Sedang Membaca
Kebaikan dan Kesalehan
Penulis Kolom

Pengarang novel "Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten"

Kebaikan dan Kesalehan

1 A Ilustrasi

Orang-orang berilmu sejatinya adalah orang-orang yang menolak mistisisme. Dongeng-dongeng tradisional, petuah-petuah leluhur, sarat dengan kisah-kisah mistik. Orang yang beranjak dewasa dan berpendidikan, semakin meningkat kualitas ilmunya, sehingga menumbuhkan pola pikir yang bersifat antitesis terhadap segala hal yang mengandung petuah maupun dongeng-dongeng leluhur.

Orang yang semakin berilmu, cara berpikirnya logis dan rasional. Konsekuensinya, rasionalitas akan dikedepankan, intelektualitas akan diutamakan, bahkan tidak jarang menjurus pada penghambaan terhadap dunia intelektual (intelektualisme). Pada tataran ini, ia akan menolak segala hal yang berkaitan dengan mistisisme, bahkan menolak sesuatu yang gaib dan tak terindera dengan kasatmata. Penghambaan terhadap rasio, akan menjurus kepada penolakan terhadap keimanan pada Tuhan yang bersifat gaib tak kasatmata.

Dalam bahasa Indonesia, kata ‘iman’ (dari bahasa Arab) diterjemahkan dengan ‘percaya’. Keimanan pada Tuhan diartikan sebagai kepercayaan kepada Tuhan. Di dalam rukun iman, orang Islam dianjurkan percaya pada hal-hal gaib, termasuk makhluk halus, jin, ruh, malaikat, iblis, surga-neraka dan seterusnya. Kepercayaan pada kegaiban yang seringkali menjadi rujukan masyarakat tradisional untuk memercayai mitos-mitos dan sakralitas leluhur, sulit mendapat tempat dalam kosmos masyarakat terdidik yang mengacu pada rasionalitas berpikir.

Iman tanpa syarat

Masyarakat Indonesia membedakan terminologi kebaikan dengan kesalehan, padahal mendidik anak agar menjadi saleh bertujuan agar seorang anak menjadi baik tingkah-lakunya, perangainya, kepribadiannya (akhlaknya). Begitupun perintah sembahyang (salat) dianjurkan agar manusia terhindar dari kejahatan dan kelaliman (fahsya wal-munkar). Tetapi, mengapa seringkali kita temukan orang-orang yang kelihatan saleh dan alim, rajin beribadah, tapi sekaligus menjadi taat pada perintah atasan agar berbuat anarkis dan melakukan kerusuhan?

Hal tersebut, karena kesalehan (amal saleh) yang dipraktikkannya hanyalah ketaatan buta (taqlid) yang tidak pernah mengenai sasaran untuk mempersoalkan tujuan dari ibadahnya. Secara religius, itulah yang disebut keimanan tanpa ilmu, hingga menjurus kepada kesesatan beramal dan bertindak. Baginya, apa yang menjadi petuah atasan adalah kebenaran yang wajib diamalkan. Karena petuah (berasal dari bahasa Arab, ‘fatwa’) dari sang mursyid atau mentor dianggap suci dan kudus. Penolakan terhadapnya berarti pengingkaran dan pengkhianatan.

Kita menyaksikan bagaimana tindakan para perusuh di sekitar 21-22 Mei 2019 lalu, paralel dengan tindakan kerusuhan Mei 1998. Dalam novel saya, Pikiran Orang Indonesia, lebih jauh lagi memparalelkan peristiwa-peristiwa tersebut yang berakar dari munculnya rezim kekuasaan Orde Baru (1965) di seputar pembentukan citra suatu ordo yang dinamakan ‘baru’, kemudian menenggelamkan zaman Soekarno yang disebut Orde Lama. Rezim yang tiran itu kemudian menyeragamkan kepercayaan dan keimanan masyarakat Indonesia yang bersumber dari pernyataan politik semata (hoaks) dan bukan pernyataan ilmiah. Maka, terciptalah perspektif tunggal dalam imajinasi manusia Indonesia selama puluhan tahun, termasuk persepsi yang terbentuk dalam pemikiran sejarawan, budayawan dan seniman yang – menurut Asvi Warman Adam – mestinya mereka itu menjadi benteng keilmuan dan intelektualitas manusia Indonesia.

Baca juga:  Peradaban Kuliner Islam; dari Santri sampai Jamuan Khalifah

Karena itu, dapat dipahami mengapa kaum saleh yang bersandar pada ketaatan buta tadi (alias, iman tanpa ilmu) sangat rentan menjadi korban politisasi kaum penguasa militerisme, yang dari kodratnya memang diarahkan dan dikader dalam keseragaman baris-berbaris ala militer. Bagi mereka, ketaatan mutlak kepada komandan adalah syarat multak yang tidak boleh diganggu-gugat, betapapun lalim dan jahatnya perintah tersebut.

Ketika semakin membaca gelagat cita-cita militerisme yang ambisius, hingga mengorupsi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, maka terjadilah penolakan pada nurani dan akal budi manusia, yang diwakili oleh tokoh “Saya” (Haris). Sebaliknya, tokoh “Arif” tak lain adalah simbol dan cerminan ketaatan mutlak dari perintah atasan, yang merupakan manifestasi dari keimanan dan kepercayaan tanpa syarat, bahkan tanpa disertai ilmu pengetahuan.

Iman tanpa ilmu 

Ketika seorang perusuh diberi perintah, bahkan dipersenjatai, justru ia merasa dirinya telah dibekali kepercayaan, sebagaimana perintah kepada kaum teroris untuk bergerak secara independen melakukan tindak kekerasan. Tak ada pertimbangan akal sehat, karena baginya setiap musuh tidak memiliki sejarah masa lalu. Setiap musuh adalah jahat, dan tidak akan berproses menjadi baik. Setiap musuh – termasuk anak-anak, wanita, dan lansia – seakan makhluk hidup yang tiba-tiba menyembul di atas muka bumi. Ia mengejawantahkan diri, mewujud, dan terlahir saat ini juga, kemudian dianggap momok yang sah dan layak untuk dimusnahkan.

Orang saleh yang taat beribadah, tetapi juga taat diperintah atasan agar melakukan tindakan anarki dan kekerasan, bukanlah seorang beradab yang mengenal nilai-nilai kemanusiaan (humanitas). Secara religius, para pelaku terorisme di negeri ini, seumunya dikenal saleh dan taat beribadah. Tidak sedikit para lelakinya memelihara jenggot (yang dianggap sunah), juga kaum perempuannya mengenakan jilbab dan cadar. Tatapi, bila keimanan dan ketaatan mereka tanpa diserta ilmu yang bersifat universal, maka tindakan mereka dapat dikategorikan sebagai tindakan orang-orang yang tersesat (ad-dlallun). Dapat pula diartikan, bahwa ketersesatan para perusuh dan pelaku teroris, yang mengatasnamakan iman dan agama, tak lain adalah sosok manusia yang mengalami overdosis dalam kepercayaan agamanya.

Karena itu, seorang liberal yang humanis tidak identik seorang yang saleh, meskipun ia adalah orang baik. Orang saleh yang taat beribadah, mungkin saja seorang yang bodoh dan dungu, yang bisa diperalat dan dipolitisasi oleh kepentingan politik tertentu. Meskipun idealnya, tentu saja kita menghendaki bangsa ini menjadi baik perilakunya, sekaligus saleh amal perbuatannya.

Baca juga:  Munas NU Ini Forum Ilmiah, Beda dengan Munajat 212

Mereka yang saleh namun diperalat untuk melakukan tindakan terorisme, pada umumnya mengakui bahwa niat-niat mereka adalah baik, demi untuk meluruskan dan menyempurnakan kehidupan manusia di muka bumi ini. Sebagaimana perintah agama dalam amr ma’ruf dan nahi munkar. Tetapi, bagaimana mungkin manusia bersikap keras dan anarkis dalam menegakkan kebaikan, pada saat dirinya sendiri adalah makhluk yang sama-sama berproses menuju kebaikan?  Apakah sebegitu suci dan kudusnya ia, sehingga merasa berhak mencegah keji dan mungkar dengan cara-cara teror yang radikal, seakan-akan mengambil-alih hak yang hanya ada pada kewenangan dan kekudusan Tuhan? Bukankah manusia memiliki kodrat sebagai makhluk tak sempurna, sehingga ketika kita memerintahkan berbuat baik, pada saat bersamaan kita – yang memberi perintah pun – sedang sama-sama berporoses menuju kebaikan?

Itulah mengapa dalam Alquran termaktub syarat utama dalam pola penyampaian dakwah, agar orang-orang beriman mengajak ke jalan kebenaran dengan cara-cara yang ramah dan santun (bil-hikmah wal mau’idhatil hasanah). Dalam pikiran orang-orang yang keranjingan jihad ofensif (pseudo-jihadisme), seringkali yang utama dan prioritas justru dikesampingkan, sehingga mereka menuruti hawa nafsunya untuk mempraktikkan dakwah agama dengan tanpa mengindahkan psikologi massa atau kebudayaan setempat.

Eksoteris dan Esoteris 

Dalam istilah fenomenologi agama, kita mengenal ‘eksoteris’ sebagai jalan menuju Tuhan melalui perantaraan praktik beribadah di tempat-tempat peribadatan. Masing-masing agama punya teori dan ruang-waktu yang dianggap sah dan benar (truth claim) untuk mencapai jalan Tuhan. Dalam konteks keindonesiaan (pasca 1965), truth claim yang sejatinya berpraktik di wilayah iman dalam kehidupan manusia beragama, telah didompleng sedemikian rupa untuk tujuan-tujuan kekuasaan militerisme. Kita bisa saksikan bagaimana aksi-aksi anarkis hingga pembunuhan terhadap pendukung-pendukung bapak bangsa Soekarno, dipraktikkan langsung oleh tenaga rakyat yang di belakangnya kekuatan militerisme Orde Baru (Angkatan Darat) tampil selaku pendukung utamanya.

Film dokumenter “The Act of Killing” (Joshua Oppenheimer) dengan lugas dan gamlang menyingkap fenomena tersebut, yang diperbuat langsung oleh tangan dan otak pelakunya. Sepanjang film yang masuk dalam jajaran nominasi Oscar (2014) tersebut, kita menyaksikan bagaimana seorang pelaku pembunuhan bernama Anwar Congo, terseret oleh naluri dan alam bawah sadar sebagai manusia sebagai makhluk hewani. Tanpa dikendalikan oleh nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan, akhlak dan moral manusia bisa tersesat dan terjerumus ke dalam nafsu kebinatangan (asfala safilin). Kita menyaksikan ending film tersebut, ketika muncul kesadaran dari suara hati nurani sang pelaku kejahatan dan kelaliman, ia berjalan sempoyongan sambil muntah-muntah di lokasi pembunuhan, yang pernah ia banggakan, bahkan pernah ia percayai sebagai jalan kebenaran.

Baca juga:  Diaspora Santri (8): Menjaga Generasi, Menggerakkan Tradisi: Pengalaman Menjadi Nahdliyin di Australia

Apakah sutradara film berkewarnegaraan Amerika, yang menemukan kebenaran berdasarkan riset dan penelitian, adalah seorang religius (homo religious)? Di sinilah kita memasuki wilayah esoteris, di mana keimanan dan kepercayaan pada Tuhan dapat ditempuh melalui cahaya dari berbagai sumber dan dari segala arah, tanpa membedakan timur dan barat, utara maupun selatan.

Karya-karya Joshua Oppenheimer, banyak menyoroti dampak dari kerusuhan 1965, termasuk “The Look of Silence” yang sehaluan dengan hasil riset dan penelitian historical memories yang diprakarsai Mary Zurbuchen, John McGlynn, Asvi Warman Adam, Hersri Setiawan dan Goenawan Mohamad. Saya bersyukur telah melibatkan diri sebagai salah seorang peneliti, yang berhasil mewawancarai puluhan korban di sekitar Jakarta dan Banten (sejak 2001), di antaranya Joesoef Isak, editor buku-buku Pramoedya Ananta Toer, yang pengalaman hidupnya selama di penjara Salemba pernah saya tampilkan melalui internet.

Apakah Pramoedya Ananta Toer dan Joesoef Isak adalah seorang komunis, dan bukan seorang religius? Tentu saja pertanyaan semacam itu terlalu menyederhanakan masalah. Sesungguhnya wilayah esoteris keimanan adalah wilayah otonom dari pribadi-pribadi manusia yang secara langsung mencari, menelusuri, hingga menemukan jalan Tuhan. Ketika masjid, gereja dan kuil, dipersengketakan sebagai truth claim, di mana masing-masing bersikukuh merasa jalannya yang paling benar, maka seorang homo non-religious akan menempuh jalan vertikal yang berhubungan langsung dengan yang imanen dan ilahiyah. Karena itu, boleh jadi kualitas keimanan mereka justru lebih baik, ketimbang mereka yang mengaku-ngaku saleh dan taat beragama, tetapi kelakuannya mencerminkan karakter dari orang-orang atheisme kaum beragama.

Sebagai penutup tulisan ini, sekaligus menjawab beberapa tuduhan yang dialamatkan kepada novel saya sebagai karya sekulerisme, perlu sekali lagi ditekankan, bahwa wilayah eksoteris bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai Tuhan. Ia hanyalah salah satu jalan, yang seringkali dipersengketakan, dipolemikkan, hingga menimbulkan permusuhan karena masing-masing mengklaim dirinya yang paling benar, sementara yang lain adalah salah. Dengan itu, sasaran kebaikan dan kebenaran sebagai manifestasi ketaatan pada Tuhan sama sekali tidak menemukan jalannya.

“Lalu, melalui jalan apakah yang akan kalian tempuh?” orang yang merasa dirinya saleh lagi-lagi menggugat.
Maka, saya pun menjawab dengan santun, “Kami akan senantiasa berbaik sangka pada keadilan Tuhan. Melalui perjalanan waktu, bukan saja agama, tetapi juga ideologi, adat, dan kepercayaan apapun, pada akhirnya akan mencapai kearifan lokalnya.”

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Scroll To Top