Sedang Membaca
Pecahnya Keluarga dan Bahaya Algoritma

Penulis lepas. Saat ini tinggal di Nabire, Papua Tengah.

Pecahnya Keluarga dan Bahaya Algoritma

Pilpres 2024

Beberapa waktu belakangan, sebagian besar grup whatsapp keluarga ramai. Grup keluarga yang umumnya diisi dengan update kabar atau tukar cerita kini penuh dengan pertengkaran mengenai jagoan masing-masing menjelang pilpres.

Bahkan perbedaan politik ini membuat sebagian anggota keluarga ada yang di-kick out maupun keluar dari group dengan sendirinya. Pilpres kali ini menunjukkan, hubungan kekeluargaan yang lama terbentuk bahkan ada sejak lahir bisa putus karena perbedaan pilihan politik.

Semua mengakui bahwa pilpres kali ini situasinya begitu hangat dan sengit. Keluarga cukup terpolarisasi menjadi kubu-kubu tertentu. Ada pendukung pasangan Anies-Muhaimin, Prabowo-Gibran, dan Ganjar-Mahfud.

Jika kita mengamati sejak dinamika awal, situasi pilpres kali ini memang cukup unik. Berbagai manuver elite politik maupun presiden cukup mengejutkan banyak pihak dan mengerutkan kening.

Bahkan ada yang menangis kecewa karena aneka tingkah berani para elite yang mempertontonkan kemarukan.

Ketika menjelang perdebatan Presiden, penulis dan publik secara keseluruhan menantikan adanya perdebatan yang substansial. Harapan akan pemimpin yang mampu membawa bangsa ini menyongsong Indonesia Emas tahun 2045 membuat publik sungguh secara cermat menyaksikan dan mencecap setiap kata maupun tindak-tanduk para calon.

Kendati kerinduan akan sosok calon pemimpin yang demikian amat besar, publik malah menerima sajian perdebatan yang tidak lebih dari aksi olok-olokan. Jauh panggang dari api, yang diperdebatkan bukan soal program maupun visi-misi yang visioner, publik malah dipaksa menikmati aksi saling serang yang sama sekali tidak mendidik.

Baca juga:  Luka dan Doa Nabi

Bukan malah mengedukasi, debat malah membodohi publik. Bak menyaksikan anak kecil saling menjelekkan dan mencari-cari kesalahan, perdebatan sejak awal sampai yang paling akhir dari calon presiden maupun wakil presiden sungguh tidak memberi pencerahan.

Suasana seusai debat selalu ramai dengan aneka potongan video para calon yang saling serang atau menyanggah. Publik Indonesia yang mayoritas menggunakan gadget dan berselancar di internet dipaksa untuk menikmati sungguhan pendapat atau gagasan yang tidak utuh.

Ketidakutuhan dalam mencerna informasi membawa masyarakat pada keterbelahan yang mendalam. Ketiga kubu pendukung tenggelam dalam berbagai potongan informasi atau sesuatu yang mereka anggap benar secara membabi buta.

Pencernaan informasi yang tidak lengkap tersebut memupuk kebencian atau mempertegas ketidaksukaan pada yang berbeda haluan. Akibatnya, diskusi di kalangan akar rumput tidak terjadi. Alih-alih berdiskusi, yang terjadi malah debat kusir yang berujung permusuhan. Masing-masing bersikukuh dengan gagasannya masing-masing.

Jebakan Algoritma

Jika kita cermati dengan bijak, hampir semua pengguna media sosial memiliki algoritma yang berbeda-beda pada media sosialnya. Jika kita adalah pendukung pasangan nomor urut 1, maka algoritma di media sosial kita akan secara konsisten menyajikan informasi seputar paslon tersebut.

Hal yang sama pula jika kita pendukung paslon nomor urut 2 atau pun 3. Jika yang kita saksikan adalah sisi positifnya, maka yang ditampilkan adalah yang positifnya saja, sedangkan yang tidak sesuai akan ditenggelamkan.

Baca juga:  A Coffee In Berlin: Manusia, Jendela, dan Cerita

Sistem kerja algoritma yang memberi kita makanan sesuai yang sudah kita coba/nikmati beberapa kali di awal membawa kita pada ketidakutuhan pemahaman. Sebab, yang kita konsumsi hanya yang kita sukai atau saksikan terus aja. Sementara hal lain yang memberi informasi berbeda tidak muncul lagi. Ini sangat berbahaya karena lahirnya objektivitas tidak terjadi.

Kondisi ini sebenarnya bukan hal baru, setiap hari kita mengalaminya. Keadaan ini menurut orang yang mempopulerkannya, Eli Pariser merupakan sebuah filter bubble dalam sistem pembagian informasi lewat internet. Ini mengacu pada modus operandi algoritma ketika mengenali data preferensi seseorang mengenai informasi.

Data yang terkumpul terbut kemudian sedemikian rupa dikondisikan oleh sistem sehingga yang ia terima kemudian adalah infomasi yang sama. Yang orang itu terima nantinya hanya gagasan atau topik yang ia sukai atau kerap nikmati.

Sebagai contoh, jika kita punya aplikasi tokopedia dan kita baru saja mencari jam tangan, maka hampir di semua media sosial kita maupun di youtube, iklan tokopedia mengenai jam tangan akan terus muncul. Hal yang sama juga dengan iklan dalam politik.

Mengakui atau tidak, sistem kerja algoritma yang demikian membuat sebagian besar masyarakat terpecah secara mendalam. Rasa-rasanya sulit menerima bahwa paslon yang ia dukung misalnya memiliki keterbatasan ataupun kekurangan meski itu benar adanya.

Sebab, yang dikonsumsi setiap hari adalah yang baik-baik saja. Dengan demikian, pandangannya tidak pernah seimbang. Yang ia lihat hanya kesempurnaan, sehingga ketika ada yang menyatakan hal berbeda, sikapnya cenderung agresif.

Baca juga:  Pelopor Modernisasi Pendidikan Islam (7): A. Wahid Hasyim

Itulah mengapa, rasanya begitu sulit untuk berdiskusi dengan orang yang berbeda pandangan pada masa kini. Orang-orang cenderung hidup dengan dunia sendiri yang terprogram oleh algoritma media sosialnya sendiri-sendiri.

Matinya Kemanusiaan

Situasi yang mencemaskan ini secara tidak langsung membuat kemanusiaan kita pelan-pelan kehilangan daya. Rasionalitas kita sebagai manusia menjadi tumpul karena informasi yang kita terima dan kita yakini benar hanya sebagian saja.

Algoritma atau sistem komputasi yang pada awalnya diciptakan untuk membantu manusia untuk lebih membantu manusia mencapai kepenuhannya malah membunuh manusia. Kita kehilangan kendali sehingga kita diatur sedemikian rupa oleh teknologi yang juga diatur oleh orang-orang yang berkepentingan.

Moises Naim dalam bukunya The Revenge of Power juga pernah mengingatkan bahaya algoritma internet. Di beberapa negara, algoritma masyarakat diatur sedemikian oleh pihak-pihak yang berkepentingan sehingga mereka mampu mengontrol kelompok atau pembela militan mereka.

Jika kita tidak hati-hati dan memahami cara kerja ini, maka teknologi akan membunuh kemanusiaan kita. Relasi dengan sesama menjadi terkoyak dan daya kritis menjadi kian jinak dihadapan buasnya teknologi yang tidak kita kenali dengan baik cara kerjanya.

Pada akhirnya, semua perlu menyadari bahwa perbedaan pilihan dalam hidup ini, terkhusus dalam politik adalah sesuatu yang niscaya. Jangan sampai adanya perbedaan politik membunuh kekeluargaan kita.

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top