Sedang Membaca
Obituari Profesor Hermanu Joebagio: Islam Asketis dan Intelektualisme

S2 Pendidikan Sejarah UNS

Obituari Profesor Hermanu Joebagio: Islam Asketis dan Intelektualisme

Foto Dokumentasi Pribadi Pada Saat Menguji Sidang Terbuka Disertasi Doktor Di Unnes Semarang

Generasi Muslim tanpa Masjid yang pernah menjadi imajinasi filosofis dari seorang Kuntowijoyo telah benar-benar lahir. Mereka adalah generasi baru Islam yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah agama dan kemanusiaan secara sekaligus.

Bisa dibilang, gagasan itu adalah keberlanjutan dari perjuangan Gus Dur, meskipun Kunto seorang Muhammadiyah, dalam soal kemanusiaan, pendapatnya dengan Gus Dur tidak jauh berbeda. Bahkan cenderung saling melengkapi.

Di sisi yang lain, tetapi masih dalam kerangka pemikiran Islam yang kosmopolitan, Hermanu memberikan pandangan bahwa Muslim tanpa Masjid adalah realitas masyarakat masa kini, Islam bukan lagi menjadi instrumen keagamaan saja, kemajuan peradaban Islam di Nusantara telah meletakkan fondasi perjuangan Islam untuk kemanusiaan.

Saat ini, gerakan Muslim tanpa Masjid ditopang oleh semangat Islam yang kosmopolitan, seorang Muslim kosmopolit, dalam pandangan Hermanu identik dengan Muslim yang asketis, yaitu Muslim yang hidup dalam laku prihatin dan memiliki keberpihakan pada agama dan kemanusiaan secara sekaligus.

Dilandasi dengan pemikiran yang kritis tentang praktik beragama, Hermanu meyakini bahwa semangat Islam tidak bisa dilepaskan dari intelektualisme masyarakat.

Tulisan ini didedikasikan untuk mengenang Prof. Hermanu Joebagio yang wafat malam hari 6 November 2020 di Rumah Sakit dr. Oen Solo, Jawa Tengah tepat diusia 64 tahun. Ia adalah pemikir Islam yang tumbuh dalam tradisi Nahdlatul Ulama.

Pemikirannya tentang titik temu Islam dan kebangsaan melahirkan gairah baru bagi para sarjana yang konsen terhadap moderasi beragama. Salah satu yang jarang terpublikasi adalah tentang Islam Asketis. Sebuah ekstrapolasi atas fenomena keislaman yang keras dan reaktif terhadap sudut pandang yang berbeda.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Dua Alasan Mengapa Kita Harus Meneladani Gus Dur

Mengenal Lebih Dekat

Di dalam Program Magister Pendidikan Sejarah UNS Solo, dosen yang paling dicari dan dinanti kuliahnya adalah: Prof. Hermanu. Satu nama, yang cukup populer, bukan hanya karena intelektualitasnya, tetapi kebaikan-kebaikan yang terkesan tanpa pamrih menjadikan kedudukannya begitu terhormat di mata mahasiswa.

Di kalangan masyarakat Surakarta, nama Cendekiawan Muslim cum sejarawan ini begitu melekat, ia dikenal sebagai peneliti sejarah Kasunanan, khususnya pada periode Paku Buwono X, seorang pemikir Islam sekaligus kebangsaan yang membentuk tatanan Solo sebagai kota modern dan maju dalam hal politik dan kebudayaan.

Landasan yang telah dibentuk oleh Paku Buwono X bagi masyarakat Jawa tidak terlepas dari para pendahulunya, sejak masa Demak hingga Mataram Islam yang kemudian terbelah menjadi empat wilayah; Kasunanan, Mangkunegaran, Kesultanan, dan Pakualaman.

Pembacaan mendalam terhadap arsip dan sumber sejarah tentang peradaban Kasunanan di bawah Paku Buwono X membuatnya dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Sejarah Politik Islam tahun 2013.

Sebuah gelar yang tidak berlebihan apabila melihat kapasitas serta keberpihakannya terhadap kosmopolitanisme Islam. Sedikitnya, intelektualisme Hermanu dibentuk oleh 3 aspek; laku prihatin (asketis), Islam, dan pluralitas masyarakat.

Dalam kuliahnya, tidak jarang, ia melemparkan suatu pernyataan yang provokatif tentang sikap mahasiswa terhadap fenomena keislaman maupun kebangsaan. “Saya hanya memicu kalian bicara, sebagai tanggungjawab moral seorang intelektual.”

Kalimat yang begitu membekas dan mencerminkan betapa pentingnya sebuah sikap dalam suatu gejolak. Politisi berpikir untuk hari ini, cendekiawan memandang jauh ke masa depan. Begitulah kira-kira pesan penting yang ingin disampaikan kepada setiap mahasiswa yang masuk ke dalam kelasnya.

Baca juga:  Mengenal dan Memahami Beberapa Khazanah Islam: dari Ibnu Khaldun hingga Al-Afghani

Islam Asketis

Cukup berani mengemukakan istilah khusus untuk menggambarkan sikap berpihak terhadap nasionalisme dan keislaman secara sekaligus. Ini menjadi ciri khas kecendiakawanan yang againts common sense atau melawan akal sehat.

Intelektual harus berani berpikir tentang kegilaan, itu sikap asketis, yang membuat intelektualisme seseorang terbentuk secara organik. Islam asketis adalah suatu pemikiran tentang berislam dalam perilaku yang sederhana, tidak berpihak sepenuhnya pada nafsu keduniaan, tetapi peduli terhadap agama dan kemanusiaan dalam satu tarikan nafas.

Memahami Islam asketis tidak cukup melihat makna harfiah semata, bisa jadi, apabila melihat makna harfiah saja maka keduanya tidak memiliki titik temu. Oleh karena itu, konteks sosial dibutuhkan dalam menyusun pemikiran tentang praktik beragama tersebut.

Asketisme memang tidak terlalu populer dalam Islam, masyarakat Muslim lebih terbiasa dengan kata Zuhud yang secara etimologi memiliki kesamaan makna dengan asketisme.

Secara mendasar, Hermanu menyodorkan pemikiran Islam asketis dengan mengkritik ajaran zuhud. Perbedaan keduanya terletak pada praksis. Asketis tidak melihat dunia sebagai suatu kenistaan dalam arti luas, Zuhud hampir tidak memperhatikan aspek keduniaan sama sekali.

Oleh karena itu, seorang Muslim yang zuhud akan sepenuhnya meninggalkan urusan keduniaan. Sedangkan seorang Muslim dengan ajaran asketisme mengambil kebaikan dari sebagian kehidupan dunia untuk memajukan kehidupan Umat.

Seorang Islam asketis menjunjung laku prihatin untuk menutup jurang pemisah antara kelas sosial tinggi dan rendah. Artinya, apabila memiliki harta melimpah, maka seorang Muslim berkewajiban mengangkat derajat sesamanya. Hal itu akan mendorong keadilan sosial di masyarakat.

Baca juga:  Ulama Banjar (11): KH. Ahmad Zaini

Zuhud bersikap sinis dan skeptis terhadap urusan keduniaan, sedangkan asketis melihat masalah ini secara lebih rasional. Pemikiran ini adalah warisan paling penting dari seorang Prof. Hermanu yang harus dirawat oleh setiap intelektual cum aktivis.

Titik Temu

Intelektualisme yang ditawarkan oleh Hermanu adalah tentang praktik beragama yang memanusiakan manusia (Kesalehan Sosial). Dalam hal ini, Etika Islam mengambil jalan seiring dengan Etika Protestan ala Weber.

Hermanu ingin membuktikan bahwa Etika Islam menduduki posisi yang terhormat dalam konteks kemanusiaan, yang tidak begitu diperhatikan oleh kapitalisme akibat etika Protestan.

Intelektual organik lahir dari laku prihatin (asketis), berpaling dari masalah keduniaan yang bisa-bisa menjerat seorang cendekiawan dalam penjara materialisme dan oportunisme.

Seorang Cendekiawan Muslim harus mulai berbicara tentang “agama untuk kemanusiaan” dalam konteks totalitas, tidak berhenti dalam jargon. Pemikiran ini menjadi katalisator yang menghubungkan; Islam, kebangsaan, dan keadilan sosial. Seorang belum benar-benar kaffah berislam apabila masih melihat sesama manusia dalam kotak-kotak yang dipagari oleh pandangan suku, agama, dan ras.

Islam asketis dan intelektualisme yang dikembangkan Hermanu sepenuhnya hasil pencarian diri di panggung kehidupan akademis dan aktivisme Islam Indonesia.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Itu yang membuat setiap mahasiswa terpukau, kagum, dan riuh menanti wacana yang disampaikan oleh Sang Cendekiawan. Bukan berlebihan, apabila Ia dikenang dalam lubuk hati setiap sarjana, yang menaruh hati pada urusan moderasi beragama, kebangsaan, sekaligus kemanusiaan.

Dalam kesunyian, you are unforgettable, Prof.

Senyummu, sebagaimana juga “kegilaanmu”, abadi, akan terus kami hidupi.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top