Penulis Kolom

Penggerak di Komunitas Pegon untuk mendokumentasi, meneliti, dan mempublikasi khazanah pesantren di Banyuwangi. Bisa ditemui di akun Facebook Ayunk Notonegoro

Syair Politik NU dari Surabaya Mengajak Saling Menghormati dan Bersatu

Politik itu gembira. Kredo itu telah lama diajarkan sekaligus diamalkan. Setidaknya bisa dilihat dari cara kampanyenya. Bukan dengan hoaks. Apalagi dengan caci maki. Sejak dulu, para kiai mengajarkan kampanye dengan menganggit syair. Mendendangkannya dengan syahdu.

Berikut ini adalah contohnya. Syair “Perjuangan Pilihan Umum lan Isyarah Simbol Nahdlatul Ulama” karya Kiai Muhammad Imam dari Ranting NU Wonokromo Tengah, Surabaya. Syairnya sarat nilai pendidikan. Tak melulu ajakan kampanye, tapi juga imbauan untuk menyukseskan pemilu hingga menjaga persatuan. Ini contohnya:

“Dulurku Islam pada sedaya
Kang wajib milih enom lan tua
Senajan bujang utawa randa
Cukup umure wolu las nyata

Lanang lan wadon kang gate’ake
Ganjaran gedi marang awane
Sing sapa wonge nyepeleake
Dusane gedi marang pengerane”

Pada penggalan syair lainnya, juga ada ajakan untuk tak saling olok. Karena saling olok hanya melahirkan permusuhan dan dosa.

“Lan aja sampe’ olok-olok’an
Salah dadi den dadi gepu’an
Dilarang banget ing ayat Qur’an
Dusane gedhe marang pangeran”

Perhatikan pula bagaimana cara para kiai mengajak memilih. Tak ada nada menghina.

“Jak sampai lali marang simbole
Senajan akeh munggah warnane
Gambare jagad iku tandane
Rupane bunder ana tampare”

Demikianlah seharusnya berpolitik. Menggembirakan. Tak perlu saling memprovokasi. Tunjukkan saja prestasi calonmu.

Baca juga:  Teladan Akhlak Kiai Abdul Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri

“Zaman sak niki kudu ngawasi
Tuture guru kudu sing titi
Jok sampek kene’ provokasi
Songko liyane organisasi”

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top