Sedang Membaca
Hari Anak: Bagaimana Agama Melindungi Anak?
Penulis Kolom

Penulis buku Pembaca Serakah (2018), bergiat di Bale Sastra Kecapi dan Pengajian Malem Senin Solo, Jawa Tengah

Hari Anak: Bagaimana Agama Melindungi Anak?

Anak adalah kehendak Tuhan. Bahkan sering dianggap sebagai berkah dari Tuhan—sesekali sebagai cobaan dari Tuhan. Dalam tradisi/agama, saat wanita hamil bahkan sebelum kelahirannya, janin (bayi) sudah disambut dengan berbagai ritual slametan, mengundang semua orang yang ada di sekitarnya, bahkan para leluhur yang sudah meninggal dunia. Seluruh yang hidup merayakannya. Tampaknya, khususnya di Jawa, tak ada ritual yang begitu banyak selain yang berkaitan dengan seorang anak manusia.

Batapa agung nan mistik penuh aura spiritual yang menyertai atau yang harus disertakan pada anak-anak. Seorang anak manusia bukan hanya daging hidup, seperti hewan atau kelahiran hewan-hewan di dunia ini. Anak adalah karunia-hidup dari Tuhan bagi alam semesta. Maka, demikianlah dalam banyak tradisi di Indonesia, kita mendapati penghormatan terhadap ibu dan anak yang begitu diagung-agungkan. Anak dan ibu adalah manifestasi aksi kehadiran Tuhan di dunia.

Tradisi ini, salah satu pendasarannya, berbasis pada pemikiran kreasionisme: Tuhanlah yang menciptakan segala alam raya dan isinya. Tuhan adalah Tuhan alam semesta, yang telah mengadakan seluruh isi bumi ini, berikut segala hukum-hukum. Peristiwa kelahiran seorang anak, makhluk Tuhan yang paling sempurna, bukanlah peristiwa kealaman (nature) atau rekayasa teknologis, tapi peristiwa teologis yang melibatkan kuasa Tuhan. Tiap anak lahir ada kuasa Tuhan yang menghendaki dan menyertainya. Anak, pertama-tama, adalah kehendak Tuhan, bukan hanya hasil hubungan suami-istri. Maka, ritual slametan, hajatan, atau syukuran hendaknya dilakukan dengan khidmat, khusyuk, kegembiraan, penuh terima kasih dan rasa penghormatan.

Namun, dengan semakin mantapnya pemikiran evolusionisme yang sudah ada benihnya sejak zaman pemikiran Yunani antik dan memuncak dan mengkristal sejak akhir abad ke-19, pemikiran kreasionisme semakin tergerus pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat mutakhir. Ilmu sains modern yang terus menyebar dan mempengaruhi pola pikir manusia modern mutakhir semakin menghilangkan aura pemikiran kreasionisme, khususnya yang berbasis agama. Di Indonesia, barangkali gagasan dasar pemikiran ini masih kurang dirasakan, tapi sudah mulai sangat mengakar terutama yang dipelopori oleh sistem pendidikan modern.

Sampai menjelang 1953, khususnya di Eropa/Amerika, orang masih bisa percaya bahwa ada sesuatu yang benar-benar misterius dengan protoplasma jasad hidup, termasuk kehadiran benih janin manusia dalam rahim yang mempunyai roh-hidup. Tapi, setelah serangan dahsyat yang pertama dari Charles Darwin yang termasyhur itu, datanglah Francis Crick dan James Watson yang patut menjadi tokoh teladan dan penting dalam jagat pemikiran evolusionisme.

Baca juga:  Hardiknas: Menghidupkan Kisah-kisah untuk Pendidikan Anak

Dua tokoh ini telah dianggap berhasil menyingkap struktur molekuler gen (DNA) pada 1953 dan berhak mendapatkan Hadiah Nobel dalam fisiologi dan kedokteran. Penemuan dua tokoh penting ini menghantam tepat pada titik dasar pemikiran vitalisme (dari kreasionisme), yakni pemikiran yang mengatakan dan percaya bahwa benda hidup (living material) berbeda secara mendasar dengan benda mati (nonliving material).

Selama ini, banyak orang masih percaya bahwa bayi manusia, atau makhluk hidup lainnya, secara esensial memiliki roh, sangat berbeda dengan benda-benda mati seperti batu atau lainnya. Maka, berdasarkan dasar pikir vitalisme, setiap yang bernyawa, khususnya manusia, harus dihormati, diagungkan, dan tak boleh dihilangkan nyawanya.

Namun, berdasarkan penemuan dua tokoh DNA itu, secara genetis seluruh makhluk hidup adalah mesin pertahanan hidup (survival machine) yang berbasis pada DNA-nya. DNA itu hanya benda material, seperti halnya debu atau atom. Tak lebih dan tak kurang. Bukan roh, jiwa, atau nama-nama serupa itu. Peristiwa pelahiran anak yang semula sangat teologis nan misterius dengan keterlibatan Tuhan, sekarang hanya sebentuk “pertunjukan origami yang sangat luar biasa” dengan komponen dasar triliunan DNA, sampai akhirnya mewujud makhluk bayi.

Penemuan inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal rekayasa (pembuatan) kelahiran manusia, dengan segala proyeknya, termasuk proyek bayi tabung, selain berbagai teknologi rekayasa ketidakhamilan. Persis, pada titik inilah pemikiran kreasionisme yang berbasis pada agama diserang, meski belum begitu jelas siapa pemenang tunggalnya.

“Tak ada itu apa yang disebut daya-hidup yang dipacu oleh roh, tidak ada selai protoplasmik yang berdegup, menggeliat, berkembang-biak, dan ajaib. Kehidupan hanyalah byte dan byte dan byte informasi digital” yang tersimpan dengan sangat rapi dan sistematis dalam DNA. Penyingkapan saintifik dari Francis Crick dan James Watson ini diprediksi sebagai “akhir pandangan mistis dan obskurantis tentang kehidupan,” kata salah satu tokoh pemikir evolusionis mutakhir yang sedang terkenal, Richard Dawkins (2005). Apakah ini puncak kebenaran terakhir dari sains termaju yang tak terbantahkan? Tentu saja belum semua orang mau percaya, termasuk dari golongan ilmuwan embriologi.

Baca juga:  Mengeja Kebahagiaan Sejati

Kita pun tahu bahwa sistem kesadaran manusia termasuk kemampuannya untuk menghimpun dan mencipta ilmu tentang kehidupannya sendiri, tampaknya masih harus mengakui bahwa tiap kali seorang manusia datang ke dunia, si bayi manusia (termasuk Charles Darwin, Francis Crick dan James Watson!) lahir tanpa pernah si bayi memiliki kehendak, kemerdekaan, kebebasan, subjektivitas, kekuasaan, atau apa pun, untuk memilih rahim perempuan yang menjadi Ibunya.

Sang bayi tak bisa memilih ruang-waktu kelahirannya, termasuk tak kuasa memilih budaya-politik yang sudah menyambutnya. Kita tak pernah memilih dilahirkan dari ibu A, di negeri B, atau pada zaman C, D, atau E. Tak pernah ada manusia yang sebegitu kuasanya dalam kelahiran dirinya! Pemikiran yang berbasis pada DNA belum sampai menjangkau keseluruhan kelahiran seorang manusia dalam dimensi ruang-waktu. Misteri teologi yang melibatkan kuasa Tuhan, betapa pun barangkali hanya dianggap akal-akalan agamawan oleh para ilmuwan evolusionis, belum bisa ditembus seluruhnya oleh pemikiran evolusionisme.

Dan sampai saat ini, zaman yang sudah sampai pada rekayasa teknologis kehamilan manusia, tak pernah satu manusia pun yang memiliki kuasa dan berkuasa untuk memilih anak yang akan dikandungnya, bahkan seorang rasul dan nabi tidak pernah memiliki kuasa secuil pun untuk memilih rahim perempuan untuk dijadikan Ibunya.

Tak pernah ada kesadaran dan kuasa manusia yang sampai pada sebelum keadaaan eksistensial-material manusia untuk mengintervensi kelahiran dirinya sendiri sebelum lahir. Yang misteri masih terselubungi. Apalagi, tatkala kita menyaksikan kebuasan yang bisa diperlihatkan oleh manusia terhadap sesama manusia dan alam raya, kita patut menuntut kemuliaan dan penghormatan sebagai tata norma kehidupan bersama.

Baca juga:  Khalifah Bumi ala Santri Milenial

Namun, efek negatif yang ditumbulkan oleh pemikiran evolusionisme (atau darwinisme sosial) ini dalam kehidupan sosial-politik adalah hilangnya aura manusia di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Bayi manusia tak lagi menjadi sesuatu yang begitu penuh aura spiritual. Manusia bisa saja tak berbeda dengan benda-benda dari pabrik mekanis teknologis sebagaimana diramalkan dalam novel futuristik terkenal Brave New World karya Aldeus Haxley (2015). Manusia sudah bisa mengendalikan kehidupan, bahkan sejak sebelum kelahiran. Manusia berkuasa atas kehidupan, dengan cara memekanisasi kehidupan secara teknologis (juga psikologis). Kehamilan dan kelahiran kini bisa dikendalikan dengan teknologi ciptaan manusia. Tak ada aura kuasa Tuhan lagi. Tersingkir.

Memang belum ada suatu penelitian yang komprehensif terhadap dampak pemikiran evolusionisme, khususnya terhadap nasib bayi-bayi atau bocah-bocah. Tapi, benih-benih kejahatan itu semakin membesar. Bayi-bayi semakin kehilangan aura berkah Tuhan. Bayi hanya triliunan sel yang tak punya roh, dan manusia tak gentar lagi menelantarkannya atau bahkan membunuhnya. Toh bayi manusia hanya sebentuk benda. Dan jika bayi lahir tak diinginkan, itu hanya semacam kesalahan teknologis yang tak terantisipasi oleh sains dan kehendak sadar manusia. Bukankah pemikiran sederhana ini sekarang mulai menjadi gejala dalam kehidupan kita?

Tentu saja, pemikiran evolusionisme sains tidak bisa disalahkan. Begitu juga, pemikiran kreasionisme teologis belum bisa dianggap kalah. Namun, kita sedikit bisa memprediksi bahwa gejala pemuliaan bayi pada tahun-tahun yang akan datang bakal semakin menurun, terutama saat ekonomi, sosial, dan budaya tidak cukup kuat menunjang orang-orang yang terkalahkan.

Maka, kita masih pantas merayakan slametan, hajatan, syukuran, dan lain-lain, untuk mengiringi kelahiran seorang bayi dengan puja-puji terhadap Tuhan sang pencipta kehidupan. Kita pantas memuliakan kehidupan bahkan sebelum sejak seorang janin ada dalam rahim, bahkan menganggapnya sebagai hadiah bahkan hak bagi calon manusia. Karena kita berduka tiap kali seorang bayi teraniaya, tiap kali seorang bocah meninggal disengaja, apalagi dengan kekerasan yang keji. Kita menambatkan senyum kebahagiaan dan masa depan kemanusiaan pada celoteh dan senyum bocah.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top