Sedang Membaca
Ronggawarsita dan Segala Kekurangannya
Penulis Kolom

Penulis lepas. Mengembangkan cross-cultural journalism, menulis, menggambar, dan bermusik

Ronggawarsita dan Segala Kekurangannya

Dv Cvnex0aiggpw

Di sepotong zaman di mana populisme serasa menjadi fenomena kebudayaan dominan, barangkali kemewahan adalah suatu hal yang subversif, menyangkut persoalan tentang kesetiaan yang diragukan. Terkuak minum Red Label seumpamanya, meskipun hanyalah pemberian, akan segera mendapatkan hujatan sedemikian rupa. Atau sekedar tampil dengan rambut yang berwarna pirang untuk melengkapi tugas keseharian yang sekedar tukang tambal ban adalah sebuah pengkhianatan tersendiri.

Populisme, baik yang bercorak kanan maupun kiri, berbungkus agama maupun sekularisme, sepertinya memang menjauhi dan bahkan memusuhi kemewahan. Untuk menjadi sesosok yang dibenci tentu bukanlah hal yang sulit di tengah kebudayaan dimana oleh Tom Nichols ditandai oleh terbantainya para ahli ini. Cukuplah menampakkan kemewahan yang bernilai sebagai senoktah dosa, atau sekedar terlihat bahagia, maka seribu musuh pun sudah bersiap sedia untuk memberi penghukuman dari balik layar.

Ketika populisme itu dikaitkan dengan eksistensi “wong cilik,” maka entah diampuni atau tidak, “pengkhiatan-pengkhianatan” seorang Ronggawarsita sangatlah melegenda. Istilah “wong cilik” sendiri sudah dipakai Ronggawarsita dalam Serat Kalatidha yang mewartakan zaman edan dan datangnya Kalasuba, sebuah zaman dimana “Wong cilik bisa gumuyu/ Nora kurang sandhang bukti/ Sedyane kabeh kelakon.”

Karena mewartakan zaman yang penuh harapan bagi wong cilik itulah konon Ronggawarsita hidup dalam sanderaan kekurangan atau kemelaratan tanpa merasakan kepahitan hidup individual. Di balik karya-karyanya yang fenomenal, yang meliputi karya-karya yang bernilai sastra belaka seperti Serat Cemporet dan Serat Jayengbaya, yang bernilai sastra dan sufisme seperti Suluk Saloka Jiwa dan Wirid Hidayat Jati, yang bernilai sastra dan nubuah seperti Serat Jaka Lodhang, Serat Kalatidha, dan Serat Sabdajati, ternyata Ronggawarsita adalah seorang yang menampakkan ambivalensi.

Di satu sisi, dalam hidup keseharian dan khususnya karya-karyanya yang bersifat nubuah, ia banyak bersinggungan dengan keadaan yang serba berkekurangan. Namun, di sisi lain, sikapnya yang tak bermusuhan dengan Belanda, atau setidaknya orang-orang yang berpunya, menempatkan dirinya untuk mencicipi sedikit kemewahan yang tentunya adalah sebentuk “pengkhianatan” atau senoktah dosa. Dan pada titik inilah, saya kira, Ronggawarsita adalah seorang yang tak hanya pintar dan kreatif, melainkan juga cerdik untuk menempatkan diri.

Dalam aktivitas surat-menyuratnya terkuaklah bagaimana kehidupan seorang Ronggawarsita yang pernah menyandang gelar sebagai pujangga pamungkas Jawa. Ronggawarsita yang manusiawi memang tak tampak dalam karya-karya sastranya yang lebih menyiratkan keagungannya. Barangkali, saking lihainya dalam menulis dan bersastra, sisi manusiawi seperti pembangkangan, kemelaratan, himpitan hutang, perempuan dan anggur, adalah hal-hal yang perlu disimpan di ruang dimana anak-anak tak boleh menjangkaunya.

Baca juga:  Hikayat Walisongo (4): Resonansi Tasawuf Sunan Bonang oleh Syaikh Abdal Hakim Murad (Dr. Timothy Winter)

Soal kemelaratan atau hidup dalam keserbakekurangan yang riang, karena Ronggawarsita tetap bergaya dan berkarya, tampak dalam beberapa suratnya pada para sahabat Belandanya. Tak tanggung-tanggung, demi mendapatkan pinjaman 25 Rupiah dari C.F. Winter seumpamanya, Ronggawarsita seolah perlu menyuguhkan ekspresi sastra yang barangkali dapat membuat pembacanya meleleh dan mengabulkan permintaannya.

Kawula kamipurun atawan-tawan tangis agegulungan wonten ing sangandhap pinarakan paduka, awit saking judhegipun manah kawula kapundhutan taker tedhaking nagari, punika bilih pareng kalilan saking karsa paduka, kawula kamipurun anyaosaken gegantosan awak kawula, kaonjuk ing panjenengan paduka.”

Salah satu surat pada Winter ini, yang ditulis pada hari Jum’at, 09 September 1842, berkaitan dengan kewajibannya sebagai seorang abdi dalem keraton yang mesti menyerahkan sejumlah iuran. Demi mendapatkan pinjaman, Ronggawarsita seolah tak apa untuk menangis dan berguling-guling (atawan-tawan tangis agegulungan) di hadapan Winter yang disebutnya sebagai Kanjeng Rama. Bahkan, untuk pembayarannya, anak Mas Pajangswara ini rela pula untuk menyerahkan tubuhnya (anyaosaken gegantosan awak kawula).

Tak ada keterangan yang pasti apakah Ronggawarsita pernah pula mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar pada Winter selain mengajari sarjana Belanda itu kesusastraan dan kebudayaan Jawa serta tugas-tugas penerjemahan lainnya. Tapi yang pasti, selaiknya seniman bohemian, Ronggawarsita kerap pula meminta maaf atas keterlambatannya memenuhi deadline yang diajukan oleh Winter.

Milanipun ngantos lami, boten awit saking leleda kawula, ing sayektosipun awit saking saweg kathah arunganipun. Ing sapunika arungan wau radi wonten mendhanipun ing sawatawis. Bilih wilujeng benjing Sabtu punikakawula saged anyaosaken saemplek malih. Kawula nuwun ingkang punika kangjeng rama, atur panuwun kawula boten langkung aming ingkang mugi-mugi wontena paring paduka maklum ingkang ageng.”

Barangkali, bagi para sahabat Belandanya, Ronggawarsita adalah seorang yang spesial dimana segala kekurangan yang dimilikinya tak menjadikannya untuk dibenci. Seandainya menelisik surat di atas, bagaimana mungkin seorang Ronggawarsita yang secara khusus ditugaskan sebagai seorang kawisastra memiliki banyak pekerjaan lain (arungan) selain hal-hal yang berkaitan dengan kesusatraan, mengajar, menerjemahkan dan merangkai karya? Lagi pula, tugas seorang abdi dalem keraton Jawa adalah mematuhi segala peraturan raja tanpa syarat. Bukankah Ronggawarsita sangat tampak seperti seorang yang penting, spesial, hingga sepertinya segala peraturan dan kelaziman dapat disikapinya dengan santai.

Baca juga:  Mengenal dan Memahami Beberapa Khazanah Islam: dari Ibnu Khaldun hingga Al-Afghani

Keistimewaan itu ternyata tampak pula pada secarik surat balasan salah seorang senior Ronggawarsita di Keraton Surakarta, Raden Angabei Purwadipura, yang ditulis pada tanggal 26 Maret 1842. Sebagai seorang atasan, Purwadipura ternyata kesal atas sikap Ronggawarsita yang seolah melangkahi wewenang yang bukan menjadi miliknya. Ronggawarsita ternyata pernah pula mencoba berimprovisasi atas berbagai protokol keraton. Akhir surat balasan Purwadipura yang ketus sangat tampak memotret segala kiprah Ronggawarsita yang senang berimprovisasi, meskipun dengan berbagai protokol keraton, “Si adhi boten susah gawe aturan, amesthi kula kang paring parentah teng si adhi.”

Sikap-sikap yang di luar kelaziman (out of the box) memang kerap dipertontonkan oleh Ronggawarsita. Bukankah terdapat cerita bahwa suatu saat sang penulis Serat Sabdajati ini meminta untuk memindahkan dhampar kencana atau singgasana sang raja ke rumahnya, yang tanpa siapa pun tahu, tak berapa lama sang pujangga mangkat? Tentu, hanya seorang Ronggawarsita yang diberi keistimewaan untuk seolah-olah, secara simbolik, berbuat makar dengan memindahkan singgasana sang raja ke rumahnya.

Malas tapi cerdas, nakal tapi rajin lelaku, melarat tapi bergaya, sombong tapi terbukti benar, adalah beberapa karakter dan kiprah yang memang melekat pada sosok Ronggawarsita sejak kanak. Barangkali, karena paradoks inilah Ronggawarsita seperti mendapatkan status istimewa dimana pun ia berada. Tak di pesantren, saat kanak-kanak, tak pula di keraton, saat dewasa, ia memang diperlakukan secara berbeda.

Saya kira gelar sebagai seorang bohemian religius memang pantas disematkan pada anak murid Kyai Wusman ini. Di samping kecerdasan, ketepatan pandangan, ketinggian sufisme filsafatinya, kebohemiannya memang sudah tampak sejak kanak. Tak hanya judi dan sabung ayam, di saat dewasanya anggur pun sempat pula disinggungnya. Dan tak tanggung-tanggung, seperti biasanya, anggur ini adalah juga hasil bujukrayunya pada sahabat Belandanya, Van Der Am, meskipun tak ada kejelasan untuk apa Ronggawarsita meminta pertolongan anggur.

Kula nuwun. Manawi dados parengipun ing galih sampeyan saudara, kula kamipurun nyuwun pitulung inuman, brandhewin saking kalih botel, anggur merah saking kalih botel. Badhe wonten damelipun perlu.

Ingkang punika saudara, mugi wontena sih pitulung sampeyan

Ingkang saudara, Raden Ngabei Ronggawarsita.”

Tentang kegemaran Ronggawarsita pada perjudian dan sabung ayam memang sudah terekam sejak kanak, saat namanya adalah Bagus Burham (Gebang Tinatar dan Gelar Santri di Balik Nama Besar Ronggawarsita, Heru Harjo Hutomo, https://etnis.id). Tapi soal anggur atau minuman-minuman keras lainnya tak ada keterangan yang pasti. Dalam surat yang ditulis pada bulan Juni 1844 itu, Ronggawarsita meminta bantuan pada Van Der Am untuk menyediakan dua botol brandhewin dan dua botol anggur merah. Dengan kata lain, entah untuk keperluan apa, Ronggawarsita jelas tak membeli anggur-anggur itu dengan uang sendiri.

Baca juga:  Esais Muda Pesantren (1): KH. Mohammad Nizam As-Shofa: Peran dan Kontribusinya dalam Islam Melalui Syi’ir Tanpo Waton

Setali tiga uang dengan urusan perempuan, Ronggawarsita sama sekali tak meninggalkan keterangan yang gamblang sebagaimana hubungannya dengan minuman-minuman keras. Di samping bahwa ketertarikannya pada perempuan sudah terekam sejak kanak, saat ia dibuang dari pesantren Tegalsari, dengan memberikan cincin eyang perempuannya pada seorang putri Adipati Kediri di daerah Mlilir, Ronggawarsita terbukti berpoligami yang hingga sekarang kedua isterinya itu ikut dibaringkan di kompleks pemakaman Desa Trucuk, Palar, Klaten.

Namun terdapat catatan lain soal hubungan Ronggawarsita dengan seorang perempuan Belanda, Nyonyah Eming, yang darinya kemenakan pujangga Ronggasasmita ini memperoleh pinjaman uang sebesar 600 Rupiah. Surat yang ditulis pada tanggal 13 Maret 1836 ini merupakan janji Ronggawarsita untuk membayar pinjamannya dengan mencicil selama 12 tahun.

Dene ingkang kula sauraken dados panicil, pamedalipun kagungan dalem gegadhuhan kula lelenggah siti dhusun ing Manjungan sajung ing Kalisigi sajung, ingkang sampun dipun bekeli dhateng Nyonyah Eming ing dalem sataun, satus rupiyah pethak. Menggah panicil kula sataun kaping kalih, ing bakda garebeg wulan Mulud skeet rupiyah, ing bakda garebeg wulan Siyam, skeet rupiyah, laminipun ing dalem kalih welas taun bod, kaetang kalihan tikelanipun. Dene jangji-jangji inggih kados ingkang sampun mungel wonten ing serat piagem.”

Dengan berkaca pada hidup dan kiprah seorang Ronggawarsita, pada akhirnya orang seperti disuguhi pilihan atas ukuran sebuah kesuksesan hidup: ilmu, manfaat dan popularitas di satu sisi atau keberlebihan materi tanpa sisi yang pertama. Dan Ronggawarsita ternyata memilih yang pertama dibanding pilihan yang kedua. Ilmu, manfaat dan popularitasnya seolah mampu menutupi segala kekurangannya. Maka, atas segala keadaan dirinya itu, tak mutlak benar Ronggawarsita dapat dikatakan sebagai “wong cilik” yang tentu saja tak pernah untuk sekedar menghidu keringat orang Belanda atau anggur-anggur mereka. Barangkali, benarlah pendapat yang mengatakan bahwa ketika ilmu yang dikejar, harta benda dan kemewahan pun akan mengikuti dengan sendirinya.

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top