Sedang Membaca
Perkembangan Spiritual Masyarakat Kerinci

Perkembangan Spiritual Masyarakat Kerinci

Festival Kerinci

Kerinci adalah suatu daerah yang sangat unik dari segi kedudukan geografisnya, yaitu dikelilingi oleh bukut-bukit disetiap sudutnya. Kerinci juga memiliki kekayan alam yang ada didalamnya hingga sejarah kebudayaan penghuninya. Dalam catatan sejarah kebudayaan Indonesia, Kerinci merupakan daerah yang sangat tua dan memiliki asset cagar budaya yang sangat unik.

Suku Kerinci juga merupakan suku tertua yang ada di Provinsi Jambi, bahkan bisa dikatakan menjadi sebagai salah satu suku bangsa asli yang pertama datang ke Sumatera. Suku kerinci sudah ada sejak zaman Mesolitikum, yaitu berdasarkan penemuan artefak dari obsidian di tepi Danau Kerinci oleh A Van Der Hoop yang mana obsidian tersebut sama dengan alat yang terdapat di Bandung, Jawa Barat, dimana artefak tersebut merupakan inti dari kebudayaan Mesolitikum.

Menurut pakar kehidupan prasejarah, kehidupan masyarakat Suku Kerinci pertama berlangsung antara 1000-2000 SM yang pada saat itu masyarakat Suku Kerinci tinggal di gua-gua dan hanya mengenal berburu binatang, menangkap ikan di sungai, danau serta mengumpulkan makanan disekitarnya.

Pada tahun 4000 SM terjadi perubahan perilaku pada masyarakat Suku Kerinci yang lebih maju, yaitu mereka bisa membuat alat-alat perkakas, senjata dari batu yang diasah, mengenal bercocok tanah dan sudah membuat rumah untuk tempat tinggal.

Baca juga:  Kopi dalam Sejarah Islam: Siapa yang Meracik Kopi untuk Pertama Kali? 

Berabad-abad kemudian, tidak ditemukan keterangan tentang hilangnya masyarakat Suku Kerinci, lalu pada abad ke 6 M muncul Kerajaan Melayu di Jambi sebagai pusat peradaban, dan setelah itu muncullah Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan yang memiliki kekuatan Maritime di Nusantara.

Agama dan budaya merupakan dua unsur yang sangat sulit untuk dipisahkan, dimana agama dan budaya merupakan suatu bentuk dinamisasi perkembangansuatu daerah, etnis, kelompok bahkan individu. Perkembangan agama berjalan seiring dengan berkembangnya budaya, bahkan juga karena agama masyarakat berbudaya.

Pada masa sebelum masuknya islam di kerinci, nenek moyang masyarakat kerinci menganut aliran animisme. Mereka percaya kepada roh-roh nenek moyang, hal-hal ghaib dan benda-benda mistik. Oleh masyarakat umum biasa menyebutnya sebagai kepercayaan terhadap penunggu yang menghuni suatu tempat.

Sebelum masuknya islam, mereka percaya bahwa roh nenek moyanglah yang memberikan pertolongan kepada manusia jika mereka melakukan ritual-ritual tertentu untuk membuat permohonan. Mereka tidak takut terhadap makhluk halus dan sejenisnya malah mereka menjalin persahabatan dengannya.

Dalam wawancara dengan narasumber Buya Maher Toni beliau mengatakan bahwa sebelum masuknya islam, nenek moyang masyarakat kerinci berteman dengan makhluk ghaib berupa jin, mereka sering melakukan ritual untuk memanggil jin-jin dan roh-roh yang mereka percayai itu.

Islam masuk ke Kerinci diperkirakan pada abad ke 13 M, yang membawa agama Islam pertama di Kerinci saat itu adalah Syekh Samiullah yang lebih dikenal dengan nama Siyak Langin. Syekh Samiullah berasal dari bumi Minangkabau yang menikah dengan Puti Dayang Barani, Bahkan sampai saat ini, cerita kisah dari Syekh Samiullah dan barang-barang peninggalannya berupa al-quran dengan hiasan syi’ah masih disimpan oleh orang kerinci. lanjut buya maher toni.

Setelah berkembangnya agama Islam di dalam masyarakat Kerinci, perlahan masyarakat Kerinci yang saat itu masih mempercayai roh-roh nenek moyang diperbaiki dengan Aqidah Agama Islam. Namun, tentu tidak mudah untuk mengubah sesuatu yang telah biasa dilakukan secara terus menerus dalam waktu yang singkat, bahkan itu sangat sulit untuk dilakukan.

Baca juga:  Sajabijah, Orang Nusantara yang Tinggal di Arab Era Umar bin Khattab

Perjuangan para ulama yang saat itu berusaha keras untuk mengubah kebiasaan masayarakat Kerinci yang telah biasa berhubungan dengan roh-roh halus dan jin. Mereka sering melakukan ritual-ritual untuk memanggil roh tersebut. Karena pendekatan para ulama saat itu dalam menyebarkan Islam tidak dengan kekerasan, maka dibuatlah setiap kegiatan acara adat digabungkan dengan unsur Islami.

Walaupun saat ini Islam telah menjadi agama dan kepercayaan hampir semua masyarakat Kerinci, kebudayaan yang bersifat turunan dari pendahulu-pendahulu sebelumnya masih dapat di lihat jelas di lakukan dalam setiap upacara adat, seperti pemanggilan makhluk halus yang dipercaya sebagai roh nenek moyang, kepercayaan kepada benda-benda pusaka yang dapat memberikan keberkahan dan sebagainya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, kebudayaan itu perlahan-lahan mulai ditinggalkan dan pudar. Walaupun masih banyak daerah di Kerinci yang masih membudayakan kebudayaan tersebut, tetapi mereka sesuaikan dengan kebudayaan dan ajaran agama Islam.

Dalam hal ini, Islam sebagai agama yang melarang hal-hal yang demikian, dan para ulama yang paham dengan ajaran Islam sangat berperan penting dalam mengubah masyarakat Kerinci yang dulunya percaya kepada roh-roh halus, percaya kepada jin, dan percaya kepada benda-benda pusaka hingga menjadi beragama Islam dan pengamal ajaran-ajaran agama Islam.

Sejatinya ialah, manusia tidak akan pernah bisa lepas dari budaya. Tetapi harus di ingat, berbudaya tanpa agama tidak akan ada manfaatnya. Berbudayalah sesuai dengan kebudayaan yang ada, namun harus tetap sesuai dan tidak melanggar Ajaran-Ajaran Agama Islam

Baca juga:  Peran Sunan Prapen dan Sunan Giri dalam Penyebaran Islam di Lombok
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top