Sedang Membaca
Mengenang 40 Hari Kepergian Joko Pinurbo: Puisi dan Kuburan
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Mengenang 40 Hari Kepergian Joko Pinurbo: Puisi dan Kuburan

mengenang 40 hari kepergian Joko Pinurbo

Sekian hari lalu, orang-orang di Jogjakarta mengadakan acara mengenang 40 hari kepergian Joko Pinurbo. Mereka memilih tempat-tempat biasa untuk gelaran seni dan ruang publik. Orang-orang membaca puisi, memberi kesaksian, dan sajikan ulasan. Acara mengenang tidak diselenggarakan di kuburan.

Di sastra Indonesia, kita mengenali nama-nama pengarang telanjur dianggap bermazhab kuburan. Sitor Situmorang selalu teringat dengan kuburan meski kita cuma mengingat satu puisi. Rujukan berpengaruh besar bagi umat sastra Indonesia berimajinasi kuburan itu novel berjudul Ziarah. Novel ditulis Iwan Simatupang dianggap “serius” memasalahkan kuburan.

Kita mundur ke belakang bakal menemukan teks-teks sastra memuat masalah kuburan dengan jumlah dan bobot kematangan berbeda. Nama-nama besar terduga pernah menaruh imajinasi kuburan dalam puisi-puisi. Novel-novel terkenal di Indonesia memilih halaman-halaman memuat kuburan. Kita tak memberi pengesahan sembarangan agar teks-teks itu menjadi referensi terpenting. Di terbitan buku sastra mutakhir, keseriusan menulis kuburan dilakukan Binhad Nurrohmat.

Di peralihan abad XX-XXI, kita memastikan ketekunan menulis kuburan dilakukan Joko Pinurbo (1962-2024). Sosok bertubuh ringkih dan germar memberi lucu itu sudah pamitan. Kita berhak menjadi peziarah saat berkunjung di pekuburan beralamat di Jogjakarta.

“Aku mau piknik sebentar ke kuburan,” larik terbaca dalam puisi gubahan Joko Pinurbo (1994) berjudul “Kisah Senja”. Kuburan itu tempat. Ia biasa mengajak pembaca membuat perbandingan antara rumah dan kuburan. Di situ, ada pengertian dihuni orang hidup dan alamat atas kematian. Pengisahan tak selalu memastikan terjadi perbandingan. Rumah dan kuburan kadang sama, saling menggantikan.

Baca juga:  Wawancara Khusus Prof. Azyumardi Azra dengan Prof. Nurcholis Madjid 37 Silam: Tentang Demokrasi, Asas Tunggal, Pembaharuan dan Sekulerisasi (3)

Dua bait mengesankan dan selalu teringat merujuk puisi berjudul “Celana , 1”, Joko Pinurbo (1996) membuat ambiguitas lucu dan haru. Ia terbaca main-main tapi mengesankan ketulusan manusiawi. Dulu, kita membaca dengan mendapat tawa atau renungan suram. Kini, kita membaca lagi sambil mengenang Joko Pinurbo di kuburan. Dua bait terakhir mengesahkan ia paham kuburan tak sekadar tempat: “Kalian tidak tahu ya,/ aku sedang mencari celana/ yang paling pas dan pantas/ buat nampang di kuburan?”// Lalu ia ngacir/ tanpa celana/ dan berkelana/ mencari kubur ibunya/ hanya untuk menanyakan,/ “Ibu, kausimpan di mana celana lucu/ yang kupakai waktu bayi dulu.” Di kuburan, ada raihan masa lalu atau awal dan kesadaran semua berakhir dengan kematian. Di kuburan, ingatan-ingatan dihidupkan mengenai tokoh, benda, bahasa, dan peristiwa.

Di puisi berjudul “Celana, 3”, Joko Pinurbo masih menaruh peristiwa di kuburan. Kita membaca “pendalaman” atau kesengajaan mengadakan serial (imajinasi) kuburan. Di situ, kita membaca: Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih/ yang menunggunya di pojok kuburan./ Ia pamerkan celananya: “Ini asli buatan Amerika.” Kita tak melulu merasakan kematian. Joko Pinurbo menguak selera dan kiblat bagi orang hidup ingin “bahagia”. Pembuktian dan “bualan” diselenggarakan di kuburan, tempat orang-orang mati.

1996, tahun terpenting dalam penulisan kuburan. Joko Pinurbo mengerti penempatan kuburan dalam teks. Ia tak terlalu berharap mendapat perhatian pembaca meski rutin mencantumkan kuburan. Kita membaca kuburan dalam puisi berjudul “Kisah Semalam”. Joko Pinurbo (1996) tampak memberi lelucon tapi mengajarkan keberterimaan takdir. Sosok-sosok menginsafi kuburan itu hidup-mati. Pada bait terakhir: Sesudah itu ia sering mangkal di kuburan,/ menunggu kekasihnya datang. Tentu dengan/ setangkai kembang plastik yang dulu ia berikan. Kuburan bukan tempat mutlak kesedihan dan derita. Di situ, orang masih mungkin mendapat hiburan dan merawat nostalgia.

Baca juga:  Ulama Banjar (6): Syech Abdurrahman Siddiq

Kuburan sulit absen dalam puisi-puisi Joko Pinurbo. Pada 2001, kita membaca kuburan dalam puisi berjudul “Penagih Utang”. Nasib dan kematian dihadirkan bersama dalam jalinan hak dan kewajiban. Manusia-manusia hidup bertarung nasib. Mereka membutuhkan uang dan mengetahui keterbatasan dalam mendandani hidup. Konon, utang menjadi “pengesah” hidup dalam ukuran gagal atau sukses.

Joko Pinurbo suguhkan hidup itu pelik. Mati bukan keberakhiran. Kita membaca: Entah mengapa, setiap kali melayat orang meninggal/ aku selalu melihat penagih utang itu menyelinap/ di tengah kerumunan. Ia suka mengangguk, tersenyum,/ namun saat akan kutemui sudah tak ada di tempatnya./ Tahu-tahu ia muncul di kuburan, melambaikan tangan,/ dan ketika kudatangi tiba-tiba raib entah ke mana. Kita tak sedang menikmati puisi pamer horor. Kejadian memang di kuburan tapi menguatkan penasaran dan ingatan, bukan mencipta ketakutan seperti dalam film-film horor.

Tokoh berbeda dimunculkan dalam puisi berjudul “Penumpang Terakhir”. Joko Pinurbo (2002) mengisahkan bang becak. Pengisahan sederhana tetap beralamat kuburan. Joko Pinurbo belum jenuh dengan kuburan: Malam itu aku minta diantar ke sebuah kuburan./ Aku akan menabur kembang di atas makam/ nenek moyang. Kuburan itu cukup jauh jaraknya/ dan aku khawatir bang becak akan kecapaian,/ tapi orang tua itu bilang, “Tenang, tenang.” Perjalanan menuju kuburan dengan berbagi cerita dan capek. Dua tokoh berganti peran dalam pemastian sampai tujuan: kuburan.

Baca juga:  Menelusuri Jejak Pemikiran Rene Descartes

Puisi tanpa lucu itu berjudul “Bunga Kuburan”. Pembaca mudah terharu. Joko Pinurbo (2002) membuat pembaca bergejolak memikirkan identitas, kejahatan, keluarga, kematian, dan keindahan. Sosok lugu terikat kuburan sebagai sumber: Gadis kecil itu suka sekali memetik mawar putih/ dari kuburan, kemudian menanamnya di ranjang./ “Bunga ini, Bu, akan kuncup dalam tidurku.” Peristiwa membuka trauma dan pengakuan tak tega. Bunga berasal di kuburan untuk para penjahat. Di situ, ada cerita petualang memperkosa perempuan, berakibat kehamilan dan kelahiran “gadis kecil”. Bait mengharukan: Gadis kecil itu suka memetik mawar putih/ dari kuburan dan ibunya tidak sampai hati/ mengatakan, “Buah hatiku, sesungguhnya kau/ anak si pemerkosa itu.” Di akhir, pembaca terdiam lama.

“Bunga Kuburan” bukan puisi terakhir. Kita masih bertemu kuburan di puluhan puisi ditulis dalam tahun-tahun berbeda. Joko Pinurbo keranjingan kuburan. Ia tak “iseng” menaruh kuburan dalam puisi. Ia membuat pengisahan dan pendalaman kuburan. Kini, kita bisa berziarah ke kuburan Joko Pinurbo di Jogjakarta. Kita pun bisa berziarah di kuburan dalam puisi-puisi. Begitu.

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top