Sedang Membaca
Mengenang Kiai Atabik Ali
Penulis Kolom

Founder Alif.ID. Menulis dua buku humor; Humor Ngaji Kaum Santri (2004) dan Ulama Bercanda Santri Tertawa (2020), dan buku lainnya

Mengenang Kiai Atabik Ali

Fb Img 1612603663620

Gus Bik, begitu Kiai Atabik Ali disebut Gus Dur. Sebutan itu saya dengar sendiri waktu Gus Dur berceramah di Krapyak. Gus Dur berkisah apa gitu, lalu nama Pak Bik disebutnya.

Sementara, santri-santri Krapyak mengenalnya dengan panggilan Pak Bik. Zaman dahulu, memang kiai-kiai Krapyak dipanggil Pak, saja, bukan Kiai. Kiai Ali Maksum saja dipanggil Pak Ali. Pak ini merujuk pada Bapak. Karena kiai atau pengasuh pesantren adalah figur pengganti ayah bagi para santrinya.

Saya disowankan sebagai santri Krapyak pada pada beliau. Masih ingat persis, ketika kami mendekati rumahnya, beliau sedang duduk di depan rumah mengenakan kaus, sarung, dan tanpa kopiah. Beliau masuk rumah, lalu keluar ke ruang tamu menemui kami dengan mengenakan kemeja yang belum sepenuhnya di-kancingin. Kopiahnya terpasang begitu saja. Sebagai mana sesepuh Krapyak yang lain, bajunya sekedarnya saja.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sesaat kemudian beliau menemui kami dengan mengenakan kemeja lengan pendek yang belum sepenuhnya di-kancingin, sehingga kaus dalam terlihat jelas. Kopiahnya nangkring begitu saja. Sebagai mana sesepuh Krapyak yang lain, bajunya sekedarnya saja. Abdul Muiz, kakak saya yang alumni Lirboyo, tercengang menyaksikan penampilannya yang sederhana dan akrab dengan santri. Suasana cair “ritual personaanan” tidak jamak ditemukan di Jawa Timur.

Baca juga:  Pelopor Modernisasi Pendidikan Islam (2): Muhammad Abduh

Awal-awal menjadi santri Krapyak, saya mengikuti pengajinnya Pak Bik, yaitu Tafsir Jalalain. Saat mengaji, beliau hanya membaca 3-4 baris saja, namun keterangannya seabrek, mufradatnya kaya, dan tidak lupa bercerita pengalamananya jalan-jalan ke luar negeri.

Kisahnya yang tidak bisa saya lupakan adalah tentang CD kitab. Waktu itu, santri-santri, sekitar tahun 1996-1997, belum banyak yang mengenal benar apa itu komputer, tetapi Pak Bik sudah bercerita jauh, tentang ribuan jilid kitab yang cukup berada dalam sekeping CD.

Dari sini, saat beberapa tahun kemudian beliau menerbitkan kamus Arab-Indonesia Al-Ashri yang terkenal itu, jadi wajar. Beliau sangat menguasai kosakata atau mufradat bahasa Arab. Guru-guru saya mengatakan, penguasaan Pak Bik dalam bahasa Arab adalah seperti gawan bayi (bawaah lahir), alias “titisan” dari ayahandanya sendiri, Kiai Ali Maksum. Kiai Ali dijuluki Munjid berjalan. Al-Munjid adalah kamus bahasa Arab karya dua orang. Fr. Louis Ma’luf dan Fr. Bernard Tottel.

Namun, saya banyak mendapat cerita tentang putra sulung Kiai Ali Maksum ini justru saat di Jakarta. Penceritanya adalah Kiai Masyhuri Malik.

Mula-mula yang diceritakan Pak Masyhuri pada saya adalah saat Pak Bik jadi anggota DPR di Jakarta.

“Kalau Pak Bik dapat jatah beras anggota, hampir selalu manggil saya. Saya datang ke rumah dinasnya. Pulang bawa beras. Kalau saya lagi gak punya duit saya jual di Pulo Gadung, sambil jalan pulang. Kadang saya kasih ke anak PB PMII,” kenang Pak Masyhuri.

Baca juga:  Cak Rusdi dan Islam Biasa-biasa Saja (Obituari untuk Rusdi Mathari)

Usia antara Pak Bik dengan Pak Masyhuri terpaut sepuluh tahunan. Pak Bik lahir tahun 1943. Sementara Pak Masyhuri lahir tahun 1953. Namun keduanya dekat sejak Pak Masyhuri nyantri di Krapyak asuhan ayahandanya Pak Bik. Bahkan saat sudah jadi santri senior Pak Masyhuri adalah guru pengganti atau badal Pak Bik mata pelajaran tafsir. Tidak hanya itu, keduanya adalah teman main bulu tangkis.

“Kalau main bulu tangkis pasti sama saya. Dan saya senang, karena tidak perlu beli kok.”

Kiai Nyentrik

Di lingkungan para kiai, Pak Bik adalah tokoh unik. Penampilannya yang sering tidak ala kiai, semisal sering tidak berkopiah, membuatnya tampak low profile. Namun, beliau jelas orang yang fasilitasnya di atas rata-rata kiai, terutama kesadarannya pada teknologi, seperti yang saya contohkan di atas. Juga karena beliau seorang politisi yang punya akses luas.

Saat Muktamar NU di Cipasung 1994, Pak Bik ada di pihak almarhum Abu Hasan, yang bersebrangan dengan Gus Dur. Namun semua itu dilakukan dengan santai, tidak terlihat sebagai politisi yang “bagaimana” juga. Saat Gus Dur jadi ketua Umum PBNU, Pak Bik menjadi salah satu ketuanya, yaitu PBNU periode 1989-1994.

Saat Gus Dur tidak menerima hasil muktamar NU di Solo 2004, Pak Atabik bersama kiai-kiai mengatakan bahwa Gus Dur harus legowo. Namun Gus Dur juga orang yang rileks merespons langkah-langkah Pak Bik. Alasannya jelas di samping seorang teman, juga karena Kiai Ali Maksum, ayahanda Pak Bik, adalah guru yang sangat dihormatinya. Saat kedunya berbeda, tidak ada yang meledak-ledak. Ini kesantunan di dalam perbedaan yang patut dicontoh.

Baca juga:  Jelang Munas Alim Ulama (5): Tiga Ulama Sumbawa dan Tiga Tuan Guru Pertama

Pada hari ini, Sabtu pukul 12.45, Kiai Atabik Ali menghadap Ilahi di usia 78 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah menganugerahi segala kasih sayang-Nya.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top