Faiz Manshur
Penulis Kolom

Ketua Odesa Indonesia, Alumni Pondok Pesantren Krapyak.

Pesantren, Perpustakaan, dan Literasi

Santri Baca

24 Februari 2023 lalu, saya berada di Pondok Pesantren Sarang Rembang. Saya menemui adik saya dan 6 keponakan saya yang nyantri, menyebar di berbagai pondok yang berlokasi di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut.

Saat saya berada halaman rumah KH. Dr Ghofur Maemoen saya melihat pemandangan menarik. Di samping rumah Kiai Ghofur itu terdapat rumah kecil yang sedang dipenuhi santri. Sebagian santri sedang sibuk dengan bukunya, sebagian lagi sedang sibuk dengan laptopnya.

“Kok itu banyak santri membaca buku. Apakah di sini bebas?” Tanya saya kepada keponakan saya, Zahro, seorang santri senior.  Seketika ingatan saya ke masa lalu. Di masa saya,  saat mondok di Sarang, tak lazim santri membaca buku sebebas, apalagi nongkrong di depan rumah kiai.

Bukan karena di pondok Sarang ada larangan membaca buku. Waktu itu saya sendiri termasuk santri yang sering membaca buku, terutama pada hari Jumat atau hari lain yang sekiranya tidak menganggu kegiatan belajar.

Tetapi harus dikatakan, waktu itu jarang santri di Sarang yang membaca buku. Kalau ada bisa dibilang sangat minim, dan biasanya tak terlihat di area umum, melainkan ngumpet di kamar, atau mencari tempat sepi di sekitar pantai. Fenomena santri berderet-deret membaca buku seperti yang saya lihat di samping rumah Gus Ghofur itu tak saya temukan di masa lalu.

Di zaman saya dulu, selain memang tidak ada perpustakaan secara khusus, mayoritas santri lebih fokus belajar kitab kuning. Adapun bacaan di luar kitab, para santri  bisa menikmati bacaan dari koran yang dipajang di dinding-dinding pondok atau madrasah. Situasi di depan pesantren Al-Anwar III ini agak lain karena lebih terbuka dalam bacaan.

Kata Zahro, “di sini banyak santri yang kuliah sehingga bebas membaca. Kalau mau nyumbang buku boleh,” kata Zahro. “Pantes,” jawab saya. Oke, nanti aku kirim. Aku punya banyak buku.”

Perubahan Bacaan Kaum Santri

Pesantren dan perpustakaan penting dibicarakan karena keduanya bukanlah hal yang mengikat dalam program pendidikan. Di banyak pesantren tradisional era 1990an, mayoritas pesantren tidak memiliki perpustakaan dengan buku-buku bacaan yang sifatnya umum. Kebanyakan para santri lebih menekuni praktik literasi kitab kuning. Bahkan ada istilah yang dikotomis, kitab versus buku. Kitab untuk santri, dan buku untuk pelajar umum.

Sekalipun tidak melarang, para kiai pun amat jarang yang menganjurkan para santrinya membaca bacaan di luar kitab. Terkecuali pada pesantren-pesantren tertentu (yang biasanya lebih modernis atau tetapi tradisional tetapi kiainya punya kepedulian membaca buku) maka di situlah baru ada perpustakaan.

Zaman telah jauh berubah. Selain banyak pesantren yang menambah jenis-jenis sekolahan, juga banyak pesantren yang semakin peduli dengan bacaan di luar kitab kuning.  Gejala ini paling tidak saya temui (sebagai sample kualitatif) dari beberapa teman yang dulu semasa nyantri sezaman dengan saya dan kini menjadi pengelola pesantren.

Baca juga:  Konsep Fikih Menjaga Lingkungan (2): Mengenal Iqtha’ Tamlik dan Iqtha’ Irfaq di Kalangan Ulama Fikih

Selain KH.Ghofur, adiknya KH. Taj Yasin Maemoen (seangkatan dengan saya di madrasah Tsanawiah Ghozaliah Al-Syafiiah) yang kini mengelola pesantren dan sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) juga membuka ruang literasi di luar kitab kuning dengan menaruh perhatian pada bacaan.

Teman saya dari Magelang, KH. Alvan Bunyamin, pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Nailul Muna di Muntilan sekarang juga menganjurkan para santrinya untuk membaca. KH. Yusuf Chudlori, salahsatu Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang juga memberi perhatian perpustakaan. Satu lagi, teman saya di Cilacap, KH. Aliq Islahudin juga memberdayakan para santrinya dengan ekstra membaca buku fiksi dan non fiksi.

Saya juga mendengar banyak cerita para kiai generasi saat ini yang memiliki semangat menganjurkan para santri untuk membaca buku. Berdasarkan kisah  yang saya alami di atas, saya melihat bahwa para kiai yang pada angkatan belajar era 1990an ini, mereka memiliki pengalaman sebagai pembaca buku.

Kecenderung waktu itu tak lepas dari semakin banyaknya bacaan-bacaan koran, tabloid, termasuk munculnya banyak penerbitan buku. Hal ini berbeda jauh dengan angkatan 1980an dan lebih jauh lagi berbeda dengan kiai sebelumnya.

Singkat cerita, jika dahulu bapak-bapaknya dari para kiai yang sekarang itu mayoritas jebolan Sekolah Rakyat (SR), para kiai angkatan 1990-an ini sebagian besar mendapatkan pendidikan di pesantren yang relatif terbuka. Sekalipun tidak mengenyam pendidikan kampus, tetapi tren membaca di era 1990-an telah mengantarkan banyak perubahan pada pemikiran para kiai.

Pesantren Sarang Rembang misalnya, pada era 1990-an belum membuka sekolah umum. Tetapi di sana terdapat praktik keterbukaan untuk urusan membaca, tak terkecuali menulis. Sekalipun tidak ada perpustakaan, selalu ada buku yang berseliweran di kamar-kamar asrama dan itu bukan sesuatu yang dilarang oleh para kiai.

Lain daripada itu, pada era 1990-an, majalah-majalah dinding di pesantren Sarang Rembang bertebaran di setiap sudut kompleks pesantren dan madrasah sebagai ajang kreatif menulis. Saya sendiri termasuk bisa mengasah kemampuan menulis karena adanya majalah dinding yang saat itu dikelola oleh KH. Wafi Maemoen Zubeir.

Ketika saya pindah di Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, saya mendapatkan kesempatan lebih dalam hal membaca. Urusan menulis pun bisa lebih berkembang ke media massa. Ada banyak buku di perpustakaan, ada banyak santri yang karena juga kuliah di luar memasukkan bacaan-bacaan yang beragam. Bahkan lebih dari itu, para santri juga punya kebebasan untuk meminjam buku di perpustakaan kampus lain.

Baca juga:  “Fiksasi” dalam Hukum Islam: Membaca Kitab “Mughnil Muhtāj”

Tetapi Pesantren Al Munawwir Krapyak dan sejenisnya semacam Tebuireng memang bukan ukuran kuantitatif untuk menilai keumuman perpustakaan di kalangan pesantren tradisional secara umum. Pesantren Al-Munawwir Krapyak bisa dikatakan sedikit memiliki kelainan dalam urusan perpustakaan disertai kebebasan para santri untuk mengambil beragam bidang studi keilmuwan.

Majunya Literasi, Tergantung Kiainya

Waktu telah berjalan jauh. Melihat pesantren dengan tradisi baca di era 1990-an dengan zaman era 2020-an jelas berbeda. Pada banyak hal yang merasa optimis ada kecenderungan praktik literasi dari kaum santri yang belajar di pesantren itu semakin membaik terutama pada para kiai pengasuh pesantren yang dahulu di era 1990-an memiliki ketertarikan sebagai pembaca buku.

Model pendidikan di pesantren sangat kuat dipengaruhi model berpikirnya para kiai. Jika para pengasuhnya menaruh perhatian besar terhadap bacaan, tentu ia akan merasa perlu menganjurkan pada santrinya untuk membaca dan mengusahakan pesantrennya memiliki sumber bacaan yang beragam.

Hal ini juga dipengaruhi oleh masa lalu para kiainya sebagaimana telah saya gambarkan di atas. Jika kiainya gemar membaca dan juga menulis, maka dari situlah model pembelajaran di pesantren yang saat ini digarap akan cenderung menggutamakan apa yang dilakoni para kiai di masa lalu.

Perpustakaan adalah sebuah tempat penting bagi perkembangan kepribadian para santri. Ia tempat perkembangan kecerdasan rasionalitas yang baik yang akan menyokong perkembangan kecerdasan emosional yang secara natural dikembangkan dalam ruang keasraamaan (padepokan) yang penuh solidaritas dan kesetaraan.

Namun lebih penting dari sekadar kecerdasan, seseorang yang memiliki kegemaran membaca juga akan lebih hidup secara bahagia di tengah-tengah tugas bermasyarakat. Hal itu disebabkan kecenderungan orang lebih bagus dalam komunikasi, lebih percaya diri, dan lebih kritis dan lebih dialogis saat berurusan dengan masyarakat yang majemuk.

Jika perpustakaan dan praktik literasi seperti menulis di majalah dinding atau praktik menulis di internet dimaksimalkan, niscaya pesantren akan lebih bisa maksimal menghasilkan generasi yang gaya kepemimpinannya lebih mampu melayani banyak orang dari ragam golongan.

Pesantren-pesantren yang berada dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) telah punya pengalaman dengan banyak melahirkan pemikir-pemikir di Indonesia. Tetapi itu tak boleh sekadar menjadi kebanggaan yang sifatnya identitas. Kita masih punya problem besar karena bangsa Indonesia ini tergolong bangsa yang rendah literasi yang juga mempengaruhi rendahnya kualitas sumber daya manusia dan bahkan juga berpengaruh pada rendahnya indeks kebahagiaan hidup.

Pesantren dengan modal para kiai yang menyukai bacaan dan bersedia memperjuangkan praktik literasi akan menjadi potensi kebangkitan lahirnya generasi unggul. Apalagi di zaman sekarang ini di mana alat-alat teknologi telah banyak menyokong untuk perkembangan wawasan, semestinya akan menjadi sarana yang lebih baik bagi peningkatan kecerdasan emosional dan kecerdasan rasional bagi para santri. Jangan sampai hadirnya teknologi dengan kelimpahan informasi ini justru menambah bodoh kaum santri karena yang dibaca adalah sampah-sampah dari media sosial.

Baca juga:  Agama dan Pelintiran Kebencian (3): Bagaimana Bahasa Turut Berperan dalam Kekerasan?

Penting diingat, era 1990-an kita punya kekurangan bacaan. Maka, slogan bacaan pun adalah “ayo membaca”.  Era 1990an para santri (termasuk mahasiswa) mengalami kemiskinan bacaan karena buku merupakan beban yang berat. Harga buku sangat mahal dan itu nyaris hanya menjadi bacaan para dosen atau orang yang telah memiliki penghasilan ekonomi secara memadai.

Bagi mahasiswa atau santri era 1990-an, membaca buku, koran, atau majalah berarti harus meminjam. Kekurangan buku pada masa itu mestinya saat ini harus disiasati dengan usaha maksimalkan penyediaan buku dalam ruang perpustakaan khusus para santri, termasuk bimbingan praktik literasi dari internet.

Peluang Literasi Santri

Saya kira akan sangat baik kalau saat ini para kiai di pesantren semakin serius dalam urusan praktik literasi. Semangat dasar santri adalah shastri, sebagai pengkaji literatur. Kehidupan anak-anak remaja di sebuah asrama dan melepaskan diri dari kehidupan konvensional telah terbukti memiliki efektivitas dalam mengawal kehidupan mereka.

Tinggal di asrama lebih banyak positif daripada tinggal di kost-kostan. Bahkan dianggap lebih kondusif daripada tinggal bersama dengan orang tuanya yang semakin kesulitan membimbing anak-anaknya melewati masa remaja hingga dewasa untuk selamat dari ancaman pergaulaan yang merusak.

Peluang tinggal di asrama dengan semangat sebagai pembelajar ini bisa menjadi modal fokus untuk melahirkan generasi yang lebih bermutu di masa depan.

Kondisi bangunan pesantren di masa sekarang telah jauh lebih maju dari era 1990an. Tentu akan lebih bagus jika usaha pembangunan itu mengarah pada pembangunan perpustakaan disertai pembangunan sumberdaya manusia, di mana santri bisa mendapatkan praktik literasi secara baik.

Jika era 1990an kita menyerukan “ayo membaca,” disebabkan oleh kurangnya informasi dianggap menyebabkan kebodohan, tentu saja saat ini perlu diganti dengan slogan, “pilih bacaan”, karena sekarang kita telah hidup di era kelimpahan informasi yang juga berpotensi membuat banyak orang bodoh karena banyak bacaan bersifat sampah.

Apa yang sungguh-sungguh dari literasi itu?

Ialah memahami apa yang dibaca. Setelah memahaminya harus ada eksperimen untuk dengan amal/praktiknya. Setelah mengamalkan kita perlu mengarahkan untuk menulis.

Jika kita ringkas menjadi sebuah slogan, kurang lebih begini bunyinya:  Literasi yang tepat adalah 1) memahami yang dibaca, 2) mengamalkan yang dipahami, dan 3), menuliskan yang telah diamalkan. []

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
2
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top