Sedang Membaca
Memahami Tafsir Syekh Abdul Qadir al-Jalani: Fi Ahsani Taqwim
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Memahami Tafsir Syekh Abdul Qadir al-Jalani: Fi Ahsani Taqwim

Edi AH Iyubenu
Lukisan Burak Nasirun

Gus Mus pernah menuturkan kelebihan-kelebihan manusia dibanding tumbuhan dan binatang sebagai sesama ciptaan-Nya. Tumbuhan memiliki perasaan, namun tak bisa mengekspresikan perasaannya. Binatang memiliki perasaan dan bisa mengekspresikan perasananya dengan terbatas. Bagaimana dengan manusia, dengan kita?

Manusia memiliki akal dan perasaan, serta bisa mengekspresikan akal dan perasaanya dengan sempurna!

Sungguh, manusia adalah sebaik-baik makhluk. Selain akal dan perasaannya, manusia dilengkapi modal kebudayaan dan agama. Lengkap benar “senjata” yang tersemat pada diri manusia untuk memanggul sebenar-benar keluhungan.

Alquran dalam surat at-Tin menyebut “laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim” (sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik).

Selain dimensi lahiriah, manusia memiliki dimensi rohaniah (bukan hanya perasaan) yang luar biasa. Betul, manusia memang “makhluk kecil” dalam sistem semesta ini, namun dengan bekal akal dan rohaninya manusia mampu menjangkau hal-hal sebesar apa pun, yang tampak maupun tak tampak, yang empiris maupun ghaib. Partikularitas manusia mampu “mewadahi” universalitas, termasuk Tuhan Yang Maha Segalanya. “Arsy-Ku bertahta di hati hamba-Ku,” firman Allah Swt dalam sebuah hadis Qudsy.

Keluarbiasaan inilah yang ditanamkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam menakwil ahsanu taqwim dalam kitabnya, Sirrul Asrar fima Yahtaj Ilaihil Abrar.

Beliau menjabarkan ahsanu taqwim sebagai dimensi esoterik (rohaniah) manusia yang tak terbatas; suatu ruang manifestasi dari “jagat langit” yang maha luas tak terbatas dari jagat bumi yang terbatas. Ketakterbatasan jagat langit (makrokosmos, jagat gede) itu, Anda bayangkan, mampu ditampung sempurna oleh rohani manusia yang menghuni jagat bumi (mikrokosmos, jagat cilik). Jadi, sekecilnya manusia, pada hakikatnya, di derajat yang paripurna ia sekaligus jagat gede. Mikrokosmos sekaligus makrokosmos. Benar-benar suatu “kesempurnaan” yang tak terpermanai.

Dalam suatu pengajiannya di Kafe Basabasi (2019), Jogja, Gus Ulil Abshar Abdalla memberikan ilustrasi menarik terhadap hal ini. Ia menamsilkan betapa tak terperinya jarak antara bumi dan matahari, galaksi-galaksi, dan apalagi lubang hitam yang tempo hari berhasil dipotret untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban manusia. 

Jarak antara bumi dan matahari, kita tahu, adalah 149,6 juta kilometer. Jarak bumi ke Mars adalah 227,9 juta kilometer. Jarak bumi ke Jupiter adalah 778,5 kilometer. Jarak bumi ke Saturnus adalah 1.434 milyar kilometer. Jarak antara bumi ke Neptunus adalah 4.495 miltar kilometer (kalau kurang beberapa kilometer tolong dimaklumi). 

Lalu berapa jarak antara bumi dan lubang hitam yang melumat apa saja di sekitarnya? Jangan kaget, 500 triliun kilometer! Terbayangkah?

Tak terbayang! Sama sekali tidak. 

Namun, manusia mampu “menjangkau” jarak maha luas tersebut dengan wujudnya yang kecil, rapuh, dan serba terbatas. Inilah bukti nyata kehebatan tak terbatas manusia. Apalagi semesta rohaninya, spiritualnya, esoterisnya. 

Dalam mengenal dan mamahami Tuhan, kita sungguh tak terbayang wujudNya dan kekuasaanNya semacam apa. Dia adalah Dzat Yang Maha Tak Terbayangkan, Tak Terkatakan, dan Tak Terilustrasikan. Laisa kamitslihi syaiun, tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, begitu tutur asy-Syura 11. 

Karena Allah Swt melampaui segalanya, jelas manusia seketika tersapihkan dalam jarak ketakterbayanganNya.

Akan tetapi, di sisi lain, dalam surat Qaf 16, Alquran menyatakan: “Dan Kami lebih dekat kepadanya (manusia) dari urat lehernya.

Bagaiamana kita memahami dua kondisi ini? Kita lalu mengenal istilah tanzih (pemisahan) dan tasybih (penyerupaan) dalam kajian tasawuf (esoterisme), yang berkerucut pada pemahaman bahwa ketidakserupaan Allah Swt dengan apa pun, keberjarakanNya yang tak terabayangkan dengan manusia, pada detik yang sama berelasi intim dan bahkan manunggal tak berjeda bahkan oleh helaian angin yang paling tipis.

Baca Juga

Kita mengenal pemahaman tajalli, mukasyafah, musyahadah, wahdlatul wujud, manunggaling kawula Gusti, dan lain sebagainya, sebagai ungkapan manifestatif terhadap episteme tersebut. Manusia yang kecil dan Allah Swt yang Maha Besar dalam episteme tersebut adalah sebenar-benar kemanunggalan sekaligus. Dan ini bertahta dalam rumah rohani manusia. Hanya rohani manusia yang bisa menjangkaunya.

Inilah yang dimaksud Syekh Abdul Qadir al-Jailani sebagai ahsanu taqwim. Betapa adiluhungnya manusia, betapa rohaniahnya manusia, dan (ekstremnya) betapa “Ilahiahnya” manusia.

Hanya saja, derajat tersebut adalah suatu asal-muasal. Berikutnya, perjalanan hidup kita di dunia ini akan menentukan kondisi khitah muasal tersebut. 

Alquran mewanti-wanti ihwal rawannya kita terjungkal pada jurang asfalas safilin, kedudukan yang paling rendah dan hina, dalam perjalanan hidup ini. Syekh Abdul Qadir al-Jailani menakwil status tersebut (asfalas safilin) sebagai terbelenggunya diri-rohani pada artifisialitas pernak-pernik duniawi yang oleh surat al-Hadid disebut la’ibun wa laghwun, permainan dan kesia-siaan, yang berujung pada mata’ul ghurur, tipu daya kenikmatan yang semu. 

Jika kita yang telah disemati kedigdayaan rohani sejak muasal penciptaannya (ahsanu taqwim) ternyata malah terbelenggu oleh renak-renik dunia ini, tepat di kondisi tersebutlah kita terjatuh pada asfalas safilin. Rohani kita menjadi terhijabi untuk mengenal dan memahamiNya dengan baik, luas, tak terbatas akibat kita lanturkan diri dalam perangkap ketidakbaikan, keterbatasan, dan kekerdilan duniawi ini. Lazimnya, ada tiga perangkap hijab rohani yang karenanya mesti senantiasa kita waspadai dengan seksama siang malam, yakni hijab maksiat, hijab ilmu, dan hijab amal. Insya Allah lain kali kita diskusikan.

Agar kita terselamatkan dari perangkap-perangkap asfalas safilin yang memperdaya dan mereduksi itu, yang mencampakkan kita dari tahta “makhluk Surgawi” ke “makhluk duniawi”, mestilah kita selalu merawat dan mengasah kecemerlangan rohani kita dengan cara: amanu wa ‘amilus shalihat, beriman dan berbuat kebaikan-kebaikan. Sayyid Muhammad Husein Fadhlullah dalam sebuah ceramahnya, misal, memberikan nasihat perihal (cara beriman dan berbuat kebaikan-kebaikan) ini melalui jalan berislam yang bukan hanya diisi salat, puasa, dan segala jenis ibadah mahdhah-personal, tetapi sekaligus kepekaan dan kepedulian kepada kaum lemah, ketidakadilan, dan segala bentuk akhlak karimah cum akhlak sosial.

Jadi, aminu sebagai sistem ontologis berhubungan intim dengan Allah Swt (hablun minalLah) mesti sekaligus mendorong kita pada produksi ‘amilus shalihat yang menghubungkan kita dengan baik dan positif antarsesama. Keduanya musti sinergi, sublim, dan dengan praktik tersebutlah kecemerlangan rohani kita akan bisa tetap bertahta di singgasan ahsanu taqwim

Insya Allah. Amin.

Lihat Komentar (0)

Komentari