Sedang Membaca
Roman Islam dan Roman Picisan
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Roman Islam dan Roman Picisan

Asmara Sutji

Ibadah haji mengingatkan perkara-perkara suci. Pelbagai cerita dan dokumentasi bakal membuat orang-orang selalu menginginkan dan merindukan berada di tanah suci. Kini, orang-orang Indonesia bergerak pulang untuk bertemu keluarga, tetangga, dan teman. Mereka menjadi pengisah menimbulkan kagum, airmata, cemburu, dan lain-lain.

Pada suatu masa, ibadah haji berkaitan dengan roman picisan. Orang-orang disodori buku kecil dan tipis. Di situ, cerita asmara tapi memiliki kaitan dengan ibadah haji. Novel terbit bukan dimaksudkan dakwah bergelimang pesan.

Novel berbahasa Jawa gubahan Sikoet dimaksudkan “menghibur” dan “mengingatkan”. Novel masih mungkin terbaca itu berjudul Asmara Sutji: Djinanget Ibadah Hadji (1966). Buku diterbitkan Ramadhani, Semarang.

Buku mungkin bisa cetak ulang mumpung bakal ada hajatan besar Muhammadiyah di Solo. Sikoet itu wartawan dan pengarang tinggal di Solo. Ia tenar dan berpengaruh di Muhammadiyah dalam terbitan pers: Alfatch dan Adil. Sikoet atau Surono pun pengarang meski cuma roman picisan.

Pada masa 1950-an, sebutan itu makin menjadi masalah bagi orang-orang membaca buku A Teeuw berjudul Pokok dan Tokoh dalam Kesusasteraan Baru Indonesia (1952). R Roolvink urun tulisan mengenai roman picisan. Di Indonesia, sejarah penulisan dan penerbitan cerita memang tak melulu berpatokan Balai Pustaka masa 1920-an. Para penikmat dan pengamat mengetahui ada arus besar roman picisan turut membentuk “ketagihan” membaca buku-buku biasa dikemas sederhana dan berharga murah.

Baca juga:  Data Science untuk Pengembangan Islamic Studies

Sikoet mungkin sadar situasi sastra dan industri penerbitan buku cerita. Di novel tipis, kita membaca “sedahan pangripta” dari Sikoet: “Rerontjen ‘roman Islam’ iki rinatjike adedasar pengalaman pangripta jaiku nalika ibadah hadji ing taun 1950.” Semula, ia memberi sebutan “roman Islam”. Buku tipis itu memang mengandung dakwah tapi tak keterlaluan. Sikoet mahir dalam siasat mengingatkan iman dan mengisahkan ibadah haji.

Sikoet juga menerangkan: “Kadjaba saka iku, pangripta kepengin ‘nanding’ pirang-pirang buku tjrita kaja ngene iki, kang isine mung sifat ‘ubjang-ubjung’ utawa roman pitjisan.” Sebutan itu melugaskan kemauan dan kemampuan Sikoet dalam menggubah cerita. Ia mengandaikan bisa menulis sekian cerita, tak harus bermutu sastra-serius atau adiluhung tapi menandingi cerita-cerita picisan digemari ribuan pembaca di Indonesia.

Buku cuma 48 halaman tapi “mengesahkan” Sikoet sebagai pengarang cerita, tak melulu wartawan. Buku mengajak pembaca selalu ingat Tuhan dan berairmata atas kejadian-kejadian di tanah suci.

Masalah pengakuan Sikoet untuk menggubah roman (tak) picisan disinggung dalam buku berjudul Eskapisme Sastra Jawa (2002) susunan Imam Budi Utomo dan tim. Kita mengutip: “Apa yang dikemukakan Sikoet adalah sah-sah saja. Namun, suka atau tidak suka, karya Sikoet itu, termasuk pula karya pengarang lainnya yang mungkin tidak mengakui atau menolak karyanya disebut sebagai roman picisan, sesungguhnya – berdasarkan spesifikasi struktur internal dan kemasannya – termasuk ke dalam jenis atau subgenre roman picisan.”

Baca juga:  Apa Pentingnya Beribadah, Bila Allah Tidak Membutuhkan Sedikit pun Ibadah Kita?

Penerbitan Asmara Sutji: Djinanget Ibadah Hadji tak memiliki halaman untuk data diri pengarang. Di kulit muka, para pembaca cuma mengetahui keterangan singkat bahwa Sikoet itu “redaksi Adil-Solo”. Orang-orang masa lalu mengetahui Adil berkaitan Muhammadiyah dalam turut memajukan pers di Indonesia. Adil diterbitkan di Solo.

Pada 2022, kita berhak mengusulkan novel bisa cetak ulang oleh penerbit atau komunitas di naungan Muhammadiyah. Novel berhak pula diulas oleh para ahli sastra atau kritikus sastra. Mereka sebagai anggota Muhammadiyah mungkin merasa ada “kewajiban” untuk menjadikan novel itu pemicu mencari kaitan-kaitan Muhammadiyah dengan perkembangan sastra di Indonesia, dari masa ke masa. Usulan lain mengadakan lomba resensi bagi para mahasiswa atau umum agar novel tipis itu terhormat setelah “sepi” selama puluhan tahun.

Kini, novel warisan Sikoet tersimpan di Bilik Literasi. Di tempat berbeda, novel itu mungkin selamat atau lestari. Sekian tahun lalu, buku itu dibeli di pasar buku loak. Dulu, buku pernah menjadi koleksi Pengurus Pengajian Islam, Kauman, Surakarta berdasarkan stempel di halaman awal. Novel ditulis tokoh di Solo menantikan terbit lagi dan mendapat pembahasan menjelang acara akbar Muhammadiyah di Solo, 2022.

Novel jangan diabaikan berdalih ada tema-tema besar wajib diurus selama muktamar. Penerbitan, seminar, lomba resensi mungkin sejenis penghormatan untuk almarhum Sikoet telah membuktikan ketekunan dalam pers dan perbukuan. Begitu.

Baca juga:  Tentang "Kerata Basa": setelah "Pasa" lalu "Bada" dan "Kupatan"
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top