Sedang Membaca
Kliping Keagamaan (7): Ingat MUI, Ingat Hadiah
Bandung Mawardi
Penulis Kolom

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

Kliping Keagamaan (7): Ingat MUI, Ingat Hadiah

Sayembara Mui, Tempo, 16 Februari 1985

Orang-orang kadang menjengkelkan bila menjawab atau berkomentar. MUI? Ah, mereka asal omong: ingat MUI, ingat stempel halal dan fatwa. Mereka berpikir pendek saja. Di percakapan atau media sosial, mereka enteng membuat kelakar berkaitan MUI berkaitan bisnis, politik, hiburan, pendidikan, dan lain-lain. Kelakar membuat mereka semakin tak mengerti MUI.

Lho! Pada abad XXI, berita-berita mengenai MUI itu berlimpahan. Eh, sekian berita malah membuat kita bingung dalam bersikap atas cara pikir dan fatwa dikeluarkan MUI. Pada masa wabah, orang-orang bergantian menunduk dan geleng-geleng bila mendapat pengumuman dari MUI. Kita mengaku bahwa pengetahuan tentang MUI memang terbatas tapi gampang berceloteh kebablasan.

Buku Kiai Said

Pada 1976, terbit buku dengan garapan sampul jelek alias sulit diampuni: berwarna kuning dan hijau. Judul pun membikin malas orang-orang keranjingan membaca sastra, filsafat, dan ilmu-ilmu sosial. Buku itu berjudul Ulama dan Pembangunan, terbitan Panitia Musyawarah Nasional I, Majelis Ulama Seluruh Indonesia.

Kita jangan meremehkan buku berkemasan jelek dan bekertas buram. Bacalah kalimat-kalimat Soeharto (21 Juli 1975) dengan ikhlas:  “Apabila saya tidak khilaf, belum pernah dalam sejarah kita berhimpun demikian banyak para ulama seperti sekarang ini. Karena demikian penting peranan ulama dalam pembinaan agama Islam dan juga karena demikian besar pengaruh ulama terhadap masyarakat kita, maka saya berani mengatakan bahwa pertemuan para ulama dari seluruh penjuru Tanah Air sekarang ini benar-benar merupakan peristiwa penting yang akan dicatat oleh sejarah bangsa Indonesia.” Catat! Pidato itu pun bersejarah.

Baca juga:  Panggilan Jiwa Kaum Jurnalis

Bosan mengingat pidato-pidato Soeharto? Nah, kita berikan kutipan pidato Hamka, tokoh penting dan besar di pendirian MUI. Beliau mengatakan: “Badan majelis ulama telah berdiri, mau tidak mau kita telah terlingkung di dalamnya. Pemerintah mendekati kita, tujuan kita ialah kebahagiaan Tanah Air, bangsa dan teguh berurat akarnya agama Islam di negeri kita ini. Kita tidak bisa mundur lagi. Mundur artinya malu, maju artinya hilang atau terbilang.” Pidato diucapkan di Jakarta masa 1970-an.

Pembaca mungkin merasa berada di Padang masa lalu bila mengingat pilihan diksi Hamka. Pidato itu bersejarah. Catat dan pelajarilah! Orang-orang belum pernah membaca buku berjudul Ulama dan Pembangunan pantas dikasihani gara-gara telah abai sejarah, tak membaca pidato-pidato Soeharto, Hamka, Mashuri, Ali Moertopo, Mukti Ali, Amir Machmud, Idham Chalid, M Panggabean, dan lain-lain.

Sejarah itu diperingati dengan Sayembara Karya Tulis Majelis Ulama Indonesia bermaksud “memperingati 10 tahun usia Majelis Ulama Indonesia, menyongsong 40 tahun Hari Kemerdekaan RI.” Pengumuman dimuat di Tempo, 16 Februari 1985. Terpujilah MUI, “lolos” dari ingatan stempel halal dan fatwa! MUI di alur keaksaraan demi Indonesia. Kita wajib mencatat ikhtiar MUI memajukan keaksaraan. Lomba bertema: “Meningkatkan Pendalaman Beragama dalam Melestarikan Pembangunan Nasional, sesuai dengan Cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.” Tema memang terlalu Orde Baru.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Haul Nurcholish Madjid (9): Percik-percik Pemikiran Cak Nur tentang Teologi Islam

Hadiah bagi para pembuat tulisan terbaik: piala dari Presiden RI Soeharto, Menteri Agama Munawir Syadzali, Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam, Menteri Sosial Nani Soedarsono, Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah, Menko Polkam Soerono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto, Menteri Penerangan Harmoko, Menteri Pemuda dan Olahraga Abdul Gafur. Hadiah lain cukup membahagiakan: diongkosi naik haji dan tabungan. Kita harapkan orang-orang tak lagi berceloteh sembarangan bila mengingat MUI. Pada 2020, kita berdoa bersama agar MUI mau mengadakan lomba menulis, tak perlu hadiah-hadiah mewah. Tema jangan lagi pembangunan nasional atau revolusi mental. Kita sudah bosan. Begitu.

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top