Sedang Membaca
Rahasia Keilmuan Pesantren yang Mengubah Peradaban: dari Doa Kiai hingga Tradisi Arab Pegon
Penulis Kolom

Mahasiswa Institut Islam Nahdhatul Ulama (INISNU) Temanggung.

Rahasia Keilmuan Pesantren yang Mengubah Peradaban: dari Doa Kiai hingga Tradisi Arab Pegon

428162 406328386060637 100000504382286 1544088 544445360 N

Pondok pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan dalam hal spiritualitas santri yang menyelami samudra ilmu syari’at islam. Dalam pondok pesantren, khazanah keilmuan begitu rapi, pembagiannya meliputi bidang fiqih, hadis, nahwu, shorof, balaghah, mantiq dan masih banyak lainnya yang sekira penulis belum ketahui.

Semakin berkembangnya zaman, pondok pesantren menyadari akan kebutuhannya. Sehingga pondok pesantren bertansformasi menjadi sebuah lembaga yang tak hanya mengisi hal ruhaniyah para santri, namun aspek jasmaniyah santri juga ikut dibina dengan ilmu-ilmu sains dan umum lainnya yang juga menjadi hal pokok dalam era milenial ini.

Pesantren kini menyajikan beragam pilihan sebagai pencetak kader militan yang siap membangun peradaban dengan fondasi keagamaan, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan.

Lewat keagamaan santri diajarkan dengan kajian teoritik yang dalam Al-Qur’an, Al-Hadist, dan kitab salafusshalih. Dalam aspek kemanusiaan santri diajarkan memperkuat hubungan kekeluargaan dengan sesama teman yang nyantri.

Dan aspek ilmu pengetahuan tak hanya sebatas membaca dan berhujjah akan tetapi mengamalkan ilmunya dengan diselingi adab yang diperoleh dari sang maha guru atau masyayikh pesantren.

Doa Masyayikh

Pesantren tak pernah kehilangan eksistensi dalam membuat peradaban dalam sendi kehidupan. Pesantren tak hanya menormakan agama, akan tetapi, pesantren juga menormakan adat ketimuran warisan para leluhur bangsa.

Baca juga:  Peran Seni Islam dalam Melawan Ekstremisme

Ada satu hal yang tak bisa didapatkan seorang pengembara ilmu (thulab) di lembaga pendidikan manapun, kecuali dari pondok peantren itu sendiri. Apakah itu? Yaitu doa atau ridho Kiai pengasuh “masyayikh, syaikhona, abah, bapak” dan masih banyak sebutan kehormatan untuk pengasuh pesantren.

Doa kiai ini yang menjadi hal wajib yang harus diraih oleh seorang santri, dengan doa dan ridho kiai dalam hemat pengalaman penulis akan memudahkan santri dalam berbagai hal. 1) santri yang kurang pintar akan menjadi cerdas, 2) santri yang cerdas akan bertambah cerdas, 3) santri yang kurang terlihat kiprahnya dalam pondok, maka sewaktu boyong akan memperlihatkan kiprah yang maksimal dalam lingkungannya.

Sungguh doa dan ridho Kiai ini laksana doa kedua orang tua kandung kita, mengapa demikian? Karena sejatinya pengganti keberadaan orang tua kita sewaktu di pondok pesantren adalah pengasuh pesantren yaitu, Kiai dan Bu Nyai.

Pegonisme di Pesantren

Dalam pondok pesantren terdapat trah keilmuan yang diturunkan turun temurun yaitu, eksisme arab pegon sebagai upaya pemaknaan kitab klasik atau kuning karangan para ulama yang shohih dan mu’tabar.

Pegonisme telah mendarah daging dalam khasanah keilmuan pesantren, Arab pegon merupakan campuran budaya kultural yang menjadi upaya pentransferan ilmu dalam Bahasa Sunda, Jawa dan Madura dengan rangkaian huruf-huruf arab.

Baca juga:  Merti Dusun, Metode Orang Jawa Berwudu dari Dosa

Dan menurut catatan lain, huruf pegon muncul sekitar tahun 1400 M yang digagas oleh RM. Rahmat atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel di Pesantren Ampel Dentha Surabaya. Sedangkan menurut pendapat lain, penggagas huruf pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Wallahu A’lam. (Jendela kreasi.com:2013).

Dapat disimpulkan bahwasannya arab pegon merupakan peninggalan leluhur penyebar islam sebagai formula Bahasa yang dapat digunakan untuk mempelajari Al-Qur’an, Al-Hadist dan kitab-kitab karang para ulama’ shohih dan mu’atabar.

Kita tahu yang menginisiasi terbentuknya arab pegon bukan tokoh sembarangan melainkan seorang tokoh penyebar islam, yaitu Sunan Ampel maupun anggota walisongo yang lain yang tingkat wawasan keilmuannya diperoleh dari guru-guru yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah SAW.

Sehingga disadari atau tidak kita sebagaoi santri telah mempercayai dan mengamalkan arab pegon  kurang lebih selama 600 tahun.

Apa mungkin sebuah karya yang dihasilkan tanpa disertai iringan doa dan keikhlasan orang ‘alim  akan bertahan selama ini, saya rasa tidak! Hal ini membuktikan bahwa keeksistensian arab pegon menjadi kultur budaya khazanah keilmuan sebagai upaya pembangunan peradaban manusia yang berkemajuan dalam segi akhlak, budaya, dan ilmu pengetahuan.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top