Sedang Membaca
Syair Politik NU dari Surabaya Mengajak Saling Menghormati dan Bersatu
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Syair Politik NU dari Surabaya Mengajak Saling Menghormati dan Bersatu

Ayung Notonegoro

Politik itu gembira. Kredo itu telah lama diajarkan sekaligus diamalkan. Setidaknya bisa dilihat dari cara kampanyenya. Bukan dengan hoaks. Apalagi dengan caci maki. Sejak dulu, para kiai mengajarkan kampanye dengan menganggit syair. Mendendangkannya dengan syahdu.

Berikut ini adalah contohnya. Syair “Perjuangan Pilihan Umum lan Isyarah Simbol Nahdlatul Ulama” karya Kiai Muhammad Imam dari Ranting NU Wonokromo Tengah, Surabaya. Syairnya sarat nilai pendidikan. Tak melulu ajakan kampanye, tapi juga imbauan untuk menyukseskan pemilu hingga menjaga persatuan. Ini contohnya:

“Dulurku Islam pada sedaya
Kang wajib milih enom lan tua
Senajan bujang utawa randa
Cukup umure wolu las nyata

Lanang lan wadon kang gate’ake
Ganjaran gedi marang awane
Sing sapa wonge nyepeleake
Dusane gedi marang pengerane”

Pada penggalan syair lainnya, juga ada ajakan untuk tak saling olok. Karena saling olok hanya melahirkan permusuhan dan dosa.

“Lan aja sampe’ olok-olok’an
Salah dadi den dadi gepu’an
Dilarang banget ing ayat Qur’an
Dusane gedhe marang pangeran”

Perhatikan pula bagaimana cara para kiai mengajak memilih. Tak ada nada menghina.

Baca Juga

“Jak sampai lali marang simbole
Senajan akeh munggah warnane
Gambare jagad iku tandane
Rupane bunder ana tampare”

Baca juga:  Inilah Kisah Gus Dur Kecelakaan Bersama Kiai Wahid

Demikianlah seharusnya berpolitik. Menggembirakan. Tak perlu saling memprovokasi. Tunjukkan saja prestasi calonmu.

“Zaman sak niki kudu ngawasi
Tuture guru kudu sing titi
Jok sampek kene’ provokasi
Songko liyane organisasi”

Lihat Komentar (0)

Komentari