Sedang Membaca
Tenaga dari yang Tiada: Hidup Mati Denmark-Inggris
Penulis Kolom

Cerpenis, esais, dan kolumnis.  Menulis cerpen, kolom budaya, dan kritik buku di media-media nasional. Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Buku antologi cerpennya: LARAS -Tubuhku Bukan Milikku- (2005),  Lidah Sembilu (2006), Cinta di Atas Perahu Cadik–cerpen KOMPAS  pilihan 2007, (2008),  SMOKOL–cerpen KOMPAS  pilihan 2008, (2009) dan Juru Masak (2009), Anak-anak Masa Lalu (2015). Antologi esainya   Darah-Daging Sastra Indonesia (2010). Bermukim di Jakarta.

Tenaga dari yang Tiada: Hidup Mati Denmark-Inggris

1 Denmark

Bjorn Bindzus, seorang penggemar sepak bola mengunggah sebuah pose berdua dengan Christian Eriksen, 3 Juli 2021. Ia mengaku tak sengaja berjumpa gelandang tim Denmark itu di pantai Tidvilde Strand, Denmark. Dalam pose itu, Eriksen tampak segar bugar, setelah menjalani perawatan intensif di Rigshopital, Kopenhagen.

Dikabarkan, Eriksen sudah pulang ke rumah pada 18 Juni 2021 setelah dipasang defibrillator cardioverter. Sebelum unggahan Bjorn Bindzus, pada 15 Juni 2021 Eriksen sendiri juga mengunggah foto di laman Instagram pribadinya dalam kondisi yang masih terbaring di kamar inap rumah sakit.

“Saya masih menjalani beberapa pemeriksaan, tapi saya baik-baik saja. Saya berterimakasih kepada Anda semua, atas segala harapan dan doa untuk saya, yang datang dari seluruh dunia. Sekarang saya akan mendukung perjuangan teman-teman saya di tim Denmark pada pertandingan selanjutnya.” tulis Eriksen.

Kabar dari Bjorn Bindzus tiba bersamaan dengan hari pertandingan fase perempat final EURO 2021 antara Denmark versus Republik Ceko di Olympic Stadium, Baku, Azebaijan, yang kemudian berakhir dengan skor 2-1 untuk Denmark, dan memastikan anak-anak asuh Kasper Hjulmand itu maju ke babak semifinal. Denmark bermain agresif, dan mendedahkan keunggulan lewat gol Thomas Delaney di menit ke-5. Keunggulan itu disempurnakan oleh Kasper Dolberg pada menit ke-42. Republik Ceko hanya mampu melakukan perlawanan dengan 1 gol dari Patrik Schick 7 menit kemudian.

“Kami akan bermain dengan hati Christian Eriksen. Ia masih menjadi hati tim ini, dan dengan hati itu dan tanpa rasa takut, kami akan mencoba,” kata Hjulmand dalam konprensi pers sebelum pertandingan. Kepada media Hjulmand mengakui, bahwa selama pertandingan dan setelah berhasil menyingkirkan Ceko, ia terus berpikir betapa menakjubkannya melihat Eriksen bermain di sana. “Ia masih menjadi bagian penting dari tim ini dan bagian besar dari perjalanan kami menuju Wembley. Tim ini bukan sesuatu yang kami bangun dalam semalam, ia telah menjadi bagian dari tim untuk waktu yang sangat lama,” ungkap Hjulmand.

Baca juga:  Alifuru: dari Cengkeh, PKI hingga Kisah Nabi Adam

Reaksi emosional terhadap ambruknya Eriksen saat Denmark menghadapi Finlandia di fase grup telah membuat Denmark menjadi favorit tim netral dengan dukungan yang datang dari seluruh benua. Dapat dibayangkan betapa besarnya keriangan yang menimpa Eriksen saat ia menyaksikan Kasper Schmeichel dan kawan-kawan mengerahkan segenap daya upaya yang barangkali tak setangguh saat mereka menggilas Wales dengan skor 4-0, tapi kemenangan itu, bagaimanapun juga, telah membuat mereka kembali terhubung dengan era kejayaan Denmark saat menjuarai Piala Eropa 1992, setelah mengalahkan Jerman dengan skor 2-0.”Sungguh tak terlukiskan, bahwa kami telah mengalahkan juara Eropa dan juara dunia sekaligus, dan kini kami sendiri juara Eropa,” kata Bryan Laudrup selepas kemenangan itu.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Jika tim sepak bola adalah sebuah keluarga, bagi tim Denmark kini, Eriksen adalah anggota keluarga yang hilang, dan atas pertimbangan medis, amat kecil kemungkinan ia dapat kembali lagi ke lapangan hijau. Namun, layaknya sebuah keluarga, si anak hilang itu, hanya hilang fisik lantaran musibah yang menimpanya, sementara jiwa dan fighting-spirit-nya dalam memperjuangkan nama baik keluarga, tertinggal selamanya. Bagi publik sepak bola dunia, etos penghormatan pada Eriksen barangkali cukup dengan simpati dan doa-doa lekas sembuh, tapi bagi Simon Kjaer dan kawan-kawan, si anak hilang itu, mesti dikenang dengan cara menghadirkan dirinya pada setiap momentum pertandingan, menapaktilasi lelaku baiknya, mengendus sisa-sisa aroma tubuhnya saat bekerja keras untuk keluarga, dan menggapai mimpi besarnya, yang dalam kompetisi besar ini tentulah mempersembahkan kemenangan sejati.

Semakin Eriksen hilang, saudara-saudaranya akan semakin menemukannya. Semakin samar-samar kabar tentang Eriksen, keluarganya akan semakin memperjelas kabar itu, bahwa sesungguhnya ia tidaklah ke mana-mana, tapi tetap berada di tengah-tengah keluarganya, dalam suka dan duka, dalam kalah dan menang. Absennya fisik Eriksen, bagi seluruh anggota keluarga besarnya ternyata menjelma jiwa yang menyalakan daya upaya menuju Wembley. Tak mudah memang, tapi jiwa si anak hilang, membuat keluarga itu pantang menyerah, ogah surut ke belakang.

Baca juga:  Hardiknas: Menghidupkan Kisah-kisah untuk Pendidikan Anak

“Sungguh magis. Hal pertama yang saya tunjukkan pada rapat tim pertama adalah foto stadion Wembley ketika kami ke sana musim gugur lalu. Saya bilang, kita akan kembali ke sana,” ungkap Hjulmand dalam sesi wawancara pasca kemenangan. Foto yang dimaksud Hjulmand tentulah dokumentasi pertandingan Denmark kontra Inggris di ajang UEFA Nation League 2020/2021 yang kala itu berakhir dengan skor 1-0 untuk Denmark. Maka, kembali ke Wembley adalah juga impian besar si anak hilang, yang kini telah diwujudkan oleh Martin Braitwaite dan kawan-kawan, dan secara kebetulan pula lawannya di semifinal adalah Inggris. Kapten Simon Kjaer bilang, tiket menuju Wembley itu diperoleh bukan karena kebetulan.”Sebelum turnamen, kami punya target, yaitu memesan satu tempat di Wembley,” ungkapnya sebagaimana dilansir laman resmi UEFA. “Saya berbohong, jika bilang kami cukup puas dengan semifinal saja,” tegas Kjaer lagi.

Ada sebuah satir populer yang bergulir saat Denmark kontra Jerman pada final Piala Eropa 1992, yakni kisah kecil tentang “kesebelasan korset” yang menurut media pada masa itu digunakan untuk mengolok-olok Moller-Nielsen, pelatih Denmark. Sebagaimana dinukilkan kembali oleh kolumnis bola Sindhunata (2002) dalam Bola di Balik Bulan, bahwa Nielsen sedang mengenang masa kanak-kanaknya, dan ia teringat akan korset ibunya. Diceritakan, korset itu bisa ketat atau kencang karena batangan kecil yang menahannya. Peran batang penahan itu kurang lebih seperti tali beha zaman dulu. Setiap kali korset itu harus dicuci, batang penahan harus ditarik keluar dahulu. Bayangkan jika batang penahan itu dilepaskan, korset yang semula kencang dan ketat akan kendor seketika, seperti beha tanpa pengikat.

Baca juga:  Ucapan Natal dalam Pandangan Gus Dur

“Saya membutuhkan batang penahan korset itu, dan dia adalah Schmeichel, Christofte, dan Povslen. Tanpa mereka bertiga, kesebelasan saya akan ambruk, seperti korset ibu saya, ” kata Nielsen. Kenapa tiga pemain itu disebut batangan penahan korset? Bagi Nielsen, Schmeichel si pirang itu adalah tikus besar yang ajaib. Kepadanya orang boleh mempercayakan segalanya. Christofte, sangat kaya ide di lapangan tengah, dan Povlsen adalah tenaga dinamik yang menghela seluruh tim untuk bekerja.

Jika ketiganya dianggap anak-anak Denmark yang sudah hilang setelah digerus perkembangan zaman, maka sebagaimana Eriksen, jantung Peter Schmeichel tentu akan berdenyut di tubuh Kasper Schmeichel yang tak lain adalah putranya sendiri. Kreativitas Christofte akan bersemayam di tubuh Thomas Delaney, dan ketangguhan Povslen akan bersarang dalam diri Dolberg. Tak ada superstar di tim Denmark, tak ada nama-nama bertabur bintang, tapi ikatan keluarga yang terbuhul erat dalam tim dinamit itu, utamanya selepas kehilangan Eriksen, membuat mereka kian tangguh, dan tak mudah ditumbangkan, apalagi diremehkan. Menggapai mimpi besar si anak hilang, menjiwai pencapaian keluarga tim Denmark pada tahun 1992, dan mempersiapkan ledakan dinamit untuk menggetarkan seantero Wembley, London, Kamis 8 Juli 2021 (pukul 02.00 WIB), adalah semacam “strategi senyap” yang digunakan Hjulmand untuk memompa semangat juang anak-anak asuhnya.

Dalam hidup keseharian, ada yang selalu hadir di sekitar kita, tak bergeser ke mana-mana, dan mustahil menghilang pula, tapi kehadirannya sedemikian merepotkan, menjengkelkan, bahkan tak jarang membawa sial dan celaka. Tapi dalam sepak bola, ada yang muncul sesaat saja, lalu lenyap selamanya, tapi duka akibat kehilangan itu pada akhirnya menjadi tenaga bagi yang orang-orang yang ditinggalkannya, menjadi stamina guna merengkuh juara, menjadi potensi ledakan yang bisa saja meluluhlantakkan segala ancaman dan marabahaya…

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top