Sedang Membaca
Belajar Agama Tidak Boleh Otodidak
Jazimah
Penulis Kolom

Alumini Pesantren Krapyak, Jogjakarta. Menulis cerita pendek. Kini tinggal di Kendal, Jawa Tengah.

Belajar Agama Tidak Boleh Otodidak

Gus Baha

“Berhentilah membaca buku-buku karya Imam Ghozali.” Begitulah nasihat dari salah seorang Ustad saat saya mengeluhkan kegalauan hati.

“Jiwamu belum sanggup menerimanya. Mencernanya.” Begitulah kurang lebih kelanjutannya.

Buku Kiai Said

Memang, sejak saat itu saya berhenti membaca buku karya ulama tasawuf tersebut. Namun pengaruh yang kadung melekat di jiwa, tak begitu saja sirna. Alhasil, saya beragama dengan rasa kuatir luar biasa, dibayang-bayangi siksa neraka.

Dalam beragama, harus ada keseimbangan antara roja’ dan khouf. Antara harap dan cemas. Antara rasa optimis bahwa Sang Maha Pencipta maha pengasih penyayang, dibarengi kesadaran bahwa Dia adalah yang Maha keras siksaannya.

Ketidakseimbangan antara roja’ dan khouf bisa mengakibatkan sikap njomplang. Terlalu optimis cenderung lalai, terlalu takut akan membuat hidup dicekam paranoia. Serba kuatir, pun dirundung perasaan ngeri. Lupa, bahwa sifat-Nya yang rahman dan rahim disebut dua kali dalam surat al-fatihah. Ummul kitab yang dibaca minimal 17 kali dalam sehari semalam seorang muslim. Melupakan rahman dan rahim-Nya, membuat seseorang ketakutan berlebihan terhadap ancaman siksa api neraka. Jangankan meninggalkan amalan wajib, tertinggal dalam amalan sunnah pun, rasa bersalah mendera. Itulah saya. Dulu.

Segala sesuatu yang berlebihan tidak baik, walaupun sikap atau perbuatan yang pada dasarnya baik. Seperti khouf tadi. Karena kuatir terlanda siksa, melupakan rahman dan rahimnya. Akhirnya, beragama dalam cekaman paranoia. Parahnya lagi, ketakutan parah ini mudah menyebar. Karena saya seorang ibu, maka paranoia beragama menular pada anak-anak. Mereka dekat sekali, intens pergaulannya dengan saya, terlebih karena saya full time mom. Hampir 24 jam menemani mereka.

Baca juga:  Sisi Lain Sejarah Berdirinya NU dan Muhammadiyah

Paranoia menimbulkan insomnia. Kalau terjadi terus-menerus, fatal akibatnya. Pikiran yang tidak diistirahatkan, jelas berbahaya. Maka, kemudian saya berusaha menempuh berbagai ikhtiar agar insomnia tersebut reda.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Saya mengikhtiarinya dengan wirid dan curhat. Membagi apa yang saya rasa dan pikirkan pada orang-orang yang saya percayai, yang saya yakini bisa memberikan secercah solusi.
Ada seorang teman yang memberikan komentar menarik. Tentang ketakutan terhadap Tuhan yang berlebihan. Intinya adalah: sama Tuhan kok buruk sangka.

Saya pun jadi mikir. Iya ya. Saya kok buruk sangka. Padahal saya meyakini Rasulullah Muhammad begitu welas asih. Sangat pemaaf. Tentunya Sang Maha Pencipta lebih dari itu. Maka mengapa harus takut dan kuatir di luar batas kewajaran?

Hidup itu yang penting tidak maksiat dan bisa bermanfaat. Demikian Gus Baha menasihatkan. Maka, dengan pedoman sederhana itu saja sudah cukup. Bismillah, enjoy saja menjalani hidup. Bekerja sewajarnya, ibadah semampunya, bercanda secukupnya, berusaha berguna sesuai dengan kapasitas dan kesempatan yang ada. Selanjutnya, banyak istighfar memohon ampun bilamana ada keliru salah khilaf alpa di mana-mana, sambil selalu memperbaiki tekad agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. Insya Allah.

Sungguh, ajaran agama itu untuk memudahkan segala urusan. Untuk menentramkan hati dan pikiran. Untuk berbagi cinta dan bahagia pada seluruh makhluknya. Bila beragama namun tidak demikian hasilnya, barangkali ada praktik beragama yang perlu diperbaiki.
Wallaahu a’lam.

Baca juga:  "Jene-jene Sappara", Upacara Adat yang Mengajak Bergotong-royong, Bersatu, dan Bertawakal

Siapa yang bisa memberitahu tentang salah tidaknya kita dalam beragama? Tak lain adalah guru, ustaz, kiai, Ajengan. Para warasatul anbiya‘. Para alim yang silsilah keguruannya bisa dirunut sampai sang Guru Agung. Baginda Muhammad SAW. Mengapa harus demikian? Mengapa tidak cukup membaca buku, googling atau menyimak ceramah di You Tube? Karena belajar agama ada tahapannya. Tidak bisa lompat jenjang seenaknya, apalagi njujug menuju level tinggi seperti tasawuf. Kalau njujug, akibatnya seperti yang saya utarakan di awal tulisan ini. Jiwa justru goncang. Tidak kuat. Bahkan kalau tidak segera ditangani, bisa jadi harus berurusan dengan rumah sakit jiwa. Na’udhubillahi min dzalik.

Belajar agama dimulai dari ibadah mahdhah dengan tata cara yang benar. Dimulai dari thaharah. Pengetahuan tentang bersuci. Sebelumnya tentu harus mengenal jenis hadas dan najis. Karena masing-masing mensyaratkan cara bersuci yang berbeda. Kemudian pelaksanaan ibadah. Pelan-pelan dipahami syarat rukunnya, lalu dijalankan sunnah wajibnya, yang makruh apalagi membatalkan ibadah dihindari.

Berusaha menjalankan dengan tekun dan sabar tahap ini, baru kemudian berlanjut ke tahap berikutnya.

Siapa yang bisa memberikan panduan tahapan? Ialah guru yang bashiroh (mata batin)-nya tajam. Yang mewarisi ilmu dari Nabi lewat gurunya, gurunya guru, dan seterusnya. Sumber keilmuannya bisa dipertanggungjawabkan. Demikianlah seharusnya agar agama benar-benar menjadi pelita dan penentram jiwa. Bukan sebaliknya. Wallaahu a’lam.

Baca juga:  Mengulik Drama Simbolik Bung Karno
Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top