keindahan Islam dari satu kitab ke kitab lain, dari satu hikmah ke hikmah yang lain.

Nah, saya, “santri online”, menyimak dengan penuh kagum dua gus itu dari kejauhan. Walau sering bolong, untunglah dapat diputar, dan belakangan dapat disimak, kedua gus ini, di Spotify. Dengan perangkat itu, Saya dan yang lain, dapat lebih simpel memutarnya di mana saja.

 

Tiap kali mendengar keduanya, setiap kali pula saya mendapati Islam yang penuh rasa peduli, rasa prihatin atas kejumudan. Gus Ulil, yang memang tumbuh dari tradisi pesantren, juga mengembangkan diri dengan ilmu-ilmu modern yang berkembang di Barat, selalu memukau ketika membaca Kitab Ihya.

Sementara Gus Baha’, dalam jagat tafsir Alquran di negeri ini merupakan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar pendidikan nonformal dan nongelar (jujur, yang terakhir ini yang paling bikin gimana gitu).

Baca juga:  Cadar di Pesantren NU

Ya, dalam riwayat pendidikan, Gus Baha’ hanya mengenyam pendidikan dari dua pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri, Kiai Nursalim, di desa Narukan dan Pesantren Al Anwar Karangmangu asuhan Kiai Maimoen Zubair. Namun demikian, penguasaan keilmuan Gus Baha’ sangat diakui oleh para ahli tafsir. Prof. Quraish Shihab pun berkata,

“Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Alquran hingga detail-detail fikih yang tersirat dalam ayat-ayat Alquran seperti Pak Baha’.”

Baca Juga

Yang menarik, Gus Baha’ selain cerdas, tetap tampil dalam kesederhanaan. Ke mana-mana cuma berkemeja putih lengan panjang, plus kopiah hitam yang sedikit ditarik ke belakang. Sungguh, seorang yang tampak biasa, dan jauh dari riuh ketenaran.

“Saya itu kan ditakdir Tuhan untuk mengajar kitab, ya sudah. Saya ngajar, nggak kepikiran dikagumi. Titik. Termasuk dibenci seluruh murid pun ‘lah ben’ (biar saja).” tegas Gus Baha.

“Kita jangan terjebak oleh provokasi ukuran-ukuran yang dicipta masyarakat! Harus begitu, mesti begini. Kalau dituruti bikin repot. Biasa sajalah.”

Hmmm, tabik Gus Baha! Tabik Gus Ulil!

Ungaran-Semarang, 15 April 2019

Lihat Komentar (0)

Komentari