Sedang Membaca
Melirik Sastra Arab di Djibouti

Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Halimi Zuhdy
Penulis Kolom

Pengasuh Pondok Pesantren Darun Nun dan Guru BSA di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Melirik Sastra Arab di Djibouti

Republic Of Djiboutibusinessweek

Setiap bangsa memiliki karya sastra sebagai produk budaya, dan budaya sebagai identitas atau pengenal keberadaan sebuah bangsa di dunia. Walau terkadang dunia belum mengenal keberadaannya dikarenakan minimnya informasi tentang budaya yang dicipta oleh mereka, dan termasuk sastra yang langka –bagi penulis- adalah Sastra Djibouti, khususnya sastra Arab di negara ini, pun bagi mahasiswa sastra yang mengambil konsentrasi sastra arab atau sastra Timur Tengah masih terasa asing.

Negara yang baru merdeka tahun 1977 ini tidak banyak menghasilkan sastrawan Arab, walau pun bahasa resmi negaranya adalah bahasa Arab, mungkin karena jumlah penduduknya tidak lebih dari 490 ribu, atau mungkin mereka lebih memilih bahasa Afar, Issa, Somali, dan Perancis sebagai bahasa sastranya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Republik Djibouti terletak di kawasan Tanduk Afrika (Qarn Afriqiyah), berbatasan dengan Eritrea di utara, Etiopia di sebelah barat dan selatan, serta Somalia di tenggara. Sedangkan dari sebelah timurnya menghampar Laut Merah dan Teluk Aden. Bahasa Arab dan Perancis merupakan bahasa utama di negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini.

Djibouti mengenal Islam tidak lama setelah Rasulullah Hijrah, dan mayoritas dari mereka muslim sunni dan bermadzha Syafi’i. Agama Islam merupakan agama resmi di negeri kecil di kawasan Afrika ini, yang hanya memiliki luas wilayah sebesar 23.200 km2. Walau negeri ini tidak terlalu familiar di Indoensia, negeri ini sudah memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia sejak Tahun 1979, dua tahun sejak kemerdekaannya. Djibouti merupakan kawasan penting bagi republik Indonesia, karena di negeri ini produk dari Indonesia menempati urutan ketiga terbesar setelah China dan Arab Saudi.

Baca juga:  Hikayat Bedug, dari Cheng Ho hingga Jadi Ikon Budaya Islam Nusantara

Djabouti yang juga kadang disebut dengan Gabuuti dalam bahasa Afar atau Jabuuti dalam bahasa Somalia, memiliki beberapa sastrawan Arab yang cukup terkenal, seperti Ahmed Hamed Al-Gohary, ia lahir Djibouti pada tahun 1918 M dan meninggal di Aden tahun 1970 M sebelum negeri Djibouti merdeka dari Perancis tahun 1977. Pendidikan dasar Ahmed ditempuh di negerinya sendiri, dan melanjutkan pengembaraan keilmuannya di Ribat Tarim Hadralmaut Yaman. Pengembaraan kepenyairaannya tidak hanya di negerinya, ia melalang buana ke Taiz, Aden dan ke beberapa negara lainnya (Yaman).

Ahmed penyair yang sangat rajin membaca buku-buku puisi Arab kuno, terutama buku-buku puisi terkait dengan penyair hebat di era Abbasiyah. Kepenyairannya tidak serta merta di dapat dengan sendirinya, ia banyak belajar kepada penyair dan madrasah-madarasah sastra, dia sendiri juga sebagai pengajar Bahasa Arab di Bazarah al-Khairiyah di Kota Aden, dan kemudian beberapa tahun berikutnya ditunjuk menjadi kepala sekolah dasar di Al-Hasawah hingga ajal menjemputnya.

Dalam kepenyairannya terbentuk di klub atau sejenis perkumpulan sastrawan, dan ia termasuk anggota aktif di “al-Mukhayyam Abi Tayyib al-Mutanabbi” yang berdiri sejak tahun 1939, organisasi ini mirip dengan “Shalun al-Adabiyyah” di Mesir. Dan ia juga aktif di kajian “Halaqah Syauqi”.

Puisi-puisinya menggunakan wazan arudiyah yang ber-irama (al-Mauzun al-muqaffa) yang sangat cantik dan menarik, seperti kebanyakan puisi yang berkembang pada masa Abbasiyah, namun kata-katanya tidak terlalu rumit, dan mudah dipahami.

Baca juga:  Menyoal Pseudo-Moral dan Pseudo-Relijiusitas Fotografi Indonesia

Seperti puisi yang bertema “Lahfiun ‘ala al-Hurr”;

يشكـو تكـالـيفَ الـحـيـاةِ وبؤسَهــــــــا ولكـم تـمـنّى أنه لـــــــــــــــم يُخلق
جهلاً يروم الـحـرُّ عـــــــــــــندكَ غايةً مـا أنـتَ فـي إسعـاده بـمــــــــــــوفَّق
نـتَ الـذي خَبَأَ العـداوةَ كـاشحـــــــــاً لـحُرّ إذ لـولاكَ أنـتَ لـمــــــــــا شَقِي

Beda dengan Ahmed, Syarifah Abdul-Rahman Ustman al-Alawi, lahir di kota Bida, dekat Provinsi Assab di Patria. Syarifah Afriya Sharifa Al-Alawi memulai sekolah dasar dan menengah di Sekolah Irak yang berada Djibouti, setelah beberapa lama ia kemudian melanjutkan studinya di Saudi Arabiyah.

Dan kemudian meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dari American University of London (al-Jamiah al-Amrikiyah), ia cukup dikenal di kalangan sastrawan abad ini, “Ana Qalamun nisaiyun Juyubiyun a’syiqul Arab wa ahmilu humum wathani”, saya pena perempuan dari negeri Djibouti yang mencintai Arab dan kupikul kegundahan negeri.

Ia memulai menulis sastra ketika banyak bergumul dengan para sastrawan-sastrawan, dan banyak mengikuti forum-forum kesusastraan dan ia sudah menulis karya sastra mencapai tiga ratus teks; puisi, prosa, esai, dan artikel. Beberapa antologi puisinya “ Zahratul al-Balah” terbit di Mesir pada tahun 2010, dan “Illa Ana” terbit 2013.

Djibouti ini selain sastra Arab yang masih minim didapat, juga memiliki tradisi kesusastraan (terutama puisi) yang telah cukup lama. Beberapa bentuk sajak Somalia yang berkembang dengan baik meliputi gabay, jiifto, geeraar, wiglo, buraanbur, beercade, afarey and guuraw.

Baca juga:  Wayang dari Kacamata Gus Dur: Medium Transformasi Nilai-Nilai Masyarakat

Gabay (puisi epik) adalah puisi yang cukup panjang seringkali melebihi 100 baris. Dan hal ini dianggap sebagai tanda pencapaian puitis ketika seorang penyair muda mampu menyusun kalimat-kalimat puisi tersebut, dan dianggap sebagai puncak puisi. Puisi di negeri ini berputar di sekitar beberapa tema utama, baroorodiiq (elegi), amaan (pujian), jacayl (roman), guhaadin (diatribe), digasho ( gloating ) dan guubaabo (bimbingan).

Baroorodiiq disusun untuk memperingati kematian seorang penyair atau tokoh terkemuka. Selain itu, Djibouti memiliki tradisi panjang sastra Islam. Di antara karya-karya bersejarah yang paling menonjol seperti itu adalah Futuh Al-Habash abad pertengahan oleh Shihab al-Dīn, yang menceritakan penaklukan tentara Kesultanan Adal di Abyssinia selama abad ke-16. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah politisi dan intelektual juga menulis memoar atau refleksi tentang negara tersebut.

Sumber:
Al-Ma’rifah
Al-Adab fi Jaibuthi
Wikipedia- Al-Jaubuti
hihāb al-Dīn Aḥmad ibn ʻAbd al-Qādir ʻArabfaqīh, Translated by Paul Stenhouse, Richard Pankhurst (2003)
Mohamed Diriye Abdullahi, Culture and Customs of Somalia , (Greenwood Press: 2001).

 

(RM)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top