Sedang Membaca
Hirarki Zaman Dalam Perspektif Hadis
Penulis Kolom

Mahasiswa Pascasarjana UM Parepare Sul-Sel

Hirarki Zaman Dalam Perspektif Hadis

Photo 1577561426384 62154a1e9457

“Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian berikutnya, kemudian berikutnya, kemudian berikutnya.”

Judul diatas adalah hadis Nabi, bahwa yang paling baik itu adalah zaman dimana Nabi hidup bersama para sahabatnya. Kelanjutan hadis itu adalah “kemudian sesudah itu, diucapkan Nabi tiga kali. Kalau kita membaca hadis secara tekstual,berarti zaman Nabi adalah zaman yang terbaik, kemudian zaman para sahabat sepeninggal Nabi, kemudian zaman tabiin,kemudian tabiin-tabiin, dan seterusnya. Itulah adalah logika hirarki. Berarti kita ini sudah berada lapisan yang sangat jauh dari zaman rasul. Memang sebagai seorang muslim yang baik, harus kita imani bahwa zaman Nabi adalah zaman yang terbaik, dalam seluruh aspek kehidupan.

Kita bisa bayangkan, ketika kita akan berbadah, kita  shalat jamaah dengan Nabi, betapa sangat menyejukkan dan tingkat kekhusyukan akan lebih khusu’ karena Nabi yang langsung menjadi imam kita. Sesudah itu kita duduk duduk bersama Nabi setelah shalat, kita akan mendengar langsung dari mulut Nabi perkataan perkataan yang dalam bahasa sekarang adalah hadis nabi. Seluruh tingka laku Nabi kita bisa menyaksikan  langsung, dan itu merupakan juga hadis atau sunnah Nabi, dan kita tidak pernah berdebat tentang kesahihan suatu hadis atau perbuatan Nabi, karena kita hidup bersama-sama dengan Nabi.

Ada masalah masalah keagamaan atau kehidupan sosial kita bisa langsung bertanya kepada Nabi, dan langsung Nabi menjawab, dan kita  tidak akan pernah meragukan jawaban dari Nabi, kalau kita sekarang mungkin akan mendengar jawaban yang bervariasi, menurut madzhab ini boleh, kalau menurut madzhab ini tidak boleh, dan jawaban lainnya.

Baca juga:  Genosida di India: atas Nama Agama

Betul pada zaman Nabi kita berislam secara kaffah, langsung praktek keislaman dari Nabi yang kita terima. Ajaran agama yang kita terima dari Nabi adalah sifatnya totalitas, tidak ada lagi rincian rincian seperti hadis,tafsir,fiqh,tauhid, rincian rincian seperti ini sudah disatukan atau dipraktekkan langsung oleh Nabi.

Segi segi itulah yang dimaksud ucapan Nabi bahwa sebaik-baik zaman adalah zamanku. Karena banyaknya kelebihan kelebihan yang dimiliki pada zaman Nabi, seperti akses dalam memahami ajaran ajaran agama dan kehidupan sosial kemasyarakatan  karena satu zaman dengan penerima wahyu dari Tuhan yakni Nabi Muhammad Saw.

Secara hirarkis zaman berikutnya adalah zaman sahabat, zaman ini adalah sesudah zaman Nabi, dimana para sahabat masih sangat orisinil pemahaman keislamannya,karena mereka selalu menyertai Nabi dalam berbagai kesempatan, mereka menerima langsung dari Nabi berbagai perintah dari Tuhan,maupun larangan larangannya. Para sahabat juga bertanya langsung kepada Nabi tentang berbagai persoalan yang dihadapi para sahabat. Kadang juga ada perintah kepada para sahabat dan dijalankan oleh para sahabat tapi mereka berbeda pemahaman setelah menjalankan perintah tersebut dan setelah itu dikonfirmasi kembali kepada Nabi, dan menjelaskan kembali perintah itu tapi tidak menyalahkan pendapat para sahabatnya.

Namun demikian pada zaman para sahabat sudah ada beberapa perbedaan pendapat tentang berbagai persoalan yang muncul karena semakin meluasnya wilayah kekuasaan Islam. Karena para sahabat juga berbeda dalam memberikan penafsiran atau interpretasi yang diterima dari Nabi. Ada sahabat yang intensitas pertemuan dengan Nabi lebih banyak dibandingkan dengan sahabat yang lain.

Sehingga dia lebih banyak meriwayatkan hadis dibanding dengan yang lainnya. Namun demikian secara umum para sahabat masih menjalankan estafet kepemimpinan yang ditinggalkan oleh Nabi dan dapat menyelesaikan persoalan persoalan keagamaan yang muncul pada zamannya. Sehingga pada zaman para sahabat masih dalam zaman yang sangat baik karena masih segar pemahaman keislamannya karena sangat dekat dengan zaman Nabi.

Baca juga:  Iklan Ramadan: Waraslah!

Memang ada beberapa peristiwa yang mencederai zaman sahabat atau masa Khulafaur Rasyidin, dimulai dari wafatnya rasul ada perbedaan di kalangan para sahabat antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar tentang masalah siapa yang menggantikan Nabi sebagai pemimpin umat. Kemudian peristiwa perang Jamal dan perang siffin pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Inilah kekurangan yang terjadi pada zaman para sahabat khususnya masa Khulafaur Rasyidin yang tidak terjadi pada zaman Nabi. Pada zaman Nabi murni persoalan persoalan berkait dengan perang melawan kafir qurais yang ingin atau menentang dakwah Nabi untuk menyebarkan Islam.

Setelah zaman para sahabat selesai,masuklah zaman tabiin-tabiin, masa ini secara person tidak pernah ketemu dengan Nabi, tapi mereka masih mendapati para sahabat sahabat Nabi, jadi secara keilmuan para tabiin ini masih sangat murni pemahaman keagamaannya karena ketemu langsung dengan para sahabat, disinilah banyak muncul ulama-ulama yang banyak menulis kitab-kitab rujukan seperti para imam madzhab dan masa inilah mulai dikarang kitab kitab hadis yang banyak dijadikan rujukan ulama-ulama selanjutnya. Dan masa inilah dikenal masa keemasan Islam dan penyebaran Islam sudah massive tersebar ke berbagai daerah di dunia ke Eropa khususnya spanyol sampai India dan China.

Kemudian zaman berikutnya yaitu zaman pasca Al Gazali disini umat Islam mulai mengalami kemunduran, ini disebabkan karena persoalan politik, para pemimpin Islam lebih mengejar kekuasaan politik diantara sesama mereka. Sehingga kekuatan diluar Islam memanfaatkan momentum untuk menyerang kantong kekuasaan Islam seperti bagdad dan daerah daerah lainnya. Sehingga pada abad ke-12 masehi kekuasaan Islam jatuh dan mengalami kemunduran baik secara politik dan intelektual.

Baca juga:  Paradigma Keberagaman dan Sengkarut Pelibatan Militer

Begitulah secara hirarkis kalau kita membuat analisis secara tekstual dalam memaknai hadis tentang prediksi Nabi bahwa zaman yang terbaik adalah adalah zaman Nabi, kemudian zaman sesudahnya, mungkin dalam persfektif teologis karena pada zaman Nabi, wahyu secara bertahap turun kepada Nabi dalam menjawab persoalan umat dan keberadaan Nabi dalam memberikan solusi yang menyeluruh terhadap persoalan -persoalan keummatan. Sehingga secara imani kita yang berada di zaman mutakhir sekarang ini, sangat haqqul yakin percaya bahwa zaman Nabilah adalah zaman yang terbaik

Namun demikian dalam dunia dakwah secara personal, kita pernah disinggung oleh Nabi sebagai makhluk yang tidak pernah ketemu dengan Nabi atau tidak sezaman dengan para sahabat, tapi konsisten dengan keimanan kepada Nabi, kita dikategorikan oleh Nabi sebagai generasi yang paling menakjubkan keimanannya, kita mendapat keistimewaan dari Nabi yang punya iman yang unggul dalam perspektif Nabi. Ini diluar hadis hirarkis, pernyataan Nabi ini bersifat personal terhadap siapa saja ummatnya yang tidak sezaman dengan Nabi tapi istiqamah dalam mengimani Nabi, maka oleh Nabi dianggap sebagai makhluk yang istimewa keimanannya.

Bumi Pambususung, 6 – 11 – 2021

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top